SDE #2 : Senyum Kegetiran

tumblr_m64l767Dgi1qil6vuSenyummu, sederhana dan kurindukan. Namun mengapa tak selaras dengan yang kulukiskan

Jam 9 malam. Bunda Pohon berulang kali mengetuk pintu daun, namun tak ada jawaban. Ah, barangkali sudah tidur. Sup ayam yang berniat ia hidangkan untuk putera-nya semata wayang itu pun akhirnya tak lagi berasap. Hmm, mungkin dia terlalu lelah dengan hari ini. Sementara jus wortel apel kesukaan puteranya itu tak lagi dingin. Bunda pun kembali menyimpannya. Matanya pun berat, lelah setelah seharian ia beraktivitas. Beliau masuk ke kamarnya, dan matanya terpejam.

Sementara itu, tanda-tanda kehidupan di kamar satunya ternyata masih ada. Malam itu, Daun di kamarnya ia tenggelam dalam perenungannya. Ia tahu melamun seperti itu bukanlah dirinya, yang selama ini selalu sibuk dengan buku-buku kuliahnya. Namun malam itu, buku tak lagi menjadi sesuatu yang menarik baginya. Tatapannya terus menerawang ke langit-langit kamarnya. Dan dia terkejut tiba-tiba saat di depannya ada embun berdiri tersenyum, namun ternyata itu hanyalah ibunya yang masuk memastikan bahwa daun baik-baik saja. Aih, kalau kata Andrea Hirata, dia terkena penyakit gila nomor 22, cinta yang berubah menjadi halusinasi. 

Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul dua. Daun masih juga beranjak dari kasurnya. Kali ini tangannya bergerak. Melukiskan sosok wajah perempuan dengan rambut hitam yang memanjang. Alisnya tebal. Matanya berwarna coklat. Hidungnya tak mancung, tak bisa juga dikatakan pesek. Ada lesung pipit yang membuatnya semakin aduhai manakala senyum terkembang di wajahnya. Dan senyumnya, ah, berkali-kali sketsa senyum itu dihapusnya dengan penghapus miliknya. Terlalu sulit untuk di sketsakan karena begitu indahnya. Di telinganya, ia gambarkan melati putih yang menghiasi. Maka sempurna!

Kini di hadapannya tergambarlah sosok perempuan yang didambakannya. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Lamat-lamat Daun mengamati. Melihat ekspresi wajahnya. Ah, ada yang ganjil. Senyumnya. Ya, senyum itu bukalah senyum khas dari embun. Senyum yang mungkin terlalu mengerikan. Senyum yang membuat kantuk daun mendadak hilang, dan ingin ia memperbaikinya. Yah, senyum itu, sebuah senyum kegetiran.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *