(Mungkin) Kamu Tahu

hilal-antara1

Jika diberi kesempatan tuk memutar waktu izinkan aku memutarnya kembali di masa lalu. Saat pertemuanku denganmu belum terukir. Saat aku masih dibekap pilihan di persimpangan jalan kehidupan. Barangkali aku bisa memilih di mana persimpangan yang tak ada dirimu di sana. Menggoreskan cerita bersama seseorang yang telah pasti. Mengukir jejak bersama sosok yang bukan dirimu. Apakah ini keterpaksaan atau ketulusan yang harus kujalani, sementara kamu kian hari kian menjauh.

Menjaga hati, pandangan, lisan, pikiran, dan dari fitnah yang timbul. Jika itu tujuanku dan tujuanmu, semoga Tuhan tetap meluruskannya. Menjaganya sebagaimana ia menyeimbangkan semesta dalam lintasannya. Menguatkannya agar pintu-pintu itu tertutup, dan hanya ikrar suci yang mampu membukanya. Ketika waktu itu tentu tiba. Tapi itu kian hari kian kuat. Kian hari batas-batas itu kian terasa. Hingga ketersemuan yang kita harapkan pun kian fana. Adakah perasaan yang kian hari kian tampak, sementara diri kita terbekap dalam kesakralan ikrar yang kian semu?

Kepadamu. Izinkan aku berkata bahwa aku merindu dahulu. Manakala batas-batas itu menjaganya dengan sendirinya. Tidak pula kau perkuat dan kuperkuat, sebab kita telah percaya bahwa Tuhan telah menguatkannya. Manakala pandangan tetap saling bertatap namun menjaga. Manakala lisan ini tetap saling bertegur namun tak berlebih. Dan langkah ini kian hari kian selaras walau tak tampak.

Sebab barangkali kamu telah tahu, dan kita telah saling tahu. Kita bukanlah Ali dan Fathimah, yang dalam saling ketertahuannya mampu menjaga, mampu menahan, pun juga mampu biasa. Kita adalah manusia biasa, manusia akhir zaman yang tinggal dalam keterasingan yang kian hari kian nyata.

Lalu manakala kamu mengetahui, pun demikian demikian dengan diriku. Sementara lisan ini kian membisu. Adakah ia suatu saat kan terbuka dalam suatu ruang waktu?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *