Catatan Ramadhan #5 : Benang Merah Indonesia-Palestina

#PrayGaza #SaveGaza #SavePalestine #PrayForPalestina

Bagi sahabat yang aktif di twitter, tentu tak asing dengan hashtag di atas. Ya! Di tengah euforia kemenangan jerman atas brazil, di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi Indonesia, Israel laknatullah kemarin malam memporak-porandakan saudara-saudara kita di Gaza. Mirisnya, minim sekali kepedulian masyarakat dunia, khususnya Indonesia barangkali. Ya, lihat saja sekarang di televisi. Berapa stasiun TV yang menayangkan kondisi di Gaza sana. Mereka justru lebih tertarik menampilkan angka-angka prosentase Quick Count hasil pesta demokrasi Indonesia. Wahai Para Capres, Wahai Rakyat Indonesia, lupakah engkau akan jasa mereka kala mengakui Kedaulatan Indonesia?

Palestina, Kau yang Memulainya!

6 September 1944, sebuah momentum bersejarah terjadi. Pada waktu itu, Indonesia masih dalam penjajahan Jepang, setelah 350 tahun lamanya di jajah oleh Belanda. Perlawanan Indonesia telah terjadi di mana-mana. Aksi gerilya, diplomasi juga telah dilakukan dengan berbagai cara. Dunia Internasional tak terhitung sudah berkali-kali mengecam tindakan penjajah. Namun, pada waktu itu belum ada yang berani secara independen dan terang-terangan secara terang-terangan. Dan Palestina yang memulainya.

Ya, pada tanggal itu, Mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini melalui sebuah Radio di Berlin yang berbahasa arab mengucapkan selamat atas pengakuan Jepang kepada kemerdekaan Indonesia. Itu terjadi bahkan setahun sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Berita tersebut disiarkan melalui radio dua hari berturut-turut, disebar-luaskan, bahkan harianAl-Ahram yang terkenal telitinya juga menyiarkan. Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga mau untuk menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh.

Ada juga tokoh lain bernama Muhammad Ali Taher, saudagar kaya Palestina dengan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Maka mengalirlah simpati negara-negara seluruh dunia pasca peristiwa itu.

Masih juga terekam kuat dalam ingatan bagaimana ketika 10 Nopember 1945 Belanda memporakporandakan Surabaya, maka demonstrasi anti Inggris-Belanda langsung merebak di Timur Tengah, terlebih negara Palestina dan Mesir. Shalat Ghaib massal dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan, di berbagai masjid di Timur Tengah untuk mendoakan para syuhada yang gugur tersebut.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal Volendam milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Yang mencengangkan, mereka menggunakan puluhan kapal boat dengan bendera merah putih yang berkeliaran pesisir Port Said guna mengejar, menghalau dan melakukan blokade terhadap kapal-kapal perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal Volendam milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.Bagaimana rasanya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya? Bukti cinta mereka pada bangsa Indonesia. WartawanAl-Balagh pada 10/8/47 melaporkan, “Kapal-kapal boat yang dipenuhi warga Mesir itu mengejar kapal-kapal besar dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. Mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan kapal-kapal besar itu ke jurusan lain.”Lalu, apa yang sudah kita lakukan sekarang untuk jasa dan kebaikan mereka di masa lalu?

1962 : Soekarno dan Penolakannya terhadap Israel

“Untuk Taiwan saya rasa urusannya djelas, kami hanya mengakui satu Negara Tjina jaitu RRT, itu jang di daratan, lain negara tidak… dan untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”.

Maka pada waktu itu, Bung Karno dengan berani mengambil sikap untuk menolak Israel mengikuti ASIAN Games 1962. Keputusan tersebut menjadi inspirasi bagi negara-negara lainnya untuk menolak Israel, dan akhirnya Israel tak bisa diikutkan di Zona Asia karena tidak ada negara yang mau bertanding bersama Israel.

Maka jelaslah, bahwa hubungan romantis Indonesia dan Palestina sudah terjalin sejak lama. Bahkan seandainya dulu Palestina tidak berani mengambil sikap untuk mengakui kemerdekaan Indonesia terlebih dahulu, barangkali Indonesia tidak merdeka secepat itu. Ya, dasar mereka satu, bahwa atas dasar persamaan hak, dan sama-sama dipersaudarakan dalam ikatan persaudaraan antar muslim dan muslimah.

Apalagi saat sebuah negara merdeka, tentu membutuhkan pengakuan baik secara de facto maupun de jure. Secara de facto sudah, namun secara de jure? Belum ada pada waktu itu negara yang berani mengakuinya. Dan Palestina yang memulainya. Allahu Akbar!

Suatu kondisi yang patut kita kritisi selang beberapa tahun dari kemerdekaan Indonesia, Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 14 Mei 1948 pada pukul 18.01. Sepuluh menit kemudian, pada pukul 18.11, Amerika Serikat langsung mengakuinya. Pengakuan atas Israel juga dinyatakan segera oleh Inggris, Prancis dan Uni Soviet. Seharusnya hal yang sama bisa saja dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Uni Soviet untuk mengakui kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Tetapi hal tersebut tidak terjadi, justru negara-negara Muslim lah yang berkontribusi konkret dalam mengakui dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kesamaan yang lain
Ada juga sejarah-sejarah lain yang menunjukkan keterikatan tinggi antara Indonesia dan Palestina. Tentunya teman-teman di sini mengenal Kota Kudus bukan? Ya, Kota Kudus pernah memiliki ulama’ besar sekaligus panglima perang  bernama Ja’far Shiddiq dari Kerajaan Demak yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus. Pada tahun 956 H atau 1560 Masehi beliau membangun Masjid dan menamakannya Masjidil Aqsha. Dalam prasasti pendirian masjid tertuliskan: “Telah dibangun Masjidil Aqsha fil Quds” Maksud beliau adalah penamaan ini meniru apa yang ada di Palestina, yaitu masjidil Aqsha di Kota Quds. Sehingga beliau merubah nama kota Tajung menjadi kota Kudus. Ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa beliau menamai begitu karena terinspirasi dari Masjidil Aqsha di Palestina

Sejarah lain adalah tentang Imam Syafi’i. Ada apa dengan beliau? Tentu teman-teman tahu bahwa terdapat empat mazhab, dan yang dijadikan sebagian besar ummat islam di Indonesia adalah Mazhab Syafi’i. Ya, Beliau adalah Muhmmad bin Idris Asy Syafi’i, lahir di kota Ghozzah atau Gaza, Palestina pada tahun 150 H atau 767 M. beliau masih ada nasab dengan nabi Muhamamd saw., ia termasuk dari Bani Muththalib, saudara dari Bani Hasyim, Kakek Rasulullah saw.Lalu sekarang? 

Ya, sekarang yang bisa kita lakukan selain mendoakan, meramaikan media sosial, tentu kita bisa turut menyumbang. Banyak sarana kita untuk membantu Palestina. Mulai dari dompet dhuafa, aksi cepat tanggap, sahabat suriah, dan lain sebagainya.
Jika tidak mampu, minimal doa!  Ya! Doa. “Allahummansur mujaahidiina fii falestiina”. Ya Allah, berilah kekuatan untuk para Mujahidin di Palestina. Cepat atau lambat, palestina pasti akan kembali ke genggaman kita, kaum muslim. Semoga!
Allahu Akbar!!
Sumber :
http://sejarah.kompasiana.com/2012/11/17/kisah-soekarno-dan-palestina-503950.html

Sejarah Indonesia Dekat dengan Palestina


http://www.fimadani.com/kemerdekaan-indonesia-berawal-dari-mesir-dan-palestina/
Kemerdekaan Indonesia: Berawal dari Palestina dan Mesir
http://gazanews.wordpress.com/2009/01/20/palestina-bantu-kemerdekaan-indonesia/

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *