Resensi Buku: Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati.

Judul Buku          : Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati

Penulis                 : Ahmad Rifa’i Rifan

Penerbit              : PT Elex Media Komputindo

Cetakan ke         : VII, Oktober 2014

Tebal                     : 210 Halaman

 

 

 

 

“Aku lebih memilih mati secara berarti, daripada hidup tanpa arti” – Corazon Aquino

Ada sekelompok manusia yang memadatkan usianya dengan beragam karya. Namun ada pula yang sudah merasa cukup hidup dengan aktivitas yang apa adanya. Tak penting meereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ada yang mengisi hari dengan beragam kontribusi. Namun ada pula sekelompok manusia yang hidupnya hanya memperjuangkan kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri. Tak penting mereka siapa. Yang lebih penting, kita yang mana?

Ada yang memilih mengabadikan hidup jadi pahlawan, namun ada pula yang hanya puas jadi petepuk tangan. Tak pentin gmereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ada yang ketika lahirnya semua orang di sekitarnya tersenyum manis, dan ketika tiada semua orang sesenggukan tak bisa menahan tangis. Namun ada pula orang yang ketika lahirnya semua orang di sekitarnya tersenyum manis, dan ketika ia tiada, senyum orang di sekitarnya ternyata terasa semakin manis. Tak penting mereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ratusan abad silam dunia dikejutkan dengan dengan kehadiran seorang pria yatim yang mampu menoreh prestasi tak terkira. Baru meninggalkan usia balita, ia sudah piatu. Lengkap sudah hidup tanpa ibu ayah di usia yang masih sangat belia. Tapi ia bukan anak manja. Di usia dua belasan tahun, ia memegang unit usaha internasional Abu Thalib sampai ke Syam dan berhasil menjadi penjual yang sukses berkat kejujuran yang dipegangnya. Usia dua puluhan ia dipercaya memagan bisnis besar yang diingestasikan Khadijah.

Tak lama kemudian, beliau membuktikan diri sebagai panglima dan administrator militer yang tidak ada duanya. Sepuluh tahun di Madinah, tiga ratusan detasemen beliau pimpin dengan sukses luar biasa. Dua imperium besar saat itu, Persia dan Romawi, terpaksa mengakui keagungannya. Dan dunia mengenalnya dengan nama yang agung itu, Muhammad SAW.

Begitulah hidup memang bermula dengan “B” (Birth) dan berakhir dengan “D” (Death). Dan yang harus senantiasa teringat, bahwa antara “B” dan “D” ada “C” yang berarti Choice. Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menabar manfaat. Pingin jadi winner atau looser. Mau jadi juara atau biasa-biasan saja.

Hidup hanyalah sekali. Maka pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya tetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih suraga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Tuhannya.

Hidup sekali berarti, lalu mati.

Ahmad Rifai Rif’an lagi-lagi kembali dengan buku motivasi islamnya. Gaya bahasanya begitu khas. Ringan dibaca namun bermakna dalam. Buku ini disajikan dengan kisah-kisah singkat penuh hikmah. Kemudian di setiap kisah, penulis melakukan pembahasan sesuai dengan topik dari kisah tersebut.

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama bertajuk Hidup Sekali. Bagian ini menceritakan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan damai dan tenteram. Namun pada intinya menekankan bagimana manusia agar bisa bermanfaat. Hal yang ditekankan di sini bahwa manusia hanya diberi kesempatan hidup sekali. Maka sungguh sangat rugi bila manusia tidak bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Bagian kedua bertajuk Berarti. Pada bagian ini dijelaskan ladang-ladang kontribusi bagi para manusia. Intinya adalah bagaimana kita bisa mengabdi dan menghasilkan karya yang penuh arti. Tidak harus berkarya, namun bisa saja kita bekerja kerasa dengan niat untuk bermanfaat bagi sesama manusia.

Bagian ketiga bertajuk lalu mati. Akhirnya sebenarnya pilihan mati dengan cara apa dan bagaimana sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Apakah kita akan mati sebagai pribadi yang khusnul khatimah, atau mati secara su’ul khotimah. Semuanya adalah pilihan kita, karena kita lah yang akan menjalani kehidupan ini.

Secara garis besar, buku ini menyajikan kisah yang luar biasa. Bahasanya ringan, disertai kisah-kisah yang menggugah dan merubah. Untuk seukuran buku motivasi, buku ini cukup komplit menjelaskan hal-hal mulai dari hidup sampai mati, serta ibadah apa yang harus kita lakukan.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

Leave a Reply to alfasemua Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *