Cerbung: Masih Maukah Kamu? (1)

Tokyo

Usianya saat ini baru saja 24 tahun. Ia baru saja menyeleseikan gelar Doktornya di sebuah universitas ternama di Amerika dengan predikat cum laude sekaligus menjadi lulusan terbaik dan tercepat di masanya. Ia bahkan berhasil menjadi seorang entrepreneur sukses dengan mempublikasikan karya-karyanya. Teman-temannya se-angkatannya begitu segan dan kagum kepadanya. Bagaimana tidak, selain ia dikenal baik hati, ia juga suka mengajari teman-temannya tentang mata kuliah yang dianggapnya sulit. Motto hidupnya adalah bermanfaat untuk sesama. Ia pun aktif di berbagai kegiatan sosial terutama dalam bidang pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Sejak kuliah S-1 dulu entah kenapa dia begitu mencintai anak-anak kecil dan itu membuatnya sempat mengabdi di sebuah gerakan mengajar yang dianggap prestis di negara asalnya. Bahkan ia telah berkelana dari satu negara ke negara yang lain di seluruh dunia untuk mengikuti aneka konferensi dan telah dikenal sebagai presentator ulung khususnya terkait isu perlindungan anak.

Lalu bagiamana dengan agamanya? Jangan tanya. Ia adalah lulusan terbaik sebuah pondok pesantren yang cukup ternama di negara asalnya. Berbekal hafalan Quran 30 juz-nya sempat ia mendapatkan tawaran beasiswa langsung dari pemerintah Arab Saudi untuk belajar agama lebih mendalam. Lalu ia menerimanya. Singkat cerita ia berhasil menyeleseikan S-1nya dengan cepat serta dengan predikat yang memuaskan. Di usianya yang pada waktu itu masih baru genap 20 tahun ia sekaligus menjadi lulusan terbaik. Maka dalam sekejap ia menjadi buah bibir warga di kampungnya. Termasuk para gadis di desanya. Namun ia memilih untuk fokus menyeleseikan studinya. Meraih mimpinya yang barangkali hanya ia dan Tuhan saja yang mengetahuinya.

Pencapaian tersebut membuat sebuah universitas tertua di dunia yang terletak di Mesir tertarik untuk merekrutnya. Bukan meminta, tapi ia bahkan diminta untuk melanjutkan pendidikannya. Namun kali ini ia ragu. Berhari-hari ia merenung sendiri, dan menghilang dari dunia sosial yang begitu ditekuninya. Hingga ia muncul dengan wajah yang berseri-seri. Ia berkata dengan sepenuh keyakinannya, “Maaf, tapi Eropa-lah pelabuhanku selanjutnya,”ujarnya dengan yakin.

Maka berangkatlah ia menuju Eropa. Ia rasa telah cukup bekal ilmu agama yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun sejak di pondoknya dulu sampai jenjang S-1. Kecintaannya pada dunia anak-anak membuatnya ia memutuskan mengambil S-2 di bidang psikologi anak. Lagi-lagi beasiswa. Di sebuah universitas ternama di negeri kincir angin. Karirnya di sana melejit. Ia bahkan langsung magang di kantor Kedutaan Besar negaranya sebab kemampuan komunikasi dan wawasan globalnya yang begitu luar biasa. Bahkan ia menjadi imam di masjid di kampusnya karena hafalan Qurannya. Ia pun dicintai para dosen dan kawan-kawannya sebab ia dikenal luwes namun selalu menjaga kesantunan dalam berkomunikasi. Benar saja hanya dalam waktu satu tahun pasca ia diterima ia telah lulus lagi-lagi menjadi sarjana terbaik. Disertasinya diakui sebagai penemuan teori baru khususnya dalam bidang psikologi di negeri kincir angin. Bahkan dipatenkan secara internasional. Namanya melejit dan banyak tawaran dari berbagai universitas ternama untuk disinggahinya. Kembali ia menghilang beberapa hari untuk bermunajat kepada rabb-nya. Dan Amerika menjadi pelabuhannya selanjutnya.

Hari ini ia menggunakan pakaian terbaiknya. Dengan jas hitam dan dasi merah mengkilat. Seorang perempuan disampingnya tak pernah lepas dari gandengannya. Ia adalah ibunda dan orang tuanya satu-satunya saat ini yang selama ini begitu ia banggakan. Di tengah pidatonya sebagai seorang lulusan terbaik tiba-tiba ia turun dari podiumnya. Berjalan menuju tempat duduk ibundanya, seraya menggandengnya dan mengajaknya naik ke atas podium. Hadirin bertepuk tangan, sebagian di antara mereka berkaca-kaca. Sementara ibundanya telah basah dengan air mata. Lalu dia tetap dengan wajah tenang dan dinginnya seolah tak menunjukkan ekspresi apapun.

Selepas lulus, tentu perusahaan dan instansi mana yang tak tergiur dengannya. Proposal untuk melamarnya bekerja pun masuk dari berbagai tempat. Lagi-lagi ia hanya tersenyum dan berkata bahwa negeri tujuannya adalah tanah airnya. Indonesia. Ia hanya berkata tak ingin jauh-jauh dari ibundanya yang saat ini hidup hanya sebatang kara bersama adiknya. Maka pulanglah ia dengan membawa berjuta kebanggaan. Ia kini begitu dinanti oleh tetangga sekitarnya, masyarakatnya, bahkan bangsanya.

2500 meter di atas permukaan laut. Inilah ketinggian pesawat yang ia tumpangi saat ini. Bersama ibundanya ia bercakap-cakap melepas rindu setelah sekian tahun hanya bertatap melalui goresan aksara dan sketsa wajah yang terus ia kirimkan kepada ibundanya. Malam telah larut, namun mereka berdua masih bercakap-cakap. Hingga ibundanya pun memberinya sebuah pertanyaan yang barangkali tentunya wajar, namun menjadi kejutan baginya.

“Nak, usiamu sudah dewasa, dan kamu telah meraih segalanya. Sekarang, kapan kamu menikah? Ibu sudah tua dan amat merindukan hadirnya cucu di antara keluarga kita,”.

Pria itu terkejut dan terdiam. Ia pun berpikir singkat dan menjawab, “Entahlah bunda, sejujurnya saya masih merasa belum siap. Saya masih rindu setelah waktu memisahkanku dengan bunda. Sejujurnya saya kembali ke Indonesia pun untuk menemani bunda, tidak ingin hanya karena menikah nantinya saya kembali meninggalkanmu, bunda,”ujar Pria itu.

Bunda pun terdiam. Ia hanya menitikkan air mata. Sementara pria itu terus menerka-nerka. Apakah sebuah tangis haru yang melanda ibundanya. Ataukah sebuah perasaan kecewa terhadap pernyataanya barusan.

“Jika itu tadi adalah permintaan bunda terakhir, masih maukah kamu memenuhinya anakku?” tanya bundanya tiba-tiba.

Pria itu terkejut. Dengan respon yang cepat, ia menjawab, “Insya Allah saya akan segera melaksanakannya bunda. Mohon keridhaannya dan doanya,”ujar Pria itu.

Suara pengeras pesawat berbunyi bahwa sebentar lagi mereka akan mendarat. Dan dua orang tersebut tertidur pulas usai kelelahan berbincang.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *