SDE #5 : Kamu Mencintainya?

tumblr_m64l767Dgi1qil6vu

“Begitulah hukum cinta berkata. Ia adalah mengatakan, itu berarti keberanian. Atau merelakan, itu berarti pengorbanan”

Hari itu semestinya ia melaksanakan ujian bersama teman-temannya. Hari itu pula semestinya ia sedang berada di kelas, mengerjakan soal-soal yang akan menentukan kenaikan kelasnya. Namun tidak dengannya. Sudah seminggu terakhir badannya panas naik turun. Keluarganya pun tak mengerti mengapa ia tak kunjung membaik. Sementara ketika diperikasakan ke dokter, hanya berkata bahwa ia hanya sakit demam biasa, semestinya 3 hari sudah mereda.

Cinta membawa ketersakitan barangkali pepatah itu tak salah. Hal itu terlihat pada daun. Beberapa hari terakhir ia terlalu memikirkan kebersamaan yang ternyata semu dan berujung pada keterpatahan hatinya. Sementara Bunda Pohon semakin bingung dengan kondisi anak satu-satunya itu. Obat pun tak teratur di minumnya. Ia lebih memilih memejamkan mata sambil bermalas-malasan di atas kasurnya. Sesekali ia lirik handphone-nya, terdapat beberapa sms atau panggilan tak terjawab. Namun tak satupun hadir dari sosok yang masih dicintainya, Embun.

“Ting tong”. Bel rumahnya berbunyi. Bunda Pohon membukanya. Terdapat teman-temannya sekitar 10 orang datang menjenguknya sembari membawakannya buah-buahan segar dengan harapan ia cepat sembuh. Daun cukup senang, namun ia lebih banyak diam. Sebab yang dinanti tak kunjung datang.

Teman-temannya bahkan membawakan beberapa kisi-kisi ujian. Harapannya Daun ketika sembuh telah siap dan tidak kaget dengan ujian yang akan dijalaninya. Mereka merasa berhutang budi. Ya, sebab Daun dikenal dengan kecendekiawanannya dan suka mengajari teman-temannya. Daun tersenyum tipis mengucap terima kasih. Namun 10 orang itu nyaris tak melegakan hatinya. Bahwasanya ia menantikan seseorang yang bersarang di hatinya. Apakah ia telah lupa kepadanya? Atau jangan-jangan pria tunangan itu yang mencegahnya?

Malam pun tiba. Daun paksakan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia pun menuju buku pelajaran di depannya. Di bukanya kisi-kisi yang diberikan teman-temannya, sembari ia membuka buku pelajarannya. Esok hari adalah ujian hari terakhir, dan ia bertekad masuk sekalipun kondisi badannya masih belum 100%. Ia pun kembali dalam semangatnya, seolah lupa dengan masalah yang menderanya.

07.00. Pagi itu sekoalah terasa ramai dari biasanya. Teman-temannya terlihat lebih semangat dari biasanya. Sebab hari itu adalah ujian terakhir bagi mereka. Tidak bagi daun, ia harus mengikuti susulan yang cukup banyak. Namun itu tak masalah, bukankah ia telah mempersiapkannya semaksimal ia bisa? Daun hanya tersenyum.

Ujian dimulai dan ia bekerja dengan cepat. Matematika adalah pelajaran terakhir hari itu, dan Daun begitu cepat dan bersemangant menyeleseikannya. Tak sampai satu jam ia mampu menyeleseikannya. Ia melompat dari tempat duduknya, mengumpulkan hasil pekerjaannya, sembari keluar kelas sambil mengacungkan kepalan tangan ke teman-temannya. Hari itu seharunya menjadi hari yang paling bahagia sebab hari itu adalah ulang tahun pernikahan ayah dan ibundanya. Namun, sayangnya ayahandanya telah tiada. Maka ia bersama Bunda Pohon selalu membiasakan untuk pergi ke makam ayahnya. Untuk berziarah kepadanya. Untuk mendoakan keselamatannya. Serta untuk membacakan ayat-ayat Tuhan di depannya.

Daun bergegas mengambil motornya. Ia menuju ke tempat parkiran tempat motornya diparkir. Di tengah sepinya tempat parkir, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh ke belakang dan alangkah terkejutnya dia. Sosok lelaki yang ia barangkali menaruh kecemburuan tinggi kepadanya.

“Bro, mau ke mana kamu? Bisa bicara sebentar nggak?”tanya Surya.

Sedikit merasa ogah-ogahan, Daun menjawab, “Oh kamu, saya mau pulang. Ziarah ke makam ayahanda saya. Ada perlu apa kamu di sini? Si Embun belum keluar kok dari kelasnya,”ujar Daun.

“Maaf Daun, tapi kamu menyukai Embun ya?”tanya Surya tanpa pikir panjang. Ekspresi wajahnya bukan menunjukkan ketidaksukaan, namun hanya tersenyum. Senyum yang daun mengetahui bahwa hal itu tidak dibuat-buatnya. Senyum yang tulus seolah mengisyaratkan sesuatu yang terpendam.

Daun terkesiap. Ia tak tahu harus menjawab apa. Sementara pemuda di depannya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mengajaknya berbicara tentang jauh. Tentang sesuatu yang barangkali terpendam di dalam hatinya. Tentang sesuatu yang barangkali Daun tak mengetahuinya antar mereka berdua. Embun dan Surya.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

8 Responses

  1. katamiqhnur.com says:

    tulisannya bagus..
    salam kenal bro..
    kunjungan baliknya ditunggu ya bro..
    http://www.katamiqhnur.com

  2. hesti says:

    hai nie ada sambungannya lagi gak???

  3. Nice, sedep tulisannya Kak. Betewe saya juga suka menulis. Salam kenal ^^

Leave a Reply to oifr Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *