“Terdampar” di Pulau Kemenangan

Idul_Fitri_1429H_by_yuniarko

Boleh jadi kita berbangga manakala hari raya tiba. Bagaimana tidak? Setelah sebulan penuh kita berpuasa, setelah hawa nafsu ditahan sekuat asa, setelah malam-malam kita terhabiskan dengan uraian air mata untukNya, Allah masih memberikan nafas kepada kita untuk melantunkan takbir kemenangan yang membahana, hingga di pagi hari kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakan Shalat Id, momentum shalat yang hanya kita jumpai dua tahun sekali yaitu manakala Idul Fitri dan Idul Adha.

Boleh jadi kita merasa suci di hari raya. Selepas kita “membereskan” urusan kita kepada Yang Maha Kuasa, atau istilah kerennya “Hablumminallah”, maka di hari raya kita secara mudah mengobral maaf kepada sanak saudara, keluarga, rekan-rekan seperjuangan, bahkan musuh kita sekalipun tak luput dari anugerah maaf kita. Apalagi era teknologi berkembang seperti sekarang, cukup tuliskan kata-kata di layar kecilmu, dan dalam waktu singkat kau sebar ke ribuan kontakmu. Atau tuliskan di profilmu, niscaya orang-orang yang melihat tulisanmu pun juga memohon maaf. Maka bereselah urusanmu kepada manusia, atau dikenal dengan “hablumminannas”.

Boleh jadi kita merasa kaya di hari raya. Sebab hasil jerih payahmu setahun, dengan gampangnya kau bagi-bagikan kepada sesama, baik kala ramadhan, maupun hari raya. Kertas abu-abu, emas, ungu, hijau, biru, bahkan merah pun kau tebar tanpa kompromi lagi. Seakan hartamu tak lagi kau butuhkan tuk keluarga, dan kali ini kau hamburkan hanya untuk melihat senyuman tulus dari anak-anak, keluarga, dan masyarakat di sekitarmu.

Boleh jadi kau merasa cantik dan tampan di hari raya. Ketika melihatmu dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya baru. Peci kau beli di pasar sana. Kerudung kau beli di toko. Baju kau beli via online. Celana dan Rok kau beli di supermarket. Sepatu dan sandalmu kau pesan khusus ke penjahit. Jadilah kombinasi “mahal” yang membuatmu seolah-olah terlihat meraih kemenangan di hari raya. 

Sementara aku boleh jadi merasa terdampar di hari raya. Puasaku sempurna 30 hari, namun ibadahku? Aku cuman bisa tertawa. Subuh kekenyangan hingga akhirnya ketiduran. Dhuhur berdempetan dengan Ashar. Maghrib terlalaikan oleh ngabuburit di jalanan. Isya dan Tarawih? Ah, lagi-lagi karena kekenyangan aku ketiduran.

Jangan kau tanya tadarrusku. Targetku 3 kali khatam, nyatanya setengah Quran pun tak sampai. Hari pertama aku berapi-api hingga 5 juz kuhabiskan. Selanjutnya? Tertatih-tatih sampai akhirnya sehari pun tak mengaji sama sekali.

Lalu sampailah aku pada 10 hari terakhir, yang katanya lailatul Qadar diturunkan. Begitu bersemangat aku tiba-tiba. Awal mula kuhabiskan malam-malam pertama untuk iktikaf di masjid dekat rumah. Kemudian mencoba ke masjid terbesar di kotaku. Malam ke-21 semalam suntuk. Malam ke-22 semalam suntuk. Malam ke-23 tumbang jam 3, akhirnya sahur dan subuh pun terlewat. Maam ke-24 tumbang jam 1, masih sempat sahur. Malam ke-25, tumbang habis tarawih. Akhirnya malam-malam selanjutnya pun terlewatkan. Innalillah.

Tahu-tahu malam itu takbir telah menggema di mana-mana. Hingga akhirnya baru kusadari bahwa malam itu hingga hari ini, aku hanyalah manusia yang terdampar di Pulau Kemenangan.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *