Setelah 3 Minggu….

10533037_10202592487156780_9180875404837699903_n

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka
jika memang itu harga yang harus dibayar.

*petikan Idealisme Kami*

Tidak terasa pekan keempat menyapaku di rumah hijau ini. Apakah ini tidak terasa karena aku tak pernah merasakannya, atau barangkali waktu yang mengaburkannya, atau Tuhan yang menghendakinya entah tak kutahu mana yang benar, mana yang salah. 3 pekan awal adalah masa-masa di mana kita saling mengenal, dalam tatap mata, canda, tawa hingga hasilkan ikatan ukhuwah yang berbuah cinta karenaNya, cinta karena memiliki visi yang sama : Demi Indonesia yang Mulia.

3 pekan ini telah terjadi transformasi diri yang begitu jauh dalam diri. Betapa sedikitnya mata ini mampu terpejam, betapa banyaknya hal-hal yang harus dikerjakan. Setiap hari nyaris tidur dini hari, bangun pun juga dini hari. Rasa kantuk yang begitu bersemangat menyerang mau tak mau harus diperangi dan dilawan hingga terkalahkan. Seringkali saat Qiyamu Lail hingga WBS kami terlalu khusyu’ sehingga yang terjadi justru tertidur, hingga membuat kami harus berdiri untuk melawan rasa kantuk itu. Di tambah seharian kemudian kami harus pergi ke kampus untuk melaksanakan rutinitas kami sebagai seorang aktivis,

Masih terekam kuat dalam ingatan manakala hari-hari awal di asrama dipenuhi apel demi apel yang harus kami lalui. Bahkan ada yang sehari sampai dua kali. Terkadang siang, terkadang malam. Di tengah keseriusan itu, barangkali satu hal yang senantiasa menghiasi. Bahwa kami, para heroboyo angkatan tujuh ini paling susah kalau di ajak serius. Selalu ada canda tawa yang menemani. Ada yang bahkan terpaksa meminjam kaus kaki teman karena belum punya, dan dikembalikan berhari-hari kemudian dalam kondisi bau yang “yassalaaam”. Ada pula kawan kami yang langsung menjadi “reseller” kaos kaki, dengan membeli langsung 6 buah ukuran SUPER JUMBO, karena ukuran tubuhnya memang besar, sehingga kami berkesempatan meminjamnya. Dan masih banyak lagi momentum apel mulai dari menahan tawa saat menyanyikan mars ppsdms karena gaya kawan kami yang menjadi dirijen justru seperti seorang DJ Rocker, komandan apel yang suaranya cemeng, dan hal-hal lucu lainnya terkadang membuat kami tersenyum manakala mengingatnya.

Kita pun mengenal sesi Deep Introduction, atau bahasa simpelnya “Sesi Buka-Bukaan” antar peserta. Izinkan aku mengacungi jempol untuk metode ini, sebab barangkali metode ini merupakan metode terbaik untuk saling mengenali dan entah yang luar biasa antar satu sama lain dari kami begitu menjadi terbuka hanya berbekal laptop, lcd, dan ppt. Terkadang serius, namun jauh lebih sering seolah kami menyaksikan Stand Up Comedy. Tak terasa di sinilah keakraban kami mulai terikat.

Seumur hidupku, boleh jadi inilah kaderisasi terbaik yang pernah kudapat. Pernah aku dahulu dikader dan ditanamkan nilai Solid, dan hasilnya pun tak maksimal, padahal hampir setahun lebih kami dikader. Namun di rumah ini, di asrama hijau nan mungil ini, kami di kader dengan satu nilai : Keislaman! Yang pertama adalah meniru metode Nabi tentang persaudaraan kaum muhajirin dan kaum anshor. Di mana kami akhirnya dipersaudarakan satu sama lain dalam asrama ini. Allahu Akbar, tak sampai seminggu pun kami bisa benar-benar akrab dengan “Ta-akhi” kami. Sebuah metode tanpa kekerasan, tanpa pemaksaan, justru berlandaskan cinta dan kasih sayang karenaNya.

Adapula dalam suatu kesempatan beberapa dari kami lalai tak melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di masjid. Lalu siapakah yang harus turun push up? Justru kami yang lain, yang tidak membangunkan kawan-kawan yang lain. Sebab itu berarti ukhuwah di antara kami masih lemah, masih egois, padahal Islam justru menganjurkan segala sesuatu dikerjakan secara berjamaah. Hingga tak terhitung sudah berapa kali kami harus turun push up karena masih belum 100% teradaptasinya kami dengan sistem pembinaan asrama ini. Namun, manakala kami turun karena belum menunjukkan cinta yang besar terhadap saudara kami seperjuangan, manakala kami harus menghukum diri karena tidak sempurna dalam menunjukkan cinta kepada Illahi Rabbi, bukankah itu Se-romantis-romantisnya kaderisasi?

Hari kian hari berlalu, hingga akhirnya kekeluargaan kami mulai erat. Dalam asrama kami pun berbagai karakter dipersatukan. Mulai dari mereka yang pendiam sampai yang tidak bisa mengontrol lisannya kapan harus berhenti. Berbagai karakter mulai dari introvert sekali sampai ekstrovert pun hadir mewarnai dinamika para pemimpin muda. Tak terhitung sudah momentum kami tertawa bersama hingga perut ini tersakiti, makan bersama karena dalam asrama kami pun ada yang hobi memasak, tidur dini hari manakala menyiapkan haflah untuk NLC, terkadang sempat tensi menaik manakala egoisme beradu, sampai tidur di aula laksana ikan teri dijemur di pantai manakala sudah terlau lelah untuk sekedar kembali ke kamar masing-masing. Hingga panas Surabaya dan asrama yang hanya berkipas angin pun ini kian hari kian tak terasa, bukan karena kami makin terbiasa. Sebab ada kesejukan yang hadir dari ikatan ukhuwah kami : Ikatan Cinta para Pemimpin Muda Surabaya.

Hingga tibalah kami pada NLC 2014. Di mana kami pergi ke Jakarta bersama-sama. Menuju sebuah pelatihan yang katanya merupakan Gerbang sesungguhnya menuju pembinaan yang penuh penempaan. Dan di sana betapa kami merasa belum ada apa-apanya untuk bangsa ini manakala kami bersilaturahmi dengan rekan-rekan se-Indonesia. Dari ujung Sumatera hingga nun jauh di Makassar. Selama 4 hari lamanya kami ditempa baik secara fisik dan mental. Adapula manakala kami menunjukkan arogansi antar regional kami, namun betapa indahnya manakala kami melebur menjadi warna-warni pelangi PPSDMS Nurul Fikri dengan almamater yang kami gunakan.

Tak terasa sudah 3 minggu lebih kami berada di sini. Melalui penempaan yang begitu intensif di asrama, membuat idealisme itu pun mulai tertanam dengan sendirinya. Idealisme yang begitu membumi namun bermakna mengangkasa. Barangkali para penghuni langit pun kan bertasbih manakala idealisme itu digaungkan serta diteriakkan. Sebab melalui idealisme tersebut kami telah berikrar pada diri kami sendiri juga pada bangsa kami, bahwa jiwa kami telah terwaqafkan untuk kemaslahatan ummat, kejayaan bangsa, demi mewujudkan izzul islam wal muslimin.

Bismillah, Ya Allah, Kami waqafkan diri kami di sini dua tahun ke depan untuk disempurnakan sekalipun pasti terhasilkan dari kami yang takkan sempurna. Kami relakan jiwa ini ditempa demi Indonesia yang bermartabat. Kami akan menjadi orang yang pertama menangis manakala bangsa ini tercabik-cabik, dan orang yang terakhir tersenyum manakala bangsa ini berjaya, sebab biarlah kelak ummat atau rakyat dan masyarakat kami yang tersenyum tulus, menikmati hasil perjuangan kami tentu atas keridhaanMu.

Epilog

Sinar mentari yang menyapa sore ini, menemaniku membuat tulisan ini di Gazebo TI membuatku mengingat 2 tahun yang lalu. Manakala di tempat yang sama ini aku bertemu dengan salah seorang santri PPSDMS Nurul Fikri. Yang mengenalkanku akan program pembinaan ini, hingga setelah itu membuat rasa ingin tahuku pada waktu itu membuncah, semangatku membara, dan anganku dipenuhi keinginan tinggi untuk menggoreskan mimpi di bangunan hijau itu.

Manakala itu aku terus berangan-angan, bermimpi, tak henti-henti mentadabburi diri. Mampukah aku menembusnya? Mampukah aku berada di dalamnya? Sementara jiwa ini saja belum sepenuhnya dahulu terwaqafkan untuk keluarga dan almamater, bagaimana mungkin aku akan berikrar untuk mewaqafkan diri untuk bangsa ini?

Lalu stadion, musholla SI, Masjid Manarul Ilmi barangkali menjadi romantisme dalam mengenal PPSDMS Nurul Fikri ini tergoreskan. Masih ingat di tempat itu manakala aku membentuk lingkaran-lingkaran kecil dalam mentoring yang membangun jiwa. Bagaimana aku tertidur di sana manakala membaca buku-buku pemikiran yang sebegitu beratnya untukku pada waktu itu. Bagaimana saat aku bertadabbur menyelami ayat-ayat kauniyahNya.

Hingga sampailah anganku ini pada kamar kosku, Gebang Kidul 60c. Bagaimana di kertas binder yang telah sobek aku menuliskan tentang mimpi tahun ketiga : “Murid PPSDMS Nurul Fikri”. Bagaimana pula sempat kutempel di tembok timeline recruitment beasiswa ini. Pun juga langit-langit kamarku yang sering kupandangi manakala merenung membangun kebersamaan kelak bersama ke-34 pemimpin muda lainnya.

Dan sekarang izinkan aku tetap merenung dan bermimpi, serta menorehkan aksi.Sekarang memang aku tak lagi seperti dahulu. Manakala pikiran ini dipenuhi bangunan hijau tempatku berdiam saat ini, manakala raga ini ingin bergerak menuju Jakarta tempat NLC, pun demikian ketika tangan-tangan ini masih menggores mimpi yang terkadang tak berujung dan tak berarah tuk kemaslahatan bangsa ini. Namun kali ini izinkan aku mulai berpikir tentang bangsa ini. Tentang jiwa yang telah terwaqafkan utnuk bangsa ini. Tentang suara hati yang semakin menguat tuk berkontribusi lebih pada agama yang telah membuatku hingga seperti ini. Tentang Indonesia yang bermartabat dan Mulia yang suatu hari nanti pasti kan terwujud, bukan hanya sekedar mimpi!

Musholla SI

Tempat di mana dulu aku pertama kali mendengar namamu: PPSDMS Nurul Fikri

15.56

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *