Catatan Ramadhan #3 : Pusaran Ekonomi Ramadhan

Fenomena Ramadhan selalu menjadi hal yang dinanti oleh ummat muslim setiap tahunnya. Tidak hanya ummat islam, namun bahkan seluruh manusia di dunia. Bagi ummat muslim, Ramadhan merupakan sarana dan kesempatan untuk beribadah sebanyak-banyaknya, sebab di bulan inilah amal ibadah kita dilipatgandakan. Bahkan terdapat malam qadar yang merupakan malam di mana ibadah kita pada malam itu pahalanya lebih baik dari jika kita 1000 bulan atau 83 tahun lebih melakukannya. Juga terdapat keutamaan-keutamaan lainnya, bahkan dalam suatu hadis pun dikatakan bahwa tidur saja dinilai sebuah ibadah, walaupun hadis tersebut berpredikat dhoif (lemah), namun hal itu cukup menjadi bukti bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan.

Tidak hanya ummat muslim saja yang menantinya, bahkan mereka yang nonmuslim pun menantikan ramadhan. Mengapa demikian? Ya, sebagaimana yang kita tahu, di Bulan Ramadhan di mana sebagian besar manusia berpuasa, yang seharusnya warung-warung makan pasti akan sepi pembeli, waktu buka mereka yang terbatas saat sahur dan buka puasa saja, justru kekhawatiran seperti itu tidak akan terjadi. Setiap datangnya ramadhan intensitas transaksi dan aktivitas ekonomi cenderung meningkat. Tentunya akan timbul pertanyaan, mengapa terjadi hal demikian?

Isyarat dari Rasulullah 14 Abad yang lalu

“Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar balasannya adalah surga, Ramadhan adalah bulan pertolongan dan Ramadhan adalah bulan di mana kaum Muslimin ditambahkan rezekinya.” (HR Ibn Huzaimah).

Melalui hadist di atas seolah-olah Rasulullah telah meramalkan dengan jitu bahwa kaum muslimin akan mengalami pertumbuhan dan peningkatan ekonomi dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Benarkah hal tersebut? Mari kita lihat fenomena-fenomena di bawah ini:

Fenomena Ramadhan 1435 H

Pertama konsumsi masyarakat. Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), konsumsi masyarakat Indonesia meningkat sekitar 30% – 40% dibandingkan dengan bulan biasa. Hal itu diakibatkan adanya Tren Konsumsi Ramadhan. Ini merupakan fenomena yang menguntungkan baik bagi produsen dan juga konsumen. Anehnya, kenaikan angka konsumsi tersebut terjadi bersamaan dengan adanya inflasi yang cukup tinggi dari beberapa bahan pokok. Yakni pada cabai rawit yang naik hingga 50 persen, bawang merah naik 28 persen, daging ayam naik 15,7 persen, dan telur ayam ras naik sebesar  9,01 persen, serta barang-barang lainnya sekitar 4% sampai 11%.

Kedua perilaku masyarakat yang cenderung glamour dalam membelanjakan uang. Baik barang primer maupun sekunder selama ramadhan cenderung meningkat. Pada daerah pedesaan, budaya masyarakat di sana cenderung membelanjakan uangnya secara besar-besaran di Bulan Ramadhan. Fenomena di sana yang sering terjadi adalah masyarakat menabungkan uangnya pada bulan bulan sebelumnya, kemudian “menghabiskannya” di Bulan Ramadhan. Mendadak mereka yang awalnya pelit, menjadi begitu dermawan dalam berbagi kebahagiaan selama Bulan Ramadhan.

Ketiga, sektor nonkomersial yang tinggi. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, bahwa barang siapa berinfak di bulan suci Ramadhan maka akan dilipatgandakan pahalanya menjadi 10 kali lipat bahkan hingga 700 kali lipat lebih besar dari pahala bulan biasa. Pada sektor ini, sumbangan yang dihimpun berupa zakat, infaq, dan shadaqah yang berhasil dihimpun oleh Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Ummat, Baitul Maal Muamalat, serta lembaga ZIS lainnya pada bulan Ramadhan bisa mencapai empat hingga lima kali perolehan bulan-bulan biasa. Sumbangan tersebut tidak hanya berupa uang saja, namun juga berupa barang seperti baju, sarung ataupun yang lainnya. Hal itu dapat dikatakan purchasing power atau daya beli umat pada bulan Ramadhan tentu bertambah tinggi minimal dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya.

Multiplier Effect

Multiplier Effect atau dikenal dengan efek ekonomi berantai pun juga terjadi di Bulan Ramadhan ini.

Pengertian multiplier effect ini sendiri merupakan faktor yang mengukur seberapa banyak endogen sebagai respons terhadap perubahan beberapa variabel eksogen. Contohnya perubahan di satu unit variabel x menyebabkan perubahan nilai variabel y sebesar M. Maka M inilah disebut dengan multiplier effect.

Bulan ramadhan di sini digambarkan sebagai variabel x, sedangkan variabel y merupakan bulan ramadhan, sedangkan variabel M merupakan keuntungan para pedagang. Hal itu tercermin pada transaksi kebutuhan sehari-hari mulai dari pangan, sandang hingga kebutuhan tersier menyebabkan lahirnya efek tersebut. Sehingga ekonomi riil akan terpacu untuk meningkatkan laba, dan para pedagang pun tentu diuntungkan dengan harga yang meningkat, sehingga perputaran uang pun semakin cepat. Apalagi fenomena mudik, ketika pulang kampung mereka yang berasal dari kota akan membagi-bagikan uang kepada keluarganya, sehingga uang yang beredar di pasaran pun semakin banyak dan perputaran uang semakin cepat.

Ramadhan : Pusaran Penggairah Ekonomi

Gairah ekonomi masyarakat Indonesia pada khususnya di Bulan Ramadhan begitu tinggi. Khususnya UMKM, karena mendadak pada bulan Ramadhan banyak UMKM dadakan yang tiba-tiba hadir. Peran strategis pemerintah di sini adalah dapat memahami gairah ekonomi ini dengan menyediakan fasilitas mereka untuk berjualan. Sehingga gairah ekonomi tersebut makin terasa dan dan kehadiran mereka tidak semrawut karena terkoordinasi dan tertata dengan baik.

Momentum ramadhan kali ini semoga bisa menjadi sarana bagi kita semua untuk evaluasi dan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Baik keuntungan dalam hal duniawi maupun ruhawi. Karena ramadhan tak hanya sebagai penggairah dalam ibadah, namun penggairah dalam meningkatkan keuntungan dan aktivitas perekonomian.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Ahmad S. says:

    Berapa persen keuntungan negara ind0nesia kalau d bulan ramadhan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *