Syukur Hari Kemenangan

if_6_by_memels-d2y9w1h

Kepada Yang Maha Kuasa,  Allah SWT tak terhitung rasa syukurku kepadaMu. Karena hamba ini terizinkan olehMu sampai hari ini, sampai detik ini masih menghirup udara segar kemenanagan hari raya yang fitri. Dengan kondisi badan yang mungkin sedikit kurang berkenan, namun rasa syukur ini tak henti-hentinya terluncur dari lisan yang penuh dosa ini, semoga itu mampu menghapusnya.

Masih pula diberikan kesempatan berkumpul bersama ayahanda, ibunda, dan adinda tercinta dalam kecil dan sempitnya rumah ini, namun kurasakan getar-getar keluasan permohonan maaf yang terucapkan, hangatnya tangan yang bersalaman, dan teduhnya pelukan kasih sayang dari mereka. Di tengah masakan sederhana yang menemani, namun aduhai berjuta rasanya kala disantap dengan penuh canda tawa, sembari mengenang cerita-certa masa lampau yang terkadang menyakitkan, namun justru indah tuk dikenang, dan sesekali mengundang gelak tawa.

Masih pula diberikan kesempatan tuk berkirim pesan memohon maaf kepada rekan-rekan seperjuangan. Walaupun sekedar melalui media sosial, sms, atau bahkan bertatap muka secara langsung. Sungguh aku yakin hal itu takkan mengurangi makna besar dalam tiap kata-katanya. Karena di dalamnya tersimpan cahaya maaf yang bersinar menebarkan kebaikan tuk semesta raya. 

Masih pula diberikan kesempatan tuk merasakan nikmatnya mudik, dan berkumpul bersama kakek dan nenek, walaupun mereka tak lengkap lagi seperti setahun yang lalu. Sebab itulah momentum hari raya ini, adalah momentum melepas rindu. Kepada sosok manusia yang jarang kutemu. Walaupun nanti barangkali hanya kulihat pusaranya yang hadir, namun tak apalah karena jiwa mereka senantiasa ku yakin membersamaiku, nama mereka pun senantiasa terlantunkan dalam setiap doaku.

Masih pula diberikan kesempatan untuk menikmati “kenduren” (makanan nasi tumpeng, nasi kuning di pedesaan saat hari raya, biasaya dibawa ke musholla atau masjid untuk terlebih dahulu dibacakan doa bersama, agar berkah), padahal aku tahu sebagian masyarakat di sana tidak mampu mendapatkannya. Ada juga mereka yang kaya raya, namun raga-nya tak sanggup menelan aneka kenikmatan yang ada karena justru kan menggerogoti kesehatannya.

Masih pula diberikan kesempatan untuk bersalaman dengan keluarga. Ah, izinkan aku melirik sejenak kakiku yang masih dapat melangkah, tangan yang masih dapat bergerak. Barangkali tradisi ini tak bisa dilakukan semua orang manakala mereka dicabut olehNya akan nikmat gerak yang begitu berharga. Sementara bersyukurlah diriku dapat melangkah dari pintu ke pintu tuk memohon maaf, bertemu, bercakap dengan penuh bahagia.

Maka Terima Kasih Ya Allah atas segala karuniaMu, nikmatMu yang tak terhingga. Barangkali hambamu ini masih tak layak berada di Hari Kemenangan. Namun, sungguh kau tak pernah mengusirku. Justru kau karuniakan rahmatMu kepadaku lewat ayat-ayat kauniyahMu, melalui nikmat sehat yang kau beri, melalui cinta kasihMu yang tak ternilai.

Maka masih pulakah tahun depan aku diberikan kesempatan tuk bertemu Ramadhan dan mengulangi segala kenikmatan di atas?
Semoga… Yah, semoga saja.. .

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. anislotus says:

    Selama hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 😀

Leave a Reply to Mushonnifun Faiz Sugihartanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *