Fenomena Pergeseran di Dunia Internasional

542162_352576631460359_555826333_n

DT merupakan singkatan dari Dialog Tokoh. Tulisan ini merupakan hasil dari acara Dialaog Tokoh yang secara rutin diselenggarakan PPSDMS Nurul Fikri. Narasumber kali ini adalah Bang Shofwan Al-Banna, Mawapres I Nasional 2006, Doktor Ilmu Hubungan Internasional lulusan Jepang.

Ketika membaca sejarah Nabi dan Rasul, tentu kita ingat kepada sejarah pertempuran dua orang yang cukup fenomenal. Yaitu Raja Jalut dan Raja Thalut. Pada waktu itu, Raja Thalut membawa bani israil untuk berperang, dan ketika mengetahui kekuatan Raja Jalut, maka gemetarlah pasukan Raja Thalut. Apalagi saat mengetahui kekuatan Raja Jalut, tubuhnya besar dan ia terkenal sebagai panglima tangguh. Siapapun yang berhadapan dengan dia pasti akan binasa.

Maka berperanglah kedua kubu tersebut dan ternyata pasukan Jalut dapat diporak-porandakan oleh pasukan Thalut. Hingga tersisalah Jalut dan beberapa pasukannya yang masih setia. Melihat sosok Jalut yang begitu tinggi menjulang seperti raksasa, pasukan Thalut merasa takut. Maka diumumkanlah oleh Thalut, barangsiapa yang berani maju melawan ke depan Raja Jalut dan berhasil mengalahkannya, maka ia akan diangkat menjadi menantunya.

Tanpa disangka sosok Daud yang masih muda pada waktu itu maju menawarkan dirinya. Mulanya. Raja Thalut tidak memperkanankannya karena ragu terhadap sosok anak kecil tersebut. Apalagi ia tak memiliki kemampuan berperang sebelumnya. Namun, karena tidak ada lagi yang berani, Thalut pun akhirnya memperkanankannya.

Saat melihat Daud maju, maka Jalut pun tertawa terbahak-bahak. Apalagi Daud hanya bersenjatakan ketapel kecil. Akhirnya pertarungan satu lawan satu di mulai. Jalut berkali kali melayangkan pedangnya, namun Daud dapat terus menghindar. Berkali-kali hingga Jalut pun merasa frustasi. Pada suatu kesempatan ketika Jalut lengah, Daud melayangkan peluru ketapelnya tepat mengenai bagian di antara dua mata Jalut. Saking kerasnya, maka pecahlah Dahi Jalut, ia berteriak keras, roboh dan mati.

Kavaleri, Artileri, dan Infanteri

Kisah Jalut melawan Daud di atas memang jika ditinjau secara agama, tentunya kemenangan Daud telah digariskan dan menjadi ketetapan Allah. Namun, tidak serta merta seperti itu. Jika kita meninjau dari sisi karakteristik pasukan peperangan, maka diulangi berapa kali pun pertempuran satu lawan satu antara mereka berdua maka tetaplah Daud yang menang? Mengapa demikian? Mari kita lihat ketika kita katkan dengan 3 macam jenis pasukan.

Yang pertama Artileri. Istilah ini berasal dari bahasa perancis artillerie yang merupakan alat berat di medan peperangan untuk menembak. Namun dalam perkembangannya istilah artileri lebih dikenal dengan pasukan serangan jarak jauh. Pada perang dunia I, II, strategi penggunaan pasukan ini sangat efektif karena banyak menelan korban pada peperangan tersebut.

Yang kedua adalah Infanteri. Istilah ini berasal dari bahasa ingris infant, yang berarti kaki, biasanya untuk menggambarkan para tentara muda yang berjalan kaki di sekeliling para kesatria yang menunggang kuda atau kereta. Infanteri merupakan pasukan tempur darat utama yang dilengkapi persenjataan ringan dan berfungsi untuk pertempuran jarak dekat. Karakteristik mereka tentu jelas ahli satu lawan satu, gesit, lincah dan memiliki kecepatan yang tinggi.

Yang ketiga adalah Kavaleri. Kata ini berasal dari bahasa latin yaitu caballus dan dari bahasa perancis yaitu chevalier yang artinya adalah kuda. Awalnya kavaleri adalah dikhususkan bagi pasukan berkuda, namun saat ini dalam perkembangannya mereka merupakan pasukan yang bertempur dengan menggunakan kendaraan lapis baja. Ada juga yang mengatakan bahwa kavaleri adalah pasukan yang menggunakan pakaian baja sehingga mereka begitu kuat.

Dalam hal ini, Daud termasuk kategori Artileri, sedangkan Jalut termasuk kategori Kavaleri. Tentu saja pemenangnya adalah Artileri. Sebab mereka mengandalkan kelincahan dan kecepatan. Saat kavaleri menyerang, artileri mampu terus menghindar, dan dapat mencari timing yang tepat untuk melancarkan serangan. Serangan itu tidak banyak, namun cukup efektif untuk menghabiskan damage lawan. Fenomena tersebut secara tak langsung merupakan pergeseran yang terjadi di dunia ini, di mana bukanlagi yang memiliki tubuh besar yang kuat yang mampu berkuasa. Namun, mereka yang cerdik dan strategik.

Fenomena Pergeseran di Dunia

Saat ini di dunia terjadi banyak sekali pergeseran-pergeseran kondisi. Apalagi saat ini memasuki era globalisasi, maka pergeseran tersebut berlangsung cukup cepat. Beberapa pergeseran tersebut antara lain sebagai berikut:

Yang pertama, adalah pergeseran kekuatan ekonomi internasional. Sebagaimana yang kita tahu bahwa saat ini Tiongkok mulai mengambil alih ekonomi Amerika Serikat. Sebab saat ini dunia sedang mengalami apa yang dinamakan Shift Distribution Power, yaitu di mana kekuatan ekonomi ke depannya tidak hanya dimiliki oleh amerika saja, namun juga akan dimiliki negara-negara lainnya karena terjadi sebuah fenomena distribusi yang merata. Para pakar hubungan Internasional menyebut fenomena pergeseran kekuatan ekonomi ke China ini dengan sebutan The Rise of China. Lalu apakah yang menjadi masalah di sini? Masalah yang dikhawatirkan adalah akan meletusnya Perang Dunia ke-III. Sebab, jika berkaca pada sejarah masa lampau, terutama pada perang dunia kedua, hal itu terjadi karena di dunia terdapat dua kubu superpower. Yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat. Hal itu tentu saja mungkin terjadi.

Namun sisi positifnya adalah, pergeseran pusat eknomi tersebut tentu akan membawa berkah bagi negara-negara sekitarnya karena dunia tidak lagi berpusat di amerika, namun aktivitas perekonomian dapat berpindah menuju Asia. Terutama Indonesia. Sebagaimana kita tahu, bahwa biasanya ketika Presiden Amerika dilantik pada tahun-tahun sebelumnya, maka negara pertama yang akan dikunjungi oleh menteri Hubungan luarnya adalah negara-negara di Eropa. Namun apa yang terjadi saat kemarin Obama dilantik? Negara pertama yang dikunjungi oleh Menteri Luar Negeri Amerika, Clinton, adalah Indonesia. Secara simbolis berarti hal tersebut menunjukkan bahwa peran Indonesia ke depannya begitu besar di dunia internasional.

Yang kedua adalah Shift of Locus Power. Maknanya adalah isu-isu tidak bisa ditangani oleh satu negara saja. Akan banyak isu-isu di dunia yang tidak dapat diseleseikan oleh satu negara. Akan terdapat pula aktor-aktor sesuai dengan bidangnya, seperti politik, bisnis, dan lainnya. Berbagai kebijakan publik yang terjadi di suatu negara tentu tidak hanya akan ditentukan oleh negara tersebut sendiri, namun pasti akan ada campur tangan dari negara-negara lainnya.

Salah satunya adalah isu-isu sosial. Di dunia ini, terdapat sekitar 7 lembaga NGO yang cukup besar. namun sayangnya dari 7 tersebut tidak ada yang berbasis agama Islam. Contohnya seperti USAID dari Amerika yang sering membantu di bidang sosial masyarakat. Mereka sering membantu Indonesia, dan cukup memainkan pengaruh dalam pengambilan kebijakan-kebijakan pemerintah. Oleh karena itulah ke depannya, ketika kita semua ingin melakukan perubahan kepada negara, tidak mutlak dari sektor publik saja, atau dari sektor goverment. Tentu bisa dari sektor yang lain seperti sektor private, atau ketiga. Sebab ketiga sektor tersebut baik publik, private, atau ketiga sangat bergantung kepada yang lainnya.

Yang ketiga adalah fenomena organisasi. Di era globalisasi ini, organisasi bukanlagi bersifat vertikal  namun lebih condong horizontal. Secara sistem, organisasi vertikal memang bersifat efektif, sebab ia hanya menunggu perintah dari atasan, dan bawahan tinggal melaksanakan, sehingga lebih minim sumber daya. Namun, organisasi vertikal kekurangannya adalah kaku, dan itu tidak dinamis dnegan perkembangan zaman saat ini. Hierarki efektif jika sumbernya tunggal sudah terlalu usang, karena itu hierarki masa lampau, contohnya dulu adalah NAZI yang dipimpin oleh Adolf Hitler.

Basis organisasi yang horizontal, tentu harus memiliki soliditas internal yang tinggi. Jika mereka tidak solid, tentu akan banyak misskomunikasi yang terjadi. Sebuah konsep organisasi horizontal juga harus memiliki “The Power of Wideness“. Yaitu tidak hanya memiliki ikatan yang kuat, namun jaringan yang kuat. Sebab, dengan fenomena organisasi horizontal, maka basis lainnya yang terdapat di dalamnya adalah networking. Organisasi akan semakin eksis ketika dia memiliki network yang banyak, dan mampu menjalin relasi yang baik dengan network tersebut.

Sehingga ke depannya, melihat 3 pergeseran di atas, USA dominated tidak akan lagi terlalu mendominasi, sehingga dunia akan lebih berwarna dan dinamis. Maka di sinilah peluang kita semua untuk berperan sebagai aktor untuk perubahan negara. Tidak hanya mempengaruhi negara, namun kita masuk ke dalamnya dan jadilah yang paling menonjol di dalamnya. Dan sektor untuk mempengaruhi kebijakan negara tidak harus dari kita masuk ke dalam tata pemerintahan. Kita bisa juga mempengaruhi dari sektor yang lain, baik itu sektor privat maupun sektor ketiga.

Dialog Tokoh #1
Asrama PPSMDS, 12 Juli 2014

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *