Tanpa Karena

Abstract-Wallpapers0

Orang-orang berkata, “Aku mencintainya sejak pandangan pertama bertemu,”. Maka itulah penyempitan makna cinta. Bagaimana bisa manusia mencintai, sedang mereka belum mengetahui kepribadian sosok yang dicintai. Ibarat kamu membeli buah. Kamu hanya tahu keindahan warna dan rupanya. Namun tak pernah kamu tahu akan isinya sebelum kamu mampu membuka lapis demi lapisnya. Atau kamu nantinya akan mengeluh manakala membukanya? Ibarat kamu memakan buah itu, lalu kamu memuntahkannya sebab rasanya terlalu masam. Maka akankah kau campakkan dia manakala kau tahu tak sesuai harapanmu?

Tapi mereka bergeming. Sebab cinta pada pandangan pertama hanyalah sebuah pertanda. Hanyalah sebuah isyarat belaka untuk berjalan lebih jauh. Bukankah Tuhan menciptakan mata untuk menangkap getaran-getaran dari makhluk ciptaanNya?

Ada pula orang berkata, “Aku mencintainya sebab wajahnya laksana purnama,”. Maka cintanya hanya berdasarkan suatu hal yang fana. Andai tua nanti barangkali tetap seperti purnama, namun tanpa sinar mentari yang menyinarinya. Lalu tetapkah mereka mencintai purnama tanpa sinarnya?

Ah, mereka lagi – lagi bergeming. Bagi mereka wajah adalah langkah awal tuk mencintai lebih dalam. Bagaimana mungkin kami kan tertarik dengannya lebih jauh, jika melihatnya saja tidak membuat mata ini terlabuhkan? Lagi-lagi mereka tetap bersikukuh, bahwa wajah barangkali adalah segalanya. Sebab mereka berikrar nantinya seiring berjalannya waktu, barangkali wajah itu kan terlebur, namun tidak dengan hati-hati mereka.

Hingga tibalah kita pada golongan yang barangkali kecil jumlahnya. Mereka berkata, “Aku menyukainya, tapi aku tak pernah tahu mengapa,”. Kata-kata itu seringkali muncul dari sebagian kecil di dunia ini. Terkadang kita tidak memahami. Sebab cinta selalu punya alasan tersendiri untuk hadir. Cinta selalu memiki motif dibalik ketersembunyiannya dalam hati manusia. Lalu jika cinta itu hadir tanpa alasan, apakah itu hanya ketersmuan belaka?

Namun mereka bergeming. Mereka ceritakan dongeng nenek moyang mereka bahwa ada sepasang pasangan tua. Yang satu telah sakit jiwa hingga membuatnya hilang ingatan. Satunya telah tua renta. Mereka terpisah jauh karena pria tersebut tak sanggup lagi merawatnya dan hanya hidup sebatang kara. Sementara anak-anaknya telah merantau semua. Tinggallah ia sendiri di rumahnya. Sesekali tetangganya membantunya dalam sehari-hari. Sementara ia tak pernah kekurangan sebab anak-anaknya selalu mengiriminya.

Lalu pasangannya, seorang wanita tua renta, tinggal dua puluh kilo meter jauh-nya di sebuah panti pengasuhan. Pria itu setiap pagi datang untuk menyuapinya. Mendengar keluh kesah wanita itu. Menghapus air matanya manakala ia menangis. Menatap matanya dengan penuh cinta sekalipun tatapannya kian hari kian kosong. Ketika di tanya tentang pria itu, wanita itu hanya menggeleng tak tahu apa-apa. Sementara pria itu dengan senyum tulusnya berkata, “Ia adalah istriku, separuh agamaku, pengisi ruang-ruang cintaku,”.

Cinta tanpa karena barangkali telah tergambarkan diantara mereka berdua. Bukan karena rupa, sebab mereka telah renta. Bukan karena hati, sebab separuhnya telah hilang ingatan bahkan sakit jiwa. Bukanpula karena harta sebab mereka tak lagi miliki apa-apa. Adalah ikatan abstrak yang barangkali tak mampu manusia menjelaskannya. Cukup satu kata Kun Fayakun dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka jadilah sebuah cinta tanpa karena.

Lalu jika cintamu masih terkandung suatu ‘karena’, bisakah kau katakan itu sebuah ketulusan cinta?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *