Napak Tilas Heroboyo : Merangkai Serpihan Mozaik Semangat Kepahlawanan

10485825_10202437848693078_5956588088348245061_n

Ada yang tak biasa dengan kondisi asrama PPSDMS Regional Surabaya. Pagi itu, tepatnya ada tangal 17 Agustus 2014 pasca WBS sekitar pukul 06.00, kami, para KOBOY (Komandan Heroboyo) telah bersiap menggunakan training dan kaos putih. Dihiasi ikat kepala merah sambil berbekal sebotol air minum 1.5 liter, sebatang tongkat, selembar sang saka merah putih, serta HP ber-GPS,  kami semua dibagi ke dalam 5 kelompok. Sesi ini diawali dengan adu yel-yel antar kelompok, lalu dilanjutkan pemberangkatan ke pos yang dirahasiakan letaknya.

Berbekal hp ber-gps kami berangkat meninggalkan asrama. Koordinat yang dikirimkan pertama adalah Makam Bung Tomo. Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 5 km. Kami diamanahi untuk menjaga ikat kepala kami, karena fungsinya sebagai nyawa kami, dan jika sampai nyawa itu habis, maka kelompok kami tidak akan diperkenankan melanjutkan napak tilas tersebut.

Makam Bung Tomo menjadi destinasi pertama kami. Pada makam inilah mereka ditugaskan untuk merenungi sejenak bagaimana semangat kejuangan yang telah digaungkan Bung Tomo melalui orasi-orasi menggelagarnya. Pada pos tersebut juga terdapat beberapa penugasan yang harus kami tampilkan semisal yel-yel kelompok, menghafalkan Idealisme Kami PPSDMS, serta merangkai mimpi angkatan 7 Regional Surabaya.

Usai dari makam Bung Tomo, kami mendapatkan titik koordinat yang baru lagi. Tujuannya adalah menuju ke arah Masjid Muhammad Cheng Hoo, ia terletak sekitar 12  kilometer dari Makam Bung Tomo. Setelah hampir satu jam berjalan kaki, sampailah kami di Masjid Muhammad Cheng Hoo. Sebuah Masjid yang terkenal dengan arsitektur cina-nya. Kami pun beristirahat, sembari melaksanakan Shalat Dhuha.

10603302_10202437775571250_349515525524328187_n

Acara dilanjutkan dengan istirahat sembari kami berdiskusi tentang arsitektur Masjid Muhammad Cheng Hoo. Siapa sangka masjid ini penuh filosofis. Ukuran masjid ini adalah 11 x 9 meter. Angka 11 ternyata melambangkan panjang sisi ka’bah, sedangkan angka 9 melambangkan Wali Songo. Sementara langit-langitnya terdapat segi 8 yang melambangkan angka keberuntungan bagi orang china. Di tempat mimbar dan khatib arsitektur temboknya justru mirip dengan Gereja.  Terlihat sebuah nilai-nilai akulturasu di arsitektur masjid tersebut.

Kami juga berdiskusi tentang perjuangan Cheng Hoo di masa lampau. Bahwasanya, beliau adalah tipe orang yang berdakwah bil haal, yaitu berdakwah dengan perbuatan. Konon sejarah mencatat bahwa pada masa ekspansinya ke berbagai belahan dunia, pada awalnya tidak semua pasukan di armada kapalnya beragama islam. Namun, karena ketulusan beliau, dan semangat juang beliau yang bernilaikan islam yang rahmatan lil alamin, maka masuklah satu persatu dari mereka ke dalam agama islam.

Sekitar pukul 11.20 kami berangkat menuju rumah HOS Cokroaminoto. Letaknya sekitar 3 kilometer dari Masjid Muhammad Cheng Hoo. Terik matahari yang mulai meninggi tidak membuat semangat juang para kami luntur. Justru mereka semakin berapi-api menyusuri panasnya jalanan siang Kota Surabaya. Sekitar pukul 11.45 sampailah kami di Rumah HOS Cokroaminoto. Di rumah ini kami semua menapaktilasi perjuangan HOS Cokroaminto dan para tokoh bangsa yang lahir dari rumah ini. Seperti Soekarno, Kartosuwiryo, dan Muso. Tokoh-tokoh penuh ideologis ini lahir dari sebuah rumah kecil yang sempit. Namun di situlah pemikiran tentang bangsa Indonesia banyak dilahirkan. Bahkan kami semua sempat memasuki ruang diskusi di atas yang begitu pengap dan sempit. Maka sudah seharusnya itu menjadi pelecut bagi kami semua, sebab dengan fasilitas dan hidup yang lebih layak di asrama, sudah seharusnya kami mampu membawa Indonesia yang lebih baik.

hos cokroaminoto

Di rumah ini, setiap dari kelompok kami mempresentasikan biografi dari tokoh-tokok revolusi Republik Indonesia di masa lampau. Mulai dari Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan tokoh-tokoh lainnya. Sembari kami menghirup udara di tempat di mana dahulu para ideologis bangsa berpikir untuk Indonesia. Usai dari rumah HOS Cokroaminoto, kami melaksanakan Shalat Dhuhur di sebuah masjid yang tak jauh dari situ.

Lalu sampailah kami pada tujuan terakhir, yaitu Tugu Pahlawan Surabaya. Tempat di mana barang-barang bersejarah perjuangan Arek Suroboyo masa lampau diabadikan. Sekitar pukul 13.00, kami sampai di Tugu Pahlawan. Selanjutnya kami beristirahat sejenak, lalu diberikanlah kami penugasan kembali untuk membentuk kaki tiga agar bendera kami dapat berdiri tegak. Sekitar 30 menit kami pun menyeleseikannya, dilanjutkan dengan makan siang bersama ditengah terik mentari siang yang begitu menyengat. Kemudian kami pun menuliskan mimpi kami secara kelompok dan secara angkatan ke-7 yang kebetulan saya yang memimpin sebagai Presiden Asrama.

10574292_10202437865173490_3235267114950777137_n

 

Napak Tilas kami pun diakhiri dengan apel kemerdekaan di depan patung Dwi Tunggal, Soekarno-Hatta. Masih dalam terik matahari yang cukup menyengat, apel kami sekaligus mengukuhkan kabinet Heroik yang terbentuk di awal Agustus yang lalu. Betapa semangat dan mengharu birunya hati kami manakala mendengarkan lagu Indonesia Raya, 17 Agustus, dan lagu syukur kami kumandangkan bersama-sama. Di tengah apel, disaksikan patung Bung Karno dan Bung Hatta, kami membacakan Ikrar kami, Regional IV Surabaya selama masa 2 tahun pembinaan. Bahwasanya pada intinya kami memiliki mimpi-mimpi yang kami akan ikhtiarkan agar dapat terwujud selama dua tahun masa pembinaan.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Hari ini kami akhiri dengan penuh semangat membara. Sekalipun tak terhitung sudah jumlah tetesan keringat yang telah tertumpahkan, namun bara api semangat kemerdekaan semakin menggelora di dalam aliran darah kami. Hari ini kami belajar, bagaimana napak tilas perjuangan para pahlawan masa lampau, bagaimana berlelahnya kami manakala berjalan sejauh hampir 20 kilometer. Namun tentunya semua itu tak sebanding dengan tetesan darah yang tertumpahkan para pahlawan masa lampau. Serta ikrar yang kami lantunkan, barangkali pun tak sebanding dengan ikrar mereka dahulu manakala berjanji untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia. Namun kami semua semakin yakin, bahwa baik para pendahulu kami, para pahlawan bangsa, memiliki visi yang sama untuk membawa Indonesia yang lebih baik.

napak tilas

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. A good blogger leave a comment, follow my blog 🙂

Leave a Reply to Zein Fadhlurrahman Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *