Cerbung: Masih Maukah Kamu? (2)

Tokyo

“Allahu akbar allahu akbar…”. Azan Shubuh berkumandang di surau tanah minang. Namun ada yang tak biasa. Kali ini suara itu mengalun merdu. Hingga penduduk kampung pun penasaran. Suara ringkih dan serak yang biasanya menghiasai Subuh itu kini telah tergantikan oleh suara lain. Suara yang barangkali dirindukan selama beberapa puluh tahun oleh warga pedesaan. Suara yang telah lama tak terdengar.

Pria itu telah usai menuntaskan kumandang panggilan dariNya. Bergegas ia laksanakan Shalat Fajr. Dinginnya udara subuh seakan tak menjadi masalah baginya, sebab sejak pukul 3 bahkan ia hidupkan lampu suraunya, menyapunya, dan shalat malam di dalamnya. Hari itu ia kembali ke surau yang sempat menjadi tempat bermainnya 18 tahun yang lalu. Sebab semenjak ia berusia 6 tahun, ayahnya yang kini telah tiada dahulu mengirimnya untuk belajar ke sebuah pondok di tanah jawa.

Penduduk desa pun penasaran dibuatnya. Hingga jamaah shalat subuh yang biasanya hanya 1 shaff, kini membeludak hingga laksana Shalat Jum’at. Bahkan jauh melebihinya karena terdapat para wanita yang turut meramaikannya. Pagi itu suara merdu yang puluhan tahun telah dirindukan kembali hadir menghiasi rongga-rongga pendengaran warga pedesaan. Ya, pria itu dipercaya menjadi imam. Maka ia hadirkan bacaan yang begitu di rindukan warganya. Hingga sebagian besar jamaahnya menitikkan air mata. Terlarut dalam indah bacaan QuranNya.

Pagi itu, pria itu dan ibundanya berangkat menuju tanah jawa. Tempat dulunya pria itu dipondokkan. Telah lama pria itu merasa rindu denggan pondoknya dahulu, sekaligus ia ingin mengajak jalan-jalan orang tua satu-satunya kini. Usai subuh tadi ia berangkat menuju bandara bersama ibundanya. Meninggalkan tanah minang yang barangkali baru saja seminggu ia menjejakkan kaki di sana.

Adapun tujuannya selain bersilaturrahmi, tentu saja pria itu ingin menemu murabbinya dahulu. Tentu saja terdapat maksud lain, yakni ia ingin dicarikan pendamping hidup untuknya. Pria itu begitu berdebar-debar. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Pun demikian dengan ibundanya. Sesekali mereka bicara, dan pria itu kembali bercerita tentang kehidupannya di tanah rantau. Namun suasana mereka tidak seperti biasanya. Apakah karena mereka sama-sama tegang, atau lainnya.

Pukul Dua Belas, dan tak terasa pesawat yang mereka tumpangi telah landing di bandara. Mereka tiba di suatu daerah istimewa. Ya! Jogjakarta. Kota yang kata sebagaian orang kota penuh budaya. Adapula yang menyebutnya Kota Santri. Pria itu pun terkejut. Banyak sekali yang berubah dari kota tempat ia dipondokkan dulu. 18 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melakukan perubahan. Sembari mengingat-ingat, pria itu langsung memesan taksi, membawa ibundanya ke sebuah tempat di tengah pedesaan jogja. Sebuah pondok legendaris, yang dulunya didiirikan salah seorang pahlawan masa pergerakan nasional. Beliau adalah Ahmad Dahlan. Ulama’ besar Muhammadiyah yang terlahir di Jogjakarta.

Jalanan siang jogja cukup padat, membuat ia ingin memejamkan mata di taksi. Begitu pula ibundanya yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Namun semakin mengantuk, semakin pria itu tak bisa tidur. Barangkali ia telalu berdebar. Beberapa saat lagi mungkin sebuah peristiwa besar akan terjadi dalam hidupnya. Peristiwa yang dalam Quran tersejajarkan dan disebut dengan Mitsaqan Ghalidza, perjanjian besar antara Tuhan dengan para Nabi.

Tak terasa mereka telah sampai. Pondok itu pun ternyata tak banyak berubah sekilas dari luar. Gerbangnya masih sama dengan dahulu.  Bedanya sekarang sudah semakin coklat dan beberapa bagian terlihat berkarat. Tanpa ragu ia pun memasuki pondok itu bersama ibundanya. Bergegas ia menuju ke ruangan guru. Ia bahkan tidak tahu apakah murabbinya tersebut masih mengajar di pondok itu atau sudahkah ia berpindah.

Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya. Terkejut ia dan berbalik badanlah. Terdapat sosok lelaki berambut putih tersenyum. Lelaki itu tersenyum. Garis-garis di kepalanya kian banyak menunjukkan usianya yang kian tua. Masih mengenakan baju koko putih seperti kebiasaannya dahulu. “Assalamu’alaikum, Bagaimana nak, kabarmu? Ternyata ini arti dari mimpi saya semalam. Bagaimana kalau kita berbincang di dalam?” tanya lelaki tua itu.

Pria itu pun langsung memeluk menyalami tangan lelaki tua itu. Air matanya berlinang. 9 tahun perpisahan bukanlah waktu yang singkat. Ya, Ustadz Arqom namanya. Sosok murobbi yang dahulu begitu membimbingnya sejak ia awal masuk di pondok ini. Ia sudah menganggap Ustadz Arqom sebagai ayahnya sendiri.

“Begini Ustadz. Kedatangan kami di sini, sebenarnya tidak hanya silaturrahmi ustadz. Tapi ingin memohon bantuan jika ustadz berkenan sebelumnya.” Ujar Ibunda pria itu. Ia mengatakannya langsung, sebab dari tadi pria itu dan Ustadz Arqom justru malah berbincang mengenang masa lalunya di pondok itu, bagaimana pula pria itu menceritakan kehidupannya di luar negeri sana.

“Hmm, ada yang bisa saya bantu ibu?”tanya Ustadz Arqom.

“Usia putraku ini sudah dewasa. 24 tahun sekarang lebih tepatnya. Segalanya sepertinya telah ia raih di luar sana. Namun ada satu yang belum ia tunaikan. Ialah menyempurnakan agamanya. Sekiranya ustadz memiliki rekomendasi, berkenankah di ta’arufkan ustadz?” tanya ibunda pria itu.

Ustadz Arqom pun tersenyum, dan ia menerawang ke langit-langit. Dari kedatangan mereka di awal ia sudah menduga tentang hal tersebut. Ia pun tersenyum. Mimpinya beberapa hari yang lalu hari ini telah terbukti.  Ia pun sesungguhnya telah menyiapkan seseorang untuk muridnya itu. Seseorang yang barangkali memang pantas untuknya.

“Muridku, ada seseorang yang baik akhlaknya. Sejak kecil saya telah mengenalnya dengan baik. Mungkin pendidikannya tidak setinggi kamu, namun ia telah menyeleseikan strata-1nya dengan predikat cukup memuaskan. Saat ini kesibukannya mengajar di suatu universitas sebagai seorang dosen muda. Usianya 2 tahun lebih muda darimu. Dari segi agama, Insya Allah dia baik menurutku. Apakah antum bersedia dita’arufkan dengannya?”tanya ustadz Arqom.

“Sebelumnya, mohon maaf ustadz. Tentu dia memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekiranya boleh tahu, apakah kekurangan yang dimiliki olehnya?” tanya pria itu.

Ustadz Arqom pun hanya tersenyum maklum, “Muridku. Sebagai seorang lelaki mungkin kamu akan sedikit kecewa. Ia tidak bisa memasak. Masih maukah kamu?”tanyanya.

Aku terkejut, namun karena menikah adalah orientasi agama, aku tetap mengangguk.

“Dia pun tidak biasa mencuci pakaiannya sendiri. Apalagi nanti ketika mencucikan pakaianmu dengan anak-anakmu. Masih maukah kamu?” tanya beliau.

Lagi-lagi aku terkejut. Namun aku masih berkeyakinan. Ah, kan ada laundry. Nggak masalah kok. Dengan mantap aku tetap mengangguk.

“Dia sudah pernah menikah, namun karena suatu hal, tidak sampai setahun pernikahannya ia terpakasa bercerai dengan suaminya, anakku. Masih maukah kamu?” tanya beliau.

Demi Allah aku benar-benar terkejut mendengarnya. Namun sekali lagi, bahwa aku berkeyakinan bahwa mencintai karenaNya itu berarti aku siap menerima kekurangannya. Maka lagi-lagi aku anggukkan kepalaku.

Ustadz Arqom tersenyum. Sementara Ibunda pria itu sempat menggelengkan kepalanya. Namun ia berusaha menerima calon menantunya nanti. Sebab ia percaya bahwa tiada kesempurnaan yang dimiliki seorang wanita. “Baiklah, kalau begitu. Nanti malam langsung saya pertemukan antum dengannya. Semoga cocok. Jika memang iya, besok kamu bisa segera menikah denganNya. Bukankah kebaikan seharusnya disegerakan?”tanya beliau.

Ibunda tersenyum. Sementara aku hanya terdiam. Menunduk. Apakah memang secepat ini?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. Dyah Sujiati says:

    Ditunggu edisi berikutnya! 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *