SDE #3 : Ketika Tatap Menjadi Kata

tumblr_m64l767Dgi1qil6vuPepatah bilang dari mata turun ke hati. Tapi bagiku  dari mata turun ke kata.

Begitulah pepatah berkata. Bagiku, sudah bukan zamannya lagi pepatah “dari mata turun ke hati”. Ya begitulah, ketika mata menangkap pesona, hati berbicara, rasa cinta bergelora. Cukup sampai di situlah rasa cinta. Ia hanya berputar-putar di ruang hati kita yang begitu kecilnya. Tanpa ada sebuah usaha, tiada kasat mata. Hingga dia pun tak tahu maksudnya.

Beda dengan manakala dari mata turun ke kata. Itulah cinta sebenarnya. Kau berani mengatakannya, walau dalam sapaan pertama. Tentu dalam abstraksi yang tak mungkin dimengerti olehnya. Barangkali hanya Dia dan dirimu saja yang mengerti, sekalipun resonansi cinta telah kau pancarkan dalam frekuensi yang sebegitu kecilnya.

Prinip seperti itulah yang diyakini Daun dalam memperjuangkan cintanya kepada Embun. Pagi nanti ia bertekad sekedar bertegur sapa dengan Embun, adik kelas pujaan hatinya.  Selepas malam yang melelahkan bersama sketsanya, ia pun terpejam. Masih dalam tidurnya ia bermimpi berjalan bersama Daun ke sebuah taman yang indah, mungkin itu surga. Namun di tengah kemesraan mereka, tiba-tiba tumbuhlah di sampingnya sebuah pohon, tinggi menjulang dengan cepat, seraya berkata, “Nak, bangun nak, udah jam 8 ini…”

Daun pun melompat dari tempat tidurnya. Siluet mentari di jendelanya sudah meninggi, hingga tak menyilaukan matanya lagi. Ia melihat hp-nya. Terlihat alarm-nya terus menyala. Seraya mematikannya. Terkaget-kaget ia, waktu telah menunjukkan pukul 8. Cepat-cepat ia keluar kamar, dan Bunda Pohon pun terkejut.

“Udah bunda ketok-ketok dari subuh, kamu nggak bangun-bangun,”sahut Bunda saat melihat Daun terlihat bersungut-sungut melihat bunda-nya.

Daun tak menjawab. Bergegas ia ambil handuk, dan cepat-cepat mandi. Ia baru sadar bahwa sebenarnya ia ada kuliah jam 8. Cukup 5 menit, dan sarapan bundanya ia abaikan. Terburu-buru ia bersalaman, mengecup bundanya, lalu pergi melesat dengan sepeda motornya. Bunda Pohon hanya mengelus dada melihat kelakuan anaknya tak seperti biasanya. Selalu bangun pagi dan tak pernah terlambat seperti ini.

Sementara itu di jalan Daun mengendarai motornya dengan penuh kesetanan. Speedometernya menyentuh angka 100. Ya, tapi hanya 3 kilometer pertama saja ia bisa berbuat seperti itu. Sesudah itu ia terjebak kemacetan. Ia melirik jam tangannya, Pukul 08.15. Ia hanya pasrah. Apalagi hari ini ada kuis, dan bayang-bayang nilai E ada di kepalanya.

Pukul 08.30. Daun tiba di kampusnya. Cepat-cepat ia memarkir motornya, dan berlari menaiki tangga. Kelasnya hari ini terletak di gedung lantai 4. Dengan napas terengah-engah ia berlari. Situasi kampus sepi menandakan semua kelas telah dimulai. Ia berlari. 10 meter di depannya terdapat kelas itu. Sedikit lagi. Ya, tinggal sedikit lagi dan sampailah ia di depan kelas.

Dengan hati-hati, Daun membuka pintunya. Terkunci! Ia coba sekali lagi dan tetap terkunci. Daun hanya pasrah, ia pun tak bisa mengikuti ujian. Ia terkulai lemas, dan berselanjar di kursi yang ada di depan kelas. Peluh keringatnya bercucuran dengan deras. Sementara pikirannya masih kalut, mengutuki diri sendiri yang tidur terlalu pagi. Dari kursi tersebut dia dapat melihat ke dalam kelas melalui jendela di sampingnya. Ia pun memberanikan diri menoleh ke dalam.

Dan KOSONG. Ya, kelas pun kosong. Daun masih tak percaya bagaimana mungkin dalam 30 menit ujian sudah selesai. Daun mengusap matanya berkali-kali memastikan ia tak sedang bermimpi. Dari jendela tampak benda-benda di kelas masih rapi, dan kelas tetap saja kosong. Ia melihat ada satu bendah putih menggantung di depan. Tulisannya “Kalender 2014”. Dan ada angka berwarna merah dilingkari. Oh.. ini Hari Minggu!

_________________________________________________________________________________________________

Daun bersungut-sungut meninggalkan kelasnya. Ia bingung harus tertawa, kesal, marah, atau menangis. Ditambah perutnya yang lapar, karena tak sempat menyantap sarapan Bundanya. Ia sendiri merasa bersalah tadi pagi sempat tak menampilkan kelakuan yang baik sebagai seorang anak kepada bundanya.

Dengan gontai ia menuruni tangga. Perjalanan dari lantai 4 ke lantai satu serasa jauh. Ia tak lagi bersemangat. Benar-benar konyol pagi ini. Ia berada di lantai tiga. Pelan-pelan ia turun dan tibalah dia di lantai dua. Dari situ ia melihat sepedanya teronggok sendirian di tempat parkir. Ia justru baru menyadarinya. Dengan gontai ia berjalan menuruni tangga ke lantai satu, dan terpanalah ia.

Lantai Satu.

Semilir angin pagi berembus pelan, disertai sinar mentari yang mulai terik bersinar. Cakrawala tampak membiru dihiasi putihnya awan. Pagi yang begitu indah, seindah sosok berambut panjang yang berdiri di tangga terbawah di depannya. Sepertinya ia sedang menuju ke atas. Daun pun terdiam, tak berani melangkah. Sementara gadis itu terus melangkah dan kian mendekat. Senyumnya terkembang saat melihat Daun ada di atas. Lesung pipitnya memerah. Matanya menunjukkan keramahan yang tak tertandingi. Hari itu ia memakai kemeja dengan  Sebelum gadis itu berkata, Daun pun memberanikan diri tuk menyapa, “Halo Dek… “. Embun pun menjawab, “Hai Kak, sedang apa Hari Minggu ke kampus?”

Dan benarlah… “Dari Mata turun ke Kata”

____________________________________________________________________________________________________

Rumah,

20.58

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *