Gadis Berkerudung Merah (3)

red_by_mulFasli

Rentetan aksara yang tak pernah sampai tercatat rapi dalam bukuku. Seringkali aku membukanya sambil tersenyum sendiri. Di sana masih tersimpan puisi-puisi masa lampauku. Ada pula tulisan cerpen-cerpen masa SMP dan SMA dulu. Ada juga surat cinta yang tak perah sampai, ada pula kumpulan kutipan-kutipan cinta dari buku yang pernah kubaca. Semua masih tersimpan rapi dalam almariku. Tak satupun yang terselip. Ya, kumpulan kertas ini menjadi saksi akan lahirnya hobiku yang kutekuni hingga saat ini.

“Dooorrrr… mikir atau ngelamun?” tepuk Bobby di sebelahku. Yang lainnya tertawa. “Eh… oh… aduh.. kamu ngagetin aja”, ujarku gagap. “Lagi mikirin tahun ketiga, jangan2 elu udah mau nikah bro, hahaha…”tambah Bobby. Dan yang lain pun tertawa riuh.

Aku pun menarik nafas panjang. “Hmmm….jadi begini teman-teman. Setelah tadi berpikir cukup panjang, dan mengingat masa lalu saya dahulu, Insya Allah tahun ketiga saya ingin fokus di bidang kepenulisan. Mimpi saya adalah buku saya segera terbit di tahun ini. Jadi, saya akan benar-benar fokus. Saya tinggalkan kehidupan organisasi saya. Mungkin sekali tempo saya akan tetap bantu-bantu di kepanitiaan. Namun, saya lebih suka dalam kondisi tidak terikat sebagai staff ataupun kabinet. Yah, inilah jalan yang saya pilih,”ujarku mantap. Semua bertepuk tangan menyambut mimpiku. Sekilas aku melihat mbak dan mas kabinet kurang ikhlas. Hmm, ada apakah gerangan dengan mereka. Bukankah ini jalan hidupku? Bukankah ini mimpi yang kupilih? Mungkin terlihat ekstrem manakala bisa saja nanti aku menghilang dari dunia kampus. Lebih disibukkan dengan pena yang menari. Atau layar laptop yang terus menyala di depanku?

“Kamu yakin dek dengan pilihanmu?” tanya Mas Rahman berkerut

Suasanana hening tiba-tiba. Sementara aku sendiri tiba-tiba merasa tak nyaman dengan kondisi dan situasi terus menerus seperti ini.

“Insya Allah mas, adakah sorot mata saya atau nada bicara saya yang terlihat kurang meyakinkan mbak mas?” tanyaku

“Ya, kami hanya ingin bertanya saja kok dek, kalau kamu sudah yakin dengan pilihanmu, ya jalanilah dengan sepenuh hati, dan jangan lupa tetap kembali ke departemen ini jika nanti kamu dibutuhkan entah sebagai panitia, atau sekedar nanti para staff baru berkonsultasi,”seloroh Mbak Faleshia tiba-tiba.

Yak, dan semua pun telah menyebutkan mimpi-mimpinya. Bersamaan dengan itu, makanan yang kami pesan datang. Seperti biasa naluri kemanusiaan kami muncul. Bukan kemanusiaan, tapi “kemanusiaan”. Dalam sekejap, nasi 2 bakul sudah habis terbagi di masing-masing piring. Tak sampai 30 menit semua telah habis. Mas Rahman cuman mengelus dada melihat cara kami makan dan terlebih melihat tagihan yang menggunung. Siapa sangka ternyata Mas Rahman hari itu membayari kami semua.

“Seharusnya mas bilang kalau dibayari, kasihan mas jadi bayarnya mahal. Kita pesannya tadi kan sesuai selera kita, mahal deh jadinya,”ujar Nina.

“Haah, aku tidak bicara ke kalian kalau mau aku bayari harapannya biar kalian tidak pesan yang aneh-aneh karena prinsip kalian pasti selagi dibayari kenapa nggak, tapi ternyata jadi gini, hufff” ujarnya menggerutu.

Mas Rahman menerima struk yang paling berharga dalam hidupnya, dan barangkali itu akan menjadi kenangan tersendiri. Apalagi tertulis angka cantik di kertas mungil tersebut, Rp999.999,00. Kami pun tertawa dan menawarkan bagaimana kalau bayar sendiri-sendiri sesuai porsinya. Namun Mas Rahman menolaknya. “Ini terakhir kali ya..” ujarnya tertawa.

Terik mentari siang membuat kami ingin cepat-cepat kembali pulang. Acara makan-makan selesai, saatnya kembali pulang. Sementara kami sibuk dengan motor masing-masing, Mas Reza menghampiriku. “Dek, habis ini kamu kosong nggak?”, ia bertanya dengan tatapan sedikit serius.

“Hmmm, insya Allah ga ada kegiatan sih mas aku, kenapa emangnya?”tanyaku

“Kabinet ingin bicara dengan kamu, sore nanti bisa nggak kira-kira?”tanya Mas Reza

“Wah, ada apa nih mas ? hehehe.. Insya Allah saya kosong kok,”jawabku.

“Ya udah, nanti datang aja ya ke sekretariat dek, ada banyak hal penting yang ingin kami bicarakan,”ujar Mas Reza tersenyum.

Aku sendiri aja mas? Nggak sama teman-teman staff yang lain?”tanyaku

Mas Reza mengangguk, dan aku pun hanya mengangguk pelan, sambil bertanya-tanya. Ada apakah gerangan? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan? Aku berpikir keras berusaha mengingat satu persatu proker yang kupegang dan setelah ku ingat-ingat sudah selesai semua, dengan pencapaian yang cukup memuaskan.

Ah, sudahlah, biarlah waktu yang menjawabnya. Bergegas aku pulang menuju kos-kosanku. Usai melaksanakan dhuhur, aku merebahkan diri di tempat tidur. Lelah rasanya, mata ini terpejam. Dalam tidurku aku tak bisa pulas, masih dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang pertemuan nanti sore. Ada apakah kiranya?

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

3 Responses

  1. lindawidia says:

    wah saya kira isinya tentang si gadis berkerudung merah :p . semangat ya faiz, semua memang punya jalannya masing-masing. saya tunggu bukunya deh (first edition gratisan ya :p)

  2. hesti says:

    Kakak apa ada lanjutannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *