NLC 2014 Notes (2) : Arsitektur Paradigma Pemimpin Baru Indonesia

tumblr_na98t3YbAh1r8y2qqo1_500

Pada sesi ini Bang Arief Munandar sempat menceritakan masa lalu beliau yang begitu menginspirasi manakala beliau berkuliah di UI. Ketika menempuh pendidikan S-3, beliau lulus dengan kondisi IPK 4.00. Sebab pada waktu itu beliau termotivasi karena rekan sekelasnya ada dua orang yang pendeta dan seorang nasrani, dan satu hal yang memotivasi beliau adalah, “Masa’ saya sebagai orang muslim kalah oleh Ahli Neraka”.

Dasar dari paradigmna kepempininan baru di Indonesia sebenarnya adalah para pemimpin harus menerapkan dan meningkatkan rasa respeknya. Biasanya disingkat dengan 3R. Yaitu Respect of People, Respect of Time, Respect of System. Hal yang paling mendasar pertama kalinya adalah respect of people. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan memiliki sebuah pengaruh besar bagi sekitarnya apabila ia tidak memiliki respek yang tinggi kepada orang-orang disekitarnya. Yang kedua adalah respect of time. Sebagaimana kita tahu bahwa budaya disiplin selalu ditekankan dalam agama Islam. Contohnya adalah pada pelaksanaan ibadah shalat kita telah secara tidak langsung dididik melalui ibadah ini, dan tentu saja sudah seharusnya membawa impact bagi kebiasaan dan aktivitas-aktivitas kehidupan kita lainnya. Yang ketiga adalah respect of system. Seorang pemimpin harus menghargai sistem yang berlaku pada tempat di mana ia memimpin. Sekalipun sistem itu buruk, namun ia tentu harus menghargai dan mempelajarinya terlebih dahulu sebelum mengubahnya lebih jauh lagi.

Paradigma lain yang harus dibangun bagi seorang pemimpin muda adalah bagaimana ia mengibaratkan waktu layaknya sebuah pedang. Jika ia mampu memanfaatkan waktu dengan baik, maka ia dapat mengendalikan pedang itu layaknya seorang samurai, mampu menebas kejahatan dan menegakkan kebenaran di bawah nilai-nilai keislaman. Namun sebaliknya jika ia tak mampu memanfaatkan waktu dengan baik, maka dikhawatirkan ia justru akan tertebas oleh pedang tersebut dengan sendirinya.

Apalagi saat ini para pemimpin muda sedang berada pada era yang dinamakan era globalisasi. Era ini ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi namun satu hal yang mengkhawatirkan adalah zaman ini dikatakan sebagai zaman yang kritis akan nilai-nilai kepemudaan dan kepemimpinan. Hal itu dapat ditunjukkan dengan profesi yang dikatakan prestis saat ini. Banyak yang beranggapan menjadi artis, penyanyi, dan profesi sejenis lainnya justru lebih baik daripada sekedar menjadi guru, dosen, peneliti, dan lainnya. Padahal profesi tersebut boleh jadi nyaris tidak akan memberikan dampak apapaun dari peradaban yang ada. Justru profesi yang mampu menghasilkan nilai-nilai strategis untuk mengubah peradaban nyaris tidak laku.

“Banyak Muslim yang Shalih tapi Lemah, namun Banyak pula Orang Kuat tapi Tidak Shalih”.

Fenomena di atas adalah sebuah paradigma yang banyak terjadi pada masa saat ini. Hal itu begitu bertolak belakang ketika dibandingkan dari Zaman Rasulullah dahulu. Bahwa ummat muslim yang banyak penghafal Quran memiliki kemampuan bela diri dan berperang yang tangguh. Maka pantaslah ketika Allah SWT berfirman bahwa “Mukmin yang Kuat Lebih dicintai oleh Allah dari Mukmin yang Lemah”.

Beberapa masalah yang menyebabkan krisis kepemimpinan terjadi saat ini disebabkan antara lain yang pertama adalah karena rendahnya logika dan kompetensi. Hal ini menyebabkan nilai kredibilitas seorang pemimpin menurun. Sudah seharusnya seorang pemimpin memiliki pemikiran yang matang dan kompetensi serta logika yang mumpuni, sehingga permasalahan bangsa dapat diseleseikan secara cepat dan tepat. Yang kedua adalah adanya masalah pada prioritas. Seringkali para generasi muda saat ini kesulitan membagi prioritas yang ada. Sebab itulah perencanaan hidup harus dibuat dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita mampu menyusun skala prioritas mulai dari kegiatan yang penting sampai yang tidak penting. Yang keempat adalah masalah Urusan diri sendiri. Seringkali para pemimpin meremehkan kepentingan pribadinya. Mereka memang pelayan dari ummatnya, namun yang paling penting ia tidak boleh melupakan dirinya sendiri terutama dalam urusan pribadi yang berkaitan dengan kemaslahatan pribadi misal kebersihan diri, kerapian kamar, dan lainnya. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa jangan berlagak menjadi pelayan ummat ketika kamu mengurusi diri sendiri saja masih belum mampu. Menurut Steven Covey dalam sebuah quote-nya “Private Victory Preceeds Public Victory”. Ketika kita tidak mampu mengurusi diri sendiri hal itu pasti akan tercermin saat kita mengurusi sektor publik.

Dalam kondisi bangsa dan dunia yang serba rumit saat ini, maka dibutuhkan pemikiran pemimpin yang sederhana dan tidak aneh-anah. Minimal ia menerapkan prinsip jika tidak bisa menyeleseikan permasalahan minimal tidak mengganggu orang yang bersangkutan dan tidak ikut campur di dalamnya.

Untuk mengatasi problem itulah, dalam masa pembinaan PPSDMS Nurul Fikri, terdapat 3 strategi pokok yang dikenal dengan 3P. Yaitu Proyeksi, Proteksi, dan Prestasi. Proyeksi adalah bagaimana SDM yang dibina di dalamnya mampu merencanakan masa depannya dengan baik, terencana, dan terukur. Yang kedua proteksi. Di mana para peserta dituntut mampu memproteksi dirinya terlebih dahulu dari hal-hal yang buruk, kemudian diharapkan ia juga mampu memproteksi orang lain ke depannya. Yang ketiga adalah prestasi. Ada perencanaan dan proteksi yang matang, diharapkan ia mampu mengukir banyak prestasi. Sebab sebagai orang mahasiswa tentunya kontribusi terkecil kita untuk bangsa Indonesia adalah dengan banyaknya prestasi yang diukir.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *