Cerbung: Masih Maukah Kamu? (3)

Tokyo

16.00

Azan ashar baru berkumandang. Di pedesaan seperti ini, memang biasanya sengaja baru jam empat sore dikumandangkan azan. Sebab warga yang kebanyakan buruh tani di sini, baru pulang kerja sekitar jam tiga sore. Selepas bersih diri dan berganti pakaian, barulah mereka pergi ke surau. Dan aku baru mengetahuinya hari itu.

Sejak pukul tiga, aku telah bersiap di surau pondokku dulu. Konon katanya, surau ini telah ada sejak abad ke-18, saat pondok ini bahkan belum diberdirikan. Di sinilah dulu para pejuang kemerdekaan berkumpul, bahkan berlindung di kala Belanda menyerang. Beberapa bagian telah dipugar, namun tiang-tiang serta kerangka atap surau ini, masih asli seperti dua abad yang lalu. Terdapat ukiran-ukiran akultutrasi antara budaya jawa dan arab. Terdapat 5 tiang besar yang melambangkan shalat sebanyak 5 waktu, serta makna bahwa shalat adalah tiang agama. Sementara itu aku melihat langit-langit surau ini, kerangka atap berjumlah tujuh. Tidak seimbang sepertinya di bagian kanan ada 3, di kiri ada 4. Namun bangunan ini tetap kokoh berdiri. Melambangkan langitNya yang terdapat tujuh tingkatan.

“Nak, kamu santri pesantren ini? Bisa minta tolong kumandangkan azan?” ucap seseorang dari belakangku sembari menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang, hanya tersenyum singkat, sembari mengumandangkan azan. Maka usai itu shalat ashar pun dilaksanakan. Kali ini sulit bagi diriku untuk khusyu’. Tinggal menghitung jam sebuah momentum bersejarah akan terjadi dalam hidupku. Momentum yang barangkali akan menjadi penentu kaki ini melangkah. Apakah ia akan menapaki jalan mencapai surgaNya. Ataukah ia akan justru sebaliknya, jatuh ke jurang terdalam kekelaman siksaNya.

Waktu terasa cepat. Tak terasa maghrib pun tiba. Berusaha kutenangkan diriku sembari membaca tilawah di Musholla Pondokku. Sementara ibundaku sedang asyik berbincang dengan Ummi Salamah, istri dari Ustadz Arqom. Pikiranku kian tidak karuan, dan tidak berada dalam bacaan yang aku lantunkan. Sesekali kudengar suara canda tawa mereka berdua. Ah, betapa irinya aku kepada ibundaku, sekilas tak ada ketegangan sedikit pun di wajahnya saat aku meliriknya.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 19.30. Usai shalat isya’, bergegas aku dan ibundaku kembali ke Rumah Ustadz Arqom yang tak jauh berada di pondok itu. Langkahku entah mengapa terasa begitu berat. Pundakku seakan terdapat beban yang begitu menyiksa. Sementara tanganku terasa panas dingin. Gugup sekali aku ini. Seumur-umur tak pernah aku merasakan getaran hebat seperti ini. Lalu apakah dia merasakan hal yang sama?

Pintu ruang tamu terbuka. Kami dipersilahkan duduk. Sementara ustadz Arqom berbincang dengan kami, Ummu Salamah masuk ke dalam. Kelihatannya ia memanggil seseorang. Sosok yang akan diperkenlkan kepadaku, bukanlagi sebagai pelengkap separuh agamaku.

“Kamu gugup nak?” tanya Ustadz Arqom. Yang ditanya bukannya semakin tenang, malah semakin gugup. Aku hanya mengangguk pelan. Sementara Ustadz Arqom hanya tertawa.

“Dulu aku jauh lebih parah dari kamu nak, 30 tahun yang lalu sewaktu mau ta’aruf dengan Ummu Salamah. Kamu tahu? Bahkan waktu itu aku sampai beberapa kali ke kamar kecil saking gugupnya. Ayah dan ibuku pada waktu itu menenemaniku sambil membawa kompress dan minyak kayu putih. Sebab badanku panas dingin tidak karuan. Begitu Ummu Salamah masuk ke ruang tamu untuk menyajikan minuman, aku malah izin keluar. Karena saking malunya aku, hahaha..”ujar Ustadz Arqom berusaha mencairkan suasana.

Aku pun ikut tertawa melihatnya. Sementara ibundaku pun tiba-tiba berkata, “Wah, kalau ayahmu dulu tidak seperti Ustadz Arqom. Beliau memang lelaki sejati. Sehari setelah mengenal ibunda dalam Perlombaan Qiraat tingkat Kotamadya, beliau datang secara tiba-tiba ke rumah Ibu, bersama dengan ayah dan ibunya. Segera ia sampaikan tujuan baiknya. Malah dulu ibunda yang malu-malu dengannya. Eh, seminggu kemudian ternyata kami sudah resmi mengucap janji,”kenang Ibunda Djibran.

Suasana menjadi cair seketika. Djibran pun bercerita, bahwa selama kuliah di Eropa dan Amerika banyak sekali surat-surat dari adik tingkatnya yang ditujukan kepadanya. Bahkan beberapa dari kakak tingkatnya. Namun ia tak pernah menggubrisnya. Ia hanya ingin terfokus menyelesikan studinya.

“Lho kamu nggak pernah cerita sama bunda,”ujar ibunda tiba-tiba. Djibran hanya tersenyum seraya berkata, “Memangnya Bunda juga pernah cerita masalah bunda dengan ayah yang tadi? Djibran saja baru tahu kalau dulu ayahanda melamar ibunda dengan cara seperti itu,”ujar Djibran.

Di tengah percakapan mereka, terdengar suara salam dari luar. “Assalamu’alaikum!”.

Pintu terbuka, dan terlihatlah sosok muslimah yang begitu kukenal. Aku terkejut, dan kutangkap isyarat wajahnya pun begitu. Lalu cessss. Tatapan kami bertemu. Ada getaran yang tak pernah kurasakan sebelumnya seperti saat dulu mengenalnya. Barangkali ia pun juga merasakan hal yang sama. Sebab ternyata aku begitu mengenalnya

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. Membaca nama ust.Arqom sy jadi teringat ust.Akhmad Arqom, ceramahnya begitu adem dan menumbuhkan semangat. Teringat saat beliau mengisi bedah buku di PLN Ketintang bersama istri dan putrinya yg cantik 🙂

    Sy tunggu lanjutan ceritanya Kang. Vivat!

  1. November 5, 2014

    […] ada beberapa orang aja deh yaa 😀 Award nih buat kelen, sobat blogku yang kece kece >> Faiz, Maryam, Fina, Kak Ajo, kakak Kebo, Kak Ndha Andini, Anisa Azis, Ria laila, Kak Adininggar, Mas […]

Leave a Reply to A. Dzulfikar Adi Putra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *