SDE #1 : Kita Berbeda, Mampukah Kita Bersatu ?

tumblr_m64l767Dgi1qil6vu

Cinta hadir bukan hanya karena persamaan, namun perbedaan. Ia diciptakan bagai jembatan, menghubungkan mozaik-mozaik perbedaan ke dalam satu rangkaian keutuhan. 

Itulah kegundahan hati yang dialami daun, remaja lelaki yang baru saja memasuki tahun ketiganya di perkuliahan. Masa-masa ospek setahun yang lalu, ia turut menjadi andil di dalamnya. Seperti hal-nya seorang manusia biasa, ia pun jatuh cinta pada pandangan pertamanya kepada adik kelasnya. Ya, namanya Embun.

Hari-harinya dipenuhi dengan bayang-bayang kesejukan wajah embun. Pagi, siang, dan malam, embun terus berputar-putar dalam angannya. Beberapa sahabat dekatnya pun melihat perubahan yang aneh pada daun yang tiba-tiba suka melamun di tengah-tengah padatnya aktivitas organisasi yang dilakukannya. Kepada sahabat dekatnya, ia begitu menutup rapat-rapat perasaan itu. Sekalipun kepada keluarganya. Ia memilih satu jalan, cinta dalam diam.

Bunda Pohon, adalah orang terdekat daun. Seringkali daun mengungkapkan curhatan-curhatannya kepada bunda-nya. Ya, daun telah menjadi yatim semenjak berusia 6 tahun. Ayahnya meninggal saat berniat menjemputnya di sekolah. Peristiwa itulah yang membuatnya menjadi seorang yang study oriented. Hanya prestasi terbaiklah yang akan mampu membangkan arwah ayahnya di sana. Serta menentramkan hati ibundanya di rumah. Tak pernah sekalipun ia jatuh cinta sebelumnya, karena tersibukkan oleh aktivitas akademiknya.

“Kamu kenapa nak? Akhir-akhir bunda melihatmu tak seperti daun yang biasanya..”

“Entahlah bunda, aku tak mampu mengatakannya.  Mungkin aku butuh banyak istirahat akibat padatnya aktivitas perkuliahan”

“Yakin tidak apa-apa?”tanya bunda berusaha meyakinkan

“Tidak apa bun,” ujar daun seraya masuk ke kamarnya.

Sementara itu di dalam kamarnya, daun pun merenung kembali. Ah, aku masih semester 5. Masih lama waktu itu tiba, tentu aku tak mau mengecewakan ayahanda dan ibunda. Namun, mengapa semakin kuat aku ingin menghapusnya semakin dia muncul dalam angan ini?

Itulah daun. Mungkin ia merasa gersang karena tak pernah seumur hidupnya jatuh cinta. Ia merasa kering karena tak ada gadis manis yang membasahinya. Atau merasa panas, karena tak ada perempuan yang mensejukkanya. Sementara sekarang hadirlah embun, yang dari jauh dia memandang telah memberinya kesejukan.

Dan jurang perbedaan itu semakin menghantuinya. Daun, sosok yang lusuh, mulai menghitam kulitnya akibat terik panas mentari di siang hari, dan seringkali menggigil kedinginan di malam hari. Sementara embun, gadis manis yang ke manapun selalu menebar kesejukan. Hadirnya di pagi hari, kala ia berlari di bawah mentari pagi, membuat daun seringkali terpaku diam oleh pesonanya.

Tak heran selama ini ia hanya berani melihat dari kejauhan. Ya, hanya sebatas dari jauh. Daun terlalu takut tuk mendekatinya.

………………………………………………………………………………………..

3 Juli 2014

23.11

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *