Ketidaksengajaan

framed-100-handmade-abstract-tree-oil-painting

“Sebab cinta seringkali berawal dari ketidaksengajaan”

Ada kalanya pepatah di atas benar, namun banyak juga orang yang menganggap salah. Bagi mereka yang jatuh cinta, mereka percaya. Sebab cinta mereka “jatuh” ada pula kala pandangan pertama, atau kebersamaan yang sering terajut, atau sebuah momentum yang tak disangka. Namun berbeda bagi mereka yang bangun cinta, mereka tak percaya. Sebab cinta bagi mereka hakikatnya mampu dibangun dari pilar-pilar kebersamaan, cinta kasih, serta ketulusan.

Namun sekali lagi cinta adalah pilihan. Izinkan saya membagi ke dalam kedua hal masalah ketidaksengajaan ini. Pertama dalam keburukan. Manusia yang gemar akan dunia malam maka ia cenderung akan menemukan cintanya di gemerelap malam. Bagi mereka cinta adalah kesenangan, kesukaan, bahkan sekedar permainan. Mereka takluk akan kenikmatan dunia yang fana, namun mereka justru menuhankannya. Sebab itulah, jatuh cinta dalam ketidaksengajaan di tengah keburukan akhirnya menjadi cinta yang fana belaka, tak bertahan lama.

Kedua dalam jalanNya. Sebab itulah cenderung manusia – manusia ini akan menemukan cintanya di majlis-majlis yang penuh kemuliaan. Bagi mereka cinta adalah ibadah. Adakah yang lebih indah dibandingkan merundukkan pandangan di antara lawan-lawan jenis kita, sementara degup jantung ini berdegup kencang, namun hati ini menyebut namaNya? Mereka takluk akan kenikmatan akhirat yang dijanjikanNya, hingga semakin mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Sebab itulah cinta dalam kebaikan atas izinNya maka bukan mustahil kan terlahir sebuah pertautan hati yang kan membangun cinta menggapai surgaNya.

Namun ada satu ketidaksengajaan lagi yang barangkali diluar kehendak kita, diluar kebiasaan kita namun itu terjadi dengan sendirinya. Ya itulah ketidaksengajaan yang tak terduga. Kita tentu tahu kisah seorang ahli ibadah yang bernama Barsisha. Seumur hidupnya ia waqafkan dirinya untuk Allah SWT, ia tak henti-hentinya melaksanakan ibadah. Hingga orang-orang di sekitarnya pun menyebutnya sebagai ahli ibadah yang luar biasa pada zamannya.

Tapi siapa yang tahu ia ternyata meninggal dalam keadaan mencintai syaithon daripada Tuhannya. Adalah sosok makhluk yang merupakan samaran dari Syaithon yang membuatnya penasaran karena makhluk itu mampu beribadah di masjid selama berhari-hari tanpa makan dan minum. Maka bertanyalah Barshisha kepada makhluk itu, “Hai kamu, bagaimana bisa kamu beribadah berhari-hari tanpa makan dan minum?”. Makhluk itu pun menjawab,”Aku pernah melakukan suatu dosa, dan apabila aku mengingatnya tiba-tiba bertambah kuatlah diriku,”ujar makhluk itu.

Maka Barshiha pun takjub, seraya memutuskan untuk melakukan dosa kecil. Atas saran makhluk yang sebenarnya merupakan perwujudan Syaithon itu, ia memutuskan untuk meminum-minuman keras. Pergilah ahli ibadah itu ke pasar untuk membeli minuman keras. Ia pun membeli arak, dan langsung juga menenggaknya. Malangnya, saat dalam keadaan mabuk, syetan pun merasukinya. Tanpa sadar ia memperkosa penjual arak tersebut yang kebetulan seorang gadis yang cantik. Hingga terjadilah dosa besar dalam hidupnya. Di tengah kejadian tersebut, datanglah tiba-tiba suami dari gadis tersebut. Merasa tidak terima terjadilah perkelahian di antara keduanya, dan sungguh diluar dugaan Barshisha melakukan dosa besar ketiga kalinya dengan membunuh suami gadis tersebut. Maka lunturlah seketika amal ibadahnya. Di akhir hayatnya ia justru memutuskan untuk beriman kepada Syaithon. Sebab itulah luntur sudah seluruh amal dan ibadahnya. Sekali lagi itu semua berawal dari ketidaksengajaan.

Adapun kisah taubatnya seorang ahli dosa. Yang dalam hidupnya ia telah membunuh 99 orang. Ia memutuskan untuk pergi ke seorang pendeta sembari bertanya apakah Tuhan akan mengampuninya. Dan diluar dugaan justru mendengar kisah pemuda tersebut pendeta itu mengusirnya dan melaknatnya. Dan akhirnya pendeta itu menjadi orang ke 100 yang dibunuhnya. Pemuda tersebut kemudian pergi ke salah satu alim ulama’. Dan dengan lembut alim ulama’ itu menasehati bahwa pintu taubat dari Allah takkan pernah tertutup asalkan pemuda itu mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Maka atas saran alim ulama’ tadi, pergilah pemuda itu ke kota yang jauh dari tempatnya agar ia tak terkena pengaruh lingkungannya tadi yang buruk. Ia pergi untuk menjemput cinta Allah. Nahasnya di tengah perjalanan ia meninggal, dan malaikat yang mencabut nyawanya pun berselisih antara ia dibawa ke surga atau ke neraka. Lalu diambillah keputusan untuk mengukur jarak orang itu ke daerah yang penuh kebaikan itu, dan ternyata ia lebih dekat sejengkal ke daerah tempatnya ia akan berpindah. Hingga akhirnya pemuda tersebut ditarik ruh-nya dan dimasukkan ke dalam surgaNya.

Kawan-kawan sekalian, sebab cinta berawal dari ketidaksengajaan barangkali tak sepenuhnya benar, juga tak sepenuhnya salah. Namun sudilah kita selalu memohon doa kepadaNya, agar ketidaksengajaan yang terjadi atas kehendakNya dapat semakin mendekatkan kita kepadaNya. Bukan semakin menjauhkan kita, apalagi menghinakan diri kita. Dan semoga jika cinta kita tertakdirkan untuk berawal dari ketidaksengajaan barangkali itu adalah romantisme Tuhan terbaik untuk kita untuk memabangun sebaik-baik peradaban bersama keluarga.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *