Surya + Mentari = Matahari :)

senja1

Siluet sinar kemerahan mulai menampakkan cahayanya di ufuk barat. Sore itu, hari minggu. Sepasang lelaki dan wanita menikmati senja di taman depan rumahnya sambil bercengkerama. Di temani teh manis hangat serta aneka manisan sederhana, mereka berbagi mesra.

“Sayang, tahukah kamu cerita tentang Surya, Mentari, dan Matahari?”, tanya lelaki tersebut. Perempuan itu menjawab, “Belum tahu sayang. Kamu mau menceritakannya untukku?”tanya perempuan itu.

Lelaki tersebut mulai bercerita tentang cerita tersebut. Surya, Mentari dan Matahari, barangkali selama ini kita menganggapnya suatu benda yang sama. Namun tahukah bahwa sesungguhnya ada mozaik-mozaik yang memisahkan mereka?

Kata “Surya”. Tentu kata-kata tersebut identik dengan laki-laki. Sebagian teman-temanku juga bernama Surya, dan mereka adalah laki-laki. Dalam kepercayaan agama hindu, Surya adalah nama Dewa Matahari. Serupa dengan dunia pewayangan, bahwa ia diberi nama Batara. Yaitu dewa yang menguasai elemen matahari. Ketika kita bicara tentang Surya, tentu identik dengan keperkasaan. Sebab dengan sinar teriknya ia menyinari dunia, memberikan kehidupan dan penerangan di kala siang hari.

“Hmm, aku bingung dengan alur ceritamu sayang,”kata wanita di sampingnya. Pria tersebut hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya.

Mentari. Ia adalah nama yang biasa diberikan kepada perempuan. Ia adalah perlambang keelokan dan kecantikan. Sinar itu akan kita temui manakala ia masih pagi, atau ketika senja. Manakala ia masih malu-malu menampakkan sinarnya di ufuk timur atau pun di ufuk barat. Bayangkan saja, dibalik panas sinarnya yang membakar di kala siang, ia masih memiliki sinar yang begitu indah. Yang memberikan kehangatan di kala dinginnya pagi, dan memberikan keindahan di kala langit sore. Maka tak salah jika mentari disematkan sebagai kebanyakan nama bagi perempuan. Sebab ia adalah perlambang terbaik bagi perempuan.

“Lalu bagaimana dengan matahari? Duh, aku semakin tak mengerti alur ceritamu sayang,”ujar wanita itu.

Pria itu tersenyum. Kali ini ia merapatkan tubuhnya ke istrinya, dan ia dekap dengan menempelkan kepalanya ke kepala istrinya sambil mengelus rambut panjangnya. Sementara istrinya dibekap akan rasa penasaran yang tinggi.

Matahari. Terdiri dari dua kata. Mata dan Hari. Mata adalah salah satu organ tubuh yang kita miliki. Dengannya kita dapat melihat dunia, melihat tanda-tanda kekuasaanNya, serta menyukuri dan bertasbih kepadaNya kala ia dimanjakan dengan hal-hal penuh pesona. Hari adalah jangka waktu tertentu di mana kita akan beraktivitas. Bayangkan ketika kita menjalani hari-hari kita tanpa mata, akankah kita kan menjalaninya dengan indah? Tentu mungkin bagi sebagian orang yang ditakdirkan memiliki masalah dengan matanya adalah iya, namun tentu akan lebih indah ketika mata mampu berfungsi selayaknya manusia biasa. Atau sebaliknya kita memiliki mata namun tak memiliki hari. Apakah mampu kita berjalan tanpa ruang waktu di dunia. Tentu saja tidak. Maka mata dan hari adalah dua suku kata yang tak dapat terpisahkan barangkali. Sebab tanpa mereka takkan mampu lahir sebuah peradaban di dunia ini.

Lelaki itu bertanya, “Sampai di sini paham nggak yang aku maksud di sini sayang?”tanya suami itu. Istrinya menggeleng semakin tidak mengerti. “Kamu mau nggombal atau sok romantis nih?”katanya sambil mencubit suaminya. Lelaki itu tertawa. Ia tak membalas cubitannya. Ia tetap melanjutkan ceritanya.

Surya dan Mentari adalah bagian dari Matahari. Ketika Surya adalah keperkasaan, ia perlambang siang. Ia adalah diriku. Manakala siang hari aku bekerja keras menghidupimu, dan anak-anak kita. Manakala peluh keringat ini jatuh karena panasnya sang Surya. Namun aku memberikan hidup kepadamu, walau terkadang kamu merasa panas akan kesibukanku. Semua demi kamu dan anak-anak kita. Inilah aku, sang surya bagimu.

Sementara mentari adalah dirimu. Kala pagi bangun tidur aku hampir selalu kau bangunkan dengan senyummu. Masih teringat dirimu yang menyajikan teh manis hangat untukku setiap pagi. Kamu adalah mentari di kala pagi yang memberikan semangat untukku dengan siluet indah sinar ketulusanmu. Manakala sore telah tiba, aku pulang ke rumah, lelah bekerja seharian. Dan kamu lagi-lagi menyambutku dengan pelukan mesra serta senyummu yang begitu kurindukan. Seperti mentari sore yang menghadirkan abstraksi sore yang begitu indah. Itulah dirimu, mentariku.

Perempuan itu tersenyum. Ia mulai paham, sementara pipinya memerah menahan malu. Dekapanya semakin erat. Suara burung – burung di langit di sore hari itu semakin menambah romantisme mereka. Ia pun masih penasaran. Ia pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan matahari?”.

“Seperti kataku tadi, di dalam matahari ada Sang Surya dan Sang Mentari. Matahari adalah kita berdua. Tanpamu aku takkan mungkin menghasilkan pagi dan senja yang begitu indah. Tanpamu barangkali rasa kantukku manakala pagi, dan rasa lelahku manakala sore tak mampu melebur hilang. Sedang kamu tanpaku, barangkali kamu takkan mampu hidup, sebab aku yang bertanggung jawab untuk mencarikan nafkah untukmu, untuk anak-anak kita, serta nanti untuk generasi kita mendatang. Maka tetaplah kita bersama hingga nanti, sebab kita adalah matahari. Matahari bagi anak-anak kita, matahari bagi dunia kita, serta matahari bagi peradaban yang akan kita bangun bersama, hingga menghantarkna kita bersinar mengangkasa bukan lagi untuk mencapai matahari yang fana. Namun mencapai surgaNya yang abadi.

Perempuan itu tak sanggup berkata apa-apa lagi. Sementara lelaki itu menutup kisahnya dengan cumbuan mesra. Dan azan maghrib pun menutup senja mereka nan romantis

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

3 Responses

  1. ayuna says:

    Assalamu’alaikum..
    Ini kali pertama saya komentar. hehe
    penasaran sih, kakak suka baca buku apa aja?
    saya suka gaya nulisnya. Hihi

Leave a Reply to Mushonnifun Faiz Sugihartanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *