Catatan Ramadhan #4 : Indonesia, maaf “Aku” Kecewa Padamu

mnunduk

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu
Masih ingat setahun lalu, saat aku pergi darimu, banyak di antara kamu yang menangis, menyesal. Merasa tidak memuliakan kedatanganku, merasa tidak mengagungkan kehadiranku, bahkan merasa menyianyiakan diriku. Banyak di antara kamu bahkan yang telah menyambutku dengan sepenuh jiwa dan raga tetap menangis, merasa belum mampu menjadi tuan rumah yang baik atas singgahku kepadamu. Apalagi mereka yang menyambutku asal-asalan, dan kala terakhir mereka mendeklarasikan diri telah meraih kemenangan. Ah, kemenangan macam apa memang yang kau raih, sementara untuk memenangkan dan meluluhkan hatiku saja kau tidak bisa, apalagi kau meluluhkan Tuhan. Pada waktu itu aku juga sempat kecewa kepada kalian, namun hatiku luluh melihat air mata penyesalan sebagian kecil di antara kalian yang merasa kehilangan. Bukankah Tuhan Maha Pengampun atas segala dosa-dosa, kesalahan dan penyesalanmu?

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu
Sejak dua bulan yang lalu kau lantunkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah untuk menyambutku. Dalam doa itu tersebut namaku bahwa kau begitu merindukan ingin bertemu denganku, bahkan kau meminta berkah saat bertemu dua temanku yang menyambangimu sebelumku. Rasanya saat aku tahu hal itu, begitu senang, dan bersemangat menyambangimu, dan siap menjadi pendampingmu. Seakan dosa-dosamu kepadaku setahun yang lalu telah kulupakan dan takkan kuungkit-ungkit lagi. Melihatmu begitu antusias menyambutku, maka aku pun tak kalah bersiap untuk hadir di hadapanmu.

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu
Kala rembulan mengisyaratkan kedatanganku, masjid-masjid langsung penuh sesak olehmu. Kamu berlomba-lomba menyambutku, seakan ingin menjadi manusia pertama yang terkena sentuhan kasihku. Suara-suara ayat-ayat kauniyahNya pun bergema menyambutku. Mendadak kau pun menjadi kaya karena kau begitu bersemangat membagikan hartamu. Malam tak lagi sepi karena banyak diantaramu yang terjaga demi mendapatkan cinta kasih kemuliaanku. Ah, melihat fenomena seperti ini, sepertinya aku ingin seumur hidup berada bersamamu. Sebab antara aku dan kamu saling membutuhkan, saling mencintai, dan saling berbagi kemuliaan.

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu.
Ternyata kedatanganku mungkin terhitung terlambat, karena kau punya tamu lain yang begitu kau puja dan kau agungkan dan telah datang sebelumku. Tamu yang satu dari negeri nun jauh di sana, di amerika latin. Sementara tamu satunya berasal dari negerimu sendiri, sebuah perhelatan akbar demokrasi di negerimu. Bagiku tak masalah kau mendua, men-tiga, meng-empat, atau seterusnya, karena mereka pun pasti mempunyai keutamaan sama sepertiku. Karena aku yakin, kehadiran mereka pasti justru semakin menyemarakkan dirimu, dan mampu menjadi partner yang setia bersamaku. Aku pun yakin, kau telah dewasa, kau telah rindu, kau telah menantiku sejak setahun yang lalu, maka sekalipun kau mendua atau lebih, aku tetap pertama di hatimu.

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu.
Pada nyatanya, kian hari aku semakin teracuhkan olehmu. Jika dahulu kau hanya terjaga untukku, kini kau mendua untuk mereka, dan entah kau justru jauh lebih mengagungkan mereka. Ah, ekspektasiku setahun yang lalu ternyata salah untuk kesekian kalinya, bahkan jauh lebih parah dari yang terbayangkan olehku. Usai tarawih kau lebih memilih ke tempat-tempat nonton bareng untuk menunggu tamu itu lewat cengkrama dengan kawanmu, dibandingkan memilih menunggu dengan tadarrusmu. Malam-malamku tak lagi kau rindu kepadaNya, namun kau isi dengan sorak-sorai dukunganmu. Bahkan sesekali kau lontarkan “kata-kata mutiara” kepada barang tontonanmu, sebagai wujud fanatismemu kepada mereka. Subuhku kau sambut dengan dengkuran lelahmu setelah semalam kau lelah bercinta dengan nona-nona semu amerika latin. Siangku kau isi dengan ibadah, namun ibadah pejam matamu yang mengisiku. Sore menjelang bukamu kau iringi aku dengan musik-musik di jalananmu. Maghrib saat buka, kau isi dengan merajut ukhuwah dengan kawan-kawanmu, namun seringkali tarawihku menjadi tumbal atas “ukhuwah”mu itu. Dan siklusi itu nyaris berulang tiap harinya, tidakkah aku semakin merasa sakit tak terkira?

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu.
Aku datang padamu, dengan jiwa yang belum ternodai, dan penuh kesucian. Masih ingat dahulu, kau semakin menyucikanku dengan kalimat-kalimat thoyyibahmu. Namun, lagi-lagi karena tamu-mu yang lain kau mengotoriku, bahkan dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak sedih diriku, manakala aib saudaramu sendiri, sesama muslim kau umbar-umbar dengan begitu bangga. Seolah katamu itu konsekuensi dari sebuah kompetisi. Ghibah menjadi hal yang biasa bagimu. Sementara kreativitasmu bukan untuk menghiasiku dengan keindahan, namun justru untuk mengotori saudaramu. Aku masih ingat, Rasulullah pernah bersabda, bahwa Tuhan pun kan menutup aib kita jika kita mau menutup aib-aib saudara kita. Namun apa yang kau lakukan? Kau justru menjadi gudang pengumbar aib saudaramu. Bahkan ada yang berdalih jika itu jihadmu demi mempertaruhkan eksistensi islam dalam pandanganmu. Padahal setahuku tak pernah para pendahulu kita mempertahankan sebuah kebaikan dengan melakukan sejuta keburukan. Ah, tidak puaskah kau mengotoriku dengan aib yang kau umbar di mana-mana. Media sosial yang seharusnya penuh akan kemuliaanku, berubah menjadi sarana menjelek-jelekkan saudaraku. Ingat kawan, mereka muslim sama sepertimu. Mereka pun tak sempurna, sama sepertimu. Mereka punya niat baik tuk negeri ini, sama sepertimu. Namun mereka berani maju dan bertindak nyata untuk negerimu, itu yang TIDAK SAMA sepertimu, yang sibuk menghabiskan waktu tuk menggunjing saudaramu sendiri, semaentara aku yang hadir dengan penuh kemuliaan, dengan penuh rahmat dan ampunan dari Tuhanmu justru kau acuhkan.

Indonesia, maaf “aku” kecewa padamu. Ah betapa kecewanya diriku, maka izinkan aku bersyair untukmu.

Tak lagi kudengar lantunan ayat suci al-Quran
Yang kudengar justru sorak sorai supporter militan

Tak lagi kudengar dzikir menyebut asma Tuhan
Yang kudengar hanyalah aib dan gunjingan yang bertebaran

Tak lagi kudengar tadarrus didengungkan
Yang kudengar hanyalah merdunya dengkuran

Tak lagi kudengar masjid terisi oleh pemuda yang meramaikan
Yang kudegar hanyalah kaum tua yang berhamburan

Tak lagi kudengar senja bertasbih di Rumah Tuhan
Yang kudengar hanyalah kawula muda ngabuburit hingga maghrib nyaris terlalaikan

Ah, sebenarnya aku yang tak dengar, atau aku terlalu tuli untuk mendengar?

Indonesia, maaf “aku” kecewa kepadamu.
Ini baru awalan, baru hari ke-8 aku bersamamu, namun telah banyak luka yang kau torehkan kepadaku. Jika saja bisa aku ingin meninggalkanmu lebih awal. Namun tentu Tuhan tak mungkin mengizinkan. Jika saja kiamat bisa dipercepat, mungkin aku lah yang akan berada di garda terdepan tuk berdoa kepadaNya agar esok hari kiamat didatangkan. Namun, sekali lagi, bahwa Tuhan Maha Pengampun, Tuhan Maha Pemaaf, maka lagi-lagi walau dengan berat hati aku harus mengikhlaskan penyambutanmu yang telah menodai kesucian yang kubawa. Lagi-lagi aku harus tetap menjaga eksistensi kemuliaan yang aku bawah, walau telah kau gerogoti dengan aib yang kau umbar.

Indonesia, maaf “aku” kecewa kepadamu.
Masih ada 21 sampai 22 hari untuk membuktikan kerinduan yang dulu kau agungkan. Masih ada kesempatan untuk kembali memuliakanku. Masih ada kesempatan tuk bertaubat kepadaNya. Ini baru awal, mungkin telah banyak kekecewaan yang telah kaulahirkan. Mungkin terlalu dini aku melakukan penilaian. Ingatlah, jika ada tiga mozaik yang kau perebutkan di tiap paruh waktuku. Mozaik rahmat Tuhan, mozaik pengampunan, dan mozaik pembebasan dari neraka. Dan kau masih di awal, maka sudahkah kau bersiap tuk meraih mozaik itu?

Indonesia, maaf “aku” kecewa kepadamu.
Cukup… cukup sudah kau menduakan bahkan men-tigakan diriku. Apakah kau lebih memilih kedua tamumu daripada diriku yang jelas-jelas tersebut dalam kitab yang kau pegang di tanganmu? Sementara aku masih memiliki berjuta cinta untukmu, apalagi nanti kala malam kemuliaan itu turun kepadamu di akhir masaku. Cukuplah segala aibmu mengotoriku. Cukuplah segala sorak soraimu membuat telingaku tak kuat. Maka isilah sisa-sisa hariku ini dengan cinta tulus darimu. Karena sesungguhnya….

Aku ingin kau kembali memuliakanmu
Sebagaimana aku memuliakan dirimu.

Aku ingin kau kembali mencintaiku,
Sebagaimana aku selalu mencintaimu.

Aku ingin pagiku kembali ditemani dengan kesejukan dzikirmu,
Sebagaimana aku memberikan kesejukan udara pagi kepadamu

Aku ingin siangku melihatmu bertebaran di bumi Allah
Sebagaimana TuhanMu memerintahkan lewat kitabmu

Aku ingin soreku kau tunggu saat indah itu dengan keindahan tilawahmu,
Sebagaimana aku hadirkan siluet kemerahan senja di ufuk langit biru

Aku ingin malam-malamku kembali ditemani oleh lantunan tadarrusmu
Sebagaimana aku menemanimu dengan malaikat-malaikatNya

Aku ingin mengawali kebesamaan ini dengan rahmat dariNya,
Sebagaimana kau awali dengan semangat yang membara

Aku ingin berjalan kencang bersamamu menuju ampunanNya,
Sebagaimana kencangnya air matamu kala memohon ampunanNya

Serta aku ingin mengakhiri kebersamaan ini dengan membawamu terbebas dari api neraka,
Sebagaimana kau membawaku menuju kemenangan yang nyata

_________________________________________________________________________________________

Aku, Kamu, Kita
Sepenuh Cinta
Mushonnifun Faiz S

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *