Hujan Telah Turun

rain-room-at-moma-10

Hujan telah turun. Membasahi bumi. Yang sekian lama bermesra dengan langit. Tapi langit hanya memberikan mentari. Ia hanya berpikir memberikan cerahnya cinta. Padahal cinta bukanlah soal cerah belaka. Ia terkadang bermuram durja. Laksana awan mendung yang menutupi mentari. Ia hadir buukan untuk membawa kesedihan. Namun semata untuk mendewasakan. Sebab rasa muram durja selalu ada sebabnya. Dan manusia dituntut dengan kedewasaannya mampu tuk menyeleseikannya. Serta berharap sadar, bahwa senantiasa ia harus menyebut dan mengingat akan Tuhannya.

Hujan telah turun. Membasahi padang rumput. Yang kian hari kian tandus. Hingga rumput pun menguning, mengering dan semakin hilang dari pandangan. Padahal mereka tiada henti bertasbih kepada Tuhannya. Ah betapa malu kita sebagai manusia. Yang sedikit sedikit menggerutu akan ketetapanNya, padahal berjuta nikmatNya telah diberikan cuma-cuma. Sementara rerumputan yang bahkan menderita karena hujan tak kunjung turun tetap bertasbih kepadaNya.

Hujan telah turun. Kembali ke peraduannya. Kembali ke asalnya. Ia kembali dengan bentuk yang berbeda. Menghadirkan kesejukan setelah sejenak singgah di langit. Menjadi tetesan tetesan kecil yang menghujam dunia dari angkasa. Jika saja ia mau barangkali takkan kembali ia kepada bumi. Namun hujan terlalu berbakti kepada bumi. Sekalipun di sana ia tercemari ia tetap kembali. Membawa kesejukan yang selalu dinikmati.

Hujan telah turun. Menyertainya dengan langit yang kelabu. Membawa awan dengan guntur yang menggelegar. Menghadirkan angin yang berembus kencang. Hingga hadirkan ketakutan bagi siapapun yang terjebak di tengahnya. Namun ia hanya sementara. Sebab ketika reda, ia hadirkan pelangi dan mentari yang kembali bercahaya. Membuat mata takjub akan kuasaNya.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *