Cinta adalah Keterpisahan

67911_139722996179560_1718577108_n

Orang berkata keterpisahan adalah sebuah hal yang menyakitkan. Barangkali itu benar, sebab hakikat cinta adalah membersamai. Mustahil membangun cinta tanpa satu pun kebersamaan yang pernah dirajut. Sebab dalam keterpisahan ada rasa rindu, yang banyak dilukiskan oleh para pujangga sebagai sebuah peristiwa yang penuh keindahan. Namun siapa sangka dalam hati ada rasa yang terus menggebu, dan terus memenuhi pikiran kita hingga sindrom rindu itu menyerang. Barangkali itu sebuah ketersakitan semu, sebab di antara kita semua ada yang senang berkhayal, bermimpi, dan membangun kebersamaan dalam sebuah angan.

Cinta adalah keterpisahan. Tidakkah dirimu sepakat akan pernyataan ini? Izinkanlah aku meyakin bahwa kamu takkan pernah sepakat dengan hal ini, atau mungkin sebagian besar darimu takkan pernah setuju. Sebab cinta adalah kebersamaan. Bagaimana mungkin kamu mencinta namun tak pernah bersama. Bagaimana mungkin cinta hanya sebatas dalam angan belaka. Terkecuali cinta kepadaNya, kepada RasulNya, nyaris tak mungkin kau mencinta dengan rasa keterpisahan. 

Namun lupakah dirimu akan Adam dan Hawa? Cinta mereka semakin terkuatkan manakala Allah memisahkan mereka di dunia yang masih terasa asing bagi mereka. Maka keterpisahan mereka barangkali adalah keterpisahan terberat. Kamu takkan sanggup mensketsakan, manakala mereka diturunkan ke dunia yang luasnya terhampar. Sedang mereka hanya berdua saja, satu di ujung dunia yang tak tahu harus ke mana. Beberapa riwayat menyebutkan mereka terpisah selama lima ratus tahun lamanya. Ah manusia mana yang takkan dipenuhi putus asa ketika 5 abad tak bertemu? Maka ituah cinta. Sekalipun keterpisahan itu mendera, namun manakala hati telah bertautan, tidakkah setiap langkah kan membawa ke titik pertemuan?

Cinta adalah keterpisahan. Pun demikian dengan Ibrahim. Manakala ia meninggalkan Hajar dan buah cintaNya yang masih kecil di gurun padang pasir tuk menjemput cintanya yang hakiki. Aku percaya Ibrahim adalah manusia biasa seperti kita. Tidak mungkin ia pergi tanpa beririsnya hati. Tidak mungkin ia pergi tanpa rindu yang membara. Namun begitulah kekuatan cinta. Ia mampu memberikan kekuatan seorang wanita hingga tanpa terasa lalui 7 bukit tanpa henti. Barangkali keterpisahan itu berbuahkan cinta yang bermuara. Bermuarakan mata air hasil jejak-jejak kaki Ismail as. Hingga kini mata air itu terus mengalir, memberikan penghidupan bagi tanah arab. Maka kini tidakkah kau bertanya bahwa zam-zam pun sesungguhnya berawal dari keterpisahan cinta?

Kamu pun tentu ingat akan Yusuf dan Ya’qub. Bagaimana mereka terpisahkan puluhan tahun karena sebuah skenario kejahatan yang direncanakan. Bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri. Hingga buta-lah mata dari Nabi Ya’qub sebab hari-harinya dipenuhi dengan air mata rindu akan Yusuf. Laksana Adam dan Hawa, keterpisahan raga takkan pernah membuat keterpisahan sesungguhnya. Sebab ia hanyalah semu selama jiwa itu masih berpadu atas izinNya.

Tapi sebaik-baik keterpisahan cinta adalah manakala seseorang dalam hembusan nafas terakhirnya berkata dengan penuh cinta. Bukan keluarganya, kekasihnya, bahkan istri-istriNya. Ialah sosok yang bahkan beliau takkan mungkin mengenalnya semua. “Ummati..ummatii…ummatii..”. Ya, begitulah tiga kata yang keluar dari lisan beliau. Sebaik-baik teladan bagi ummat manusia. Sebaik-baik pemberi syafaatNya kelak di hari kiamat. Hingga dalam keterpisahan itu, sekalipun kita tidak pernah menemuinya, bukankah kita benar-benar mencintai beliau?

Dan kelak, keterpisahan itu barangkali akan menghampiri kita. Sebab kita takkan abadi di dunia. Kita adalah makhlukNya yang fana. Namun tak selamanya cintaNya berbuah surga, maka sudah siapkah kita mencintaiNya ketika nanti tertakdirkan tuk berada dalam keterpisahan yang telah tertulis?

Cinta adalah keterpisahan barangkali kamu takkan pernah percaya jika itu bukanlah sebuah peringatan. Bahkan itu sebuah ujian. Seberapa kamu mencintainya karenaNya. Seberapa kamu ikhlas dalam membangun mahligai cintaNya. Sebab jika kamu mampu melewatinya, maka bersyukurlah kepadaNya. Dzat yang justru kelak insya Allah kan mencintai kita dalam keterpisahan kita dengan dunia.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

5 Responses

  1. ecafaurani says:

    Reblogged this on Nuraesa Nufus Faurani and commented:
    Nah…. Cinta itu bukan melulu tentang kebersamaan…..

  2. katamiqhnur says:

    mantap ..
    salam kenal yaa..
    kunjung balik ke –> http://www.katamiqhnur.com

Leave a Reply to Mushonnifun Faiz Sugihartanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *