Merangkai Idealisme dan Mimpi bersama PPSDMS Nurul Fikri : Perjalanan Baru Dimulai !

ppsdms

Menaiki Kuda di atas Rel barangkali terdengar mustahil dan lucu. Tapi jika Tuhan menghendaki tak mungkin kita hindari.

Minggu, 3 Agustus 2014
Hari ini barangkali merupakan hari tak terlupakan dalam catatan perjalanan hidupku. Sebab inilah hari di mana satu baris mimpiku yang dua tahun lalu telah kutuliskan dalam resolusi mimpi semasa kuliah telah resmi kucoret. Inilah hari di mana aku akan memulai mewujudkan idealisme perjuangan kepemimpinan muslim. Hari di mana dulunya aku terinspirasi dari orang-orang yang pernah di sini. Ya, inilah tempatku sekarang berada selama dua tahun ke depan, hingga lulus (Insya Allah) sebutlah tempat ini dengan PPSDMS Nurul Fikri.

Mungkin inilah jawaban Allah atas mimpku. Izinkanlah aku bercerita bahwa 8 tahun lalu kala aku lulus dari Madrasah, sempat terbersit keinginan melanjutkan pendidikan di salah satu Pondok yang melahirkan banyak tokoh agama di Indonesia, yang terkenal modern kata orang. Pondok itu bernama Gontor. Sebab ayahandaku alumni pondok, ibunda juga alumni pondok. Mereka sama-sama menempuh pendidikan agamanya sejak kecil di sebuah pondok tradisional di Mojokerto, kampung halamanku. Maka masuk akal bukan jika putra-nya ini menginginkan hal yang sama?

1343645751-gontor-islamic-boarding-school-in-east-java_1362965

Rupanya ibundaku masih terlalu menyayangiku, hingga aku tak diizinkan menempuh pendidikan di Gontor. Dengan alasan letaknya diluar kota, dan ibundaku masih belum tega melepasku. Yah, sekalipun dulu ayah mengizinkan, akhirnya tak berangkatlah aku, dan kuputuskan melanjutkan pendidikanku ke Tsanawiyah, setidaknya sekolah tersebut masih berbasis agama islam.

Ketika di Tsanawiyah, aku berkenalan dengan temanku, yang ternyata dia berasal dari luar kota. Dia bercerita bahwa dia tinggal di pondok tradisional di Malang. Terkenal memang pondok itu. Pondok Miftahul Huda. Milik, ketua MUI Malang saat itu, KH. Baidhowi Muslih. Maka kuutarakan keinginanku pada ayah dan ibuku. Berharap mendapatkan izin, karena lokasi yang tak jauh, di Malang, letaknya juga lebih dekat ke sekolahku. Maka dengan mengucap bismillah, kuutarakan niat ini kepada ayah dan ibuku. Berharap mendapatkan izin dari mereka.

Hasilnya ayahku mengizinkan, namun kembali lagi ibundaku tak mengizinkan. Yah, kali ini alasan beliau masih belum percaya aku bisa hidup mandiri di pondok. Di tambah banyaknya tugas-tugas masa MTs dahulu, beliau tak ingin aku kewalahan. Akhirnya inilah kedua kalinya aku menelan pil pahit kegagalan mewujudkan keinginan untuk di pondok. Yah, semoga inilah yang terbaik bagiku pada waktu itu. Mungkin karena ibuku telah menganggap cukup mendapatkan ilmu agama di Tsanawiyah.

Masa Tsanawiyah berakhir, dan kuputuskan melanjutkan jenjang pendidikan di SMAN 3 Malang. Pada waktu itu keinginan kembali terbersit. Namun, rupanya aku saat itu belum cukup siap. Masa SMA tak seindah kata orang karena di situ justru tugas-tugas menyerang tiada henti. Belum lagi beberapa guru seringkali mengadakan ulangan dadakan. Hingga akhirnya aku memutuskan sendiri lagi-lagi untuk menunda keinginan di pondok karena aku sendiri yang barangkali belum mampu me-manajemen waktu dengan baik.

Hingga akhirnya tibalah masa kuliah. Surabaya rupanya menjadi pelabuhanku selanjutnya. Boleh jadi karena event perlombaan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITS yang aku ikuti, dan sempat menjejakkan kaki di bumi TI ITS kala SMA membuatku memasukkan Teknik Industri ITS sebagai pilihan keduaku, setelah Universitas Indonesia di pilihan pertama. Ternyata, Allah SWT menakdirkanku diterima di Surabaya. Lagi-lagi sesuai prediksi ibundaku.

Maka kusampaikan kembali untuk ketiga kalinya bahwa aku ingin merasakan pendidikan agama di Pondok. Kali ini ayahku menyetujui, pun demikian dengan ibunda. Pada hari pendaftaran ulang kami sekeluarga mencari pondok yang benar-benar cocok untukku. Untuk hal ini aku percayakan kepada ayah dan ibuku, sebab beliau berdua jauh lebih berpengalaman. Satu persatu kami kunjungi pondok tersebut di sekitar keputih, namun entah ayahku kurang cocok. Seharian kami berputar-putar, dan hasilnya diambil kesimpulan ayah dan ibundaku merasa kurang cocok dengan berbagai pondok yang ada, sehingga lagi-lagi ketiga kalinya aku gagal merasakan aroma pondok.

Waktu pun berlalu. Di tahun pertama aku berkenalan dengan kahimaku di TI. Mas Mukhlis namanya. Kebetulan dia berasal dari Malang juga (Batu lebih tepatnya). Dari beliaulah aku mengenal PPSDMS Nurul Fikri. Sebuah Pondok yang menawarkan beasiswa prestasi yang menganut sistem berbasis pembinaan wawasan islam kebangsaan dengan penanaman nilai-nilai kepemimpinan. Hingga kucari tahu lebih jauh tentang pondok ini. Dan setelah aku tahu, pada kepulanganku pertama kali ke Malang semenjak di Surabaya kusampaikan niat ini ke ayah dan ibundaku. Dan beliau pun menyetujuinya. Bismillah, sejak saat itulah aku bertekad mempersiapkan diri menuju tempat impian di mana aku yakin dapat membantuku mewujudkan idealismeku : PPSDMS Nurul Fikri.542170_3212363350876_1147521344_n

PPSDMS Angkatan V Regional IV Surabaya

8206_10201094212148617_696020173_n PPSDMS Angkatan VI Regional IV Surabaya

Tahun pertama itulah aku mengenal sosok-sosok inspiratif dari PPSDMS Nurul Fikri. Setelah Mas Mukhlis, ternyata saat SMA dulu aku telah berkenalan dengan salah dua santrinya, Presiden BEM ITS 2010/2011 yaitu Mas Dalu Nuzul Kirom dan Menteri RISTEK BEM ITS 2011/2011 yaitu Mas Dhanar Fajri. Aku mengenal beliau manakala mengikuti perlombaan Orasi di Surabaya dan kebetulan saat itu aku memenangkannya, dan dua di antara tiga jurinya adalah beliau-beliau itu. Hal itu semakin memantapkan niatku, bahwa orang-orang yang tergabung di PPSDMS ternyata bukan sosok sembarangan.

Saat itulah aku mencoba bertanya lebih jauh tentang PPSDMS kepada Mas Mukhlis dan Mas Sihabudin yang kebetulan beliau berdua adalah seniorku di Teknik Industri. Saran mereka adalah pada waktu itu banyak2 membaca buku terutama buku tentang pemikiran, yang berbau politik dan lain-lainnya, sebab hal itu saat seleksi nanti ditanyakan. Dan aku hanya menganga.

Bagaimana tidak? Hobiku memang membaca, namun bacaanku sejak kecil adalah bacaan ringan. Dimulai TK aku dulu begitu menyukai cerita bergambar. Lanjut ke masa SD aku begitu menyukai cerita pendek dan cerita bergambar. Pada waktu itu, aku berlangganan majalah Bobo dan hari-hariku selalu penuh dengan majalah-majalah itu. Seakan tak ada bosan-bosannya aku dengan majalah itu, dan seringkali cerita-ceritanya kuulangi kembali sekalipun sudah selesai membaca. Masa MTs pun bacaanku berkembang ke arah novel. Aneka novel Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy lengkap aku koleksi satu per satu. Buku-buku motivasi pernikahan Ust.Salim A. Fillah, Ust. M. Fauzil Azhim bahkan aku pun telah mengkhatamkan beberapa saat SMP dahulu. Saat SMA tidak jauh beda bacaanku, masih berkutat pada novel dan buku-buku motivasi islami.

Hingga akhirnya kupaksakan melahap buku-buku pemikiran. Sebelumnya kucoba kritis terhadap isu-isu nasional yang terjadi, dan akhirnya kucoba melahap buku-buku berat seperti Madilog, Di Bawah Bendera Revolusi, Catatan Seorang Demonstran, dan lainnya. Dan ternyata justru aku ketagihan membacanya. Hobiku menulis pun akhirnya menjadi pelampiasanku manakala aku ingin menyuarakan opini yang berlawanan dengan buku-buku pemikiran yang aku baca. Satu persiapan kecil telah terlewati.

Terkadang sempat motivasiku turun. Ya, karena aku tahu, dibandingkan mereka aku tidak ada apa-apanya. Namun, motivasi itu kembali tinggi manakala aku berkenalan dengan orang-orang baru. Dari Angkatan V aku mengenal Mas Imron Gozali (Presiden BEM 2011/2012) dan Mas Anindito (Sekjen BEM ITS 2011/2012), dan Mas Achmad Choiruddin yang menjadi Mawapres III ITS. Angkatan VI selain Mas Mukhlis dan Mas Udin, ada Mas Avissena, dan terakhir Mas Darsono saat aku mengabdi di Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, serta ada mas Umam. Pesan mereka, adalah coba rencanakan hidupmu, dan saat tahun kedua itulah aku mulai membuat perencanaan jangka panjang hidupku hingga usia tua nanti, yah walaupun hanya sekedar gambaran kasar, namun minimal telah terbayang.

Hingga akhirnya bulan Maret 2014 pun tiba, dan masa pendaftaran berkas pun dimulai. Aku bergerak. Pulang ke Malang, meminta doa restu dari kedua orang tua, seraya melengkapi berkas-berkas pendaftaran. Sekitar 3 hari sebelum pendaftaran, tepatnya tanggal 27 Maret 2014 kutitipkan berkasku kepada Mas Mukhlis. 8 April 2014 keluarlah pengumuman seleksi berkas ini, dan Alhamdulillah aku pun dinyatakan lolos. Terdapat hampir 200 pendaftar untuk Regional IV Surabaya, dan aku hanya bisa berpasrah.

Di tengah-tengah proses seleksi itu, aku tiba-tiba mendapatkan DM di twitter dari salah seorang seniorku di PPSDMS Regional I Jakarta. Beliau pada waktu itu berkata,

“He -_- semalem aku mimpiin kamu dek, lg naik kuda di atas rel depan asrama ppsdms jakarta. Pas aku tanya, mau kemana? Km jawab: mau NLC mba!”

Aku pun tertawa dan mengaminkan mimpi tersebut. Sembari berharap mimpi tersebut datangnya benar-benar dari Allah SWT.

Tepat tanggal 20 April 2014 aku menjalani tes tahap II, yaitu Tes Tulis. Pada tes tahap ini ada 3 macam tes, yaitu Test SCA (Spiritual Capital Assesement), Tes Potensi Akademik, dan terakhir ditutup dengan Tes TOEFL. Kebetulan pada waktu itu lokasi bertempat di Ruang TI-104 Teknik Industri ITS. Tes dapat kulalui dengan lancar, dan aku hanya bisa berdoa pada waktu itu. Berharap dapat lolos ke tahapan selanjutnya.

28 April 2014. Hasil Seleksi tahap II diumumkan, dan Alhamdulillah aku pun lolos masuk ke 83 peserta yang lolos. Selanjutnya kami memasuki tahap ke III yaitu Tes Presentasi, Tes Wawancara dan Tes Kesehatan. Untuk Regional Surabaya, pada waktu itu tes dilakukan di FTK-ITS. Tepat tanggal 3-4 Mei 2014, dan sekitar pukul 15.30, aku memasuki Ruangan WA-103. Hari pertama adalah Tes Presentasi. Kami diberikan pilihan sekitar 20 tema pilihan, dan aku memilih pengembangan sektor energi sebagai yang kupresentasikan. Kami hanya diberi waktu sekitar 15 menit untuk membuat media presentasi berbekal 1 spidol dan 1 kertas manila.

Usai itu, kami diminta menunggu. Peserta maju dipanggil secara acak, dan aku maju ternyata ke-3 dari akhir. Pada saat itulah aku ingat pesan Mas Darsono, bahwa presentasi jadilah yang berbeda, dan aku pun memulai presentasiku dengan menyanyikan Darah Juang. Sembari memanasi adrenalinku, dan menenangkan pikiranku. Entah mengapa aku menganggap menyanyi adalah salah satu metode terbaik untuk menenangkan pikiran. Hasilnya? Justru aku terlihat bukan sebagai presentator, namun orator -_-“. Ya, begitu semangatnya aku berapi-api layaknya aku menyampaikan orasi kala melakukan aksi turun ke jalan. Presentasi ku tutup dengan sebuah Quote dan kuhubungkan dengan Kedaulatan Energi. Selesai.

Hari kedua adalah Tes Wawancara dan Tes Kesehatan. Sesuai jadwal ternyat aaku mendapatkan giliran sore. Seharian menunggu sembari menyeleseikan Tes Kesehatan, dan sore hari, ba’da ashar, sekitar pukul 15.30, aku memasuki ruang. Di sana ada 2 orang yang duduk menyeleksiku. Aku sempat gugup, namun lantunan doa tak pernah lepas dari dalam hati. Bismillah, kujawab pertanyaan mereka satu persatu, dan sekitar 30 menit kemudian aku keluar meninggalkan ruangan. Dipenuhi perasaan lega. Karena itu artinya selesailah Tes-ku kali ini, dan hanya tinggal menunggu pengumuman.

10 Juni 2014
12.30 @ Rumah

Hari itu adalah hari di mana aku memeluk ibundaku dengan berlinang air mata. Ya, tepat setelah Shalat Dhuhur bersama beliau di Masjid, aku memberanikan diri membuka pengumuman. Yang pertama kubuka dari laptopku adalah facebookku. Dan betapa kagetnya manakala notifikasi penuh ucapan selamat dari orang-orang terdekatku. Salah satunya aku di-tag dalam status Mas Jilul, UNAIR 2011. Masih tidak percaya aku membuka website pengumuman hingga akhirnya Takbir dan Tahmid berkumandang. Beasiswa yang kuimpikan dua tahun yang lalu dapat kuraih. Sujud syukur pun kulakukan, bersyukur kepadaNya. Terima Kasih Ya Allah…

21 Juni 2014
Asrama PPSDMS Regional IV

IMG_20140621_121205

Ya, hari itu adalah hari di mana kami ber tiga puluh empat pada waktu itu dikumpulkan pertama kalinya. Sekitar jam 10.00 pagiacara dimulai. Kami diperkenalkan sekilas tentang PPSDMS, dan puncaknya adalah penandatangaan kontrak. Bismillahirrahmanirrahiim. Pada waktu itulah kontrak kami tanda tangani, dan secara resmi kami telah menjadi Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Mahasiswa Strategis Angkatan VI. Allahu Akbar ! “Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?”

Ramadhan 1435 H
Masa-masa Ramadhan inilah aku mulai menjalani kehidupan bersama rekan-rekan PPSDMS. Kami banyak belajar terutama saat melaksanakan kegiatan Ramadhan. Mulai dari Buka Bersama, Ramadhan di Dolly, Kegiatan Mengajar di TPQ, sampai kegiatan-kegiatan yang lainnya. Kebersamaan kami pun mulai di bangun pada masa-masa ini. Sekalipun masih banyak yang disibukkan dengan amanah masing-masing, namun hal itu tak masalah, karena kami pun sadar posisi dari kami memang rata-rata dalam tataran strategis di kampus masing-masing.

3 Agustus 2014
Hari ini kami ber-35 kembali dari perantauan masing-masing. Hari ini kami berkumpul di asrama ini, yah asrama yang masih berantakan barangkali karena belum sempat dibersihkan semuanya. Namun esok hari kami akan memulai pergerakan kami. Dari diri sendiri, membangun kebersamaan dengan membersihkan asrama, hingga kegiatan malam bina iman dan taqwa. Dan aku sekarang, hanya tersenyum. Menulis artikel ini sembari mendengarkan mars ppsdms dan hymne ppsdms secara bergantian. Agar semangat itu tertanamkan. Agar idealisme itu tertahankan.

Sejenak aku tenggelam dalam perenungan, mengingat bagaimana perjuangan mewujudkan impian dua tahun yang lalu. Bagiamana harus membagi konsentrasi antara membaca buku-buku kuliah dan buku-buku pemikiran. Bagaimana pula ketika masa-masa tes pada waktu itu tugas kuliah sedang menumpuk. Namun itulah pahitnya perjuangan yang akhirnya berbuah manis. Hingga tak henti-hentinya hari ini aku bersyukur sembari berkata pada diri sendiri : “Perjalanan baru akan dimulai!”

Asrama PPSDMS Regional IV
23.37

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *