Resensi Buku: Self Driving, Menjadi Driver / Passenger ?

1541575img-1417780x390

Awal tahun 2015 ini saya membaca sebuah buku. Ya, dari salah satu seorang penulis favorit saya. Beliau adalah Rhenald Kasali, guru besar FE-UI yang kaya akan gagasan-gagasan brilian. Buku ini merupakan bukunya yang paling baru. Khususnya buat teman-teman yang masih ragu untuk membeli buku ini saya rekomendasikan untuk membacanya. Mungkin ini sedikit gambaran tentang buku ini.

Self Driving. Pada hakekatnya, manusia terlahir sebagai seorang driver. Ia diberikan anugerah yang luar biasa oleh Allah SWT untuk menentukan nasibnya sendiri. Anugerah itu berupa kendaraan yang bernama “Self”.  Dengan kendaraan tersebut manusia akan mampu mencapai semua mimpi dan memaksimalkan potensinya bahkan dengan cara yang tak pernah terbayangkan. 

Namun, problematika sistem pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun adalah sama. SDM yang dihasilkan lebih dari 90% menjadi seorang passenger. Mereka cenderung pasrah akan keadaan, memilih hidup dengan zona nyamannya sebagai seorang penumpang keadaan. SDM tersebut dilahirkan dengan sebuah budaya pendidikan yang dinamakan “proteksi”. Ya, tentunya pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu. Tradisi mengasuh anak dengan proteksi yang berlebihan dengan dalih “kasih sayang” tidak sepenuhnya pula benar.

Kalau kita membaca sejarah Nabi Muhammad SAW,  bahkan di usianya ke 12 tahun beliau sudah terbiasa menggembala kambing dan berdagang lintas negara. Bahasa sekarangnya beliau bahkan telah menjadi international entrepreneur. Melewati gurun pasir dan melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki berhari-hari lintas negara tentu bukanlah hal yang mudah. Namun di usianya yang masih belia, beliau telah membuktikannya.

Akibat dari proteksi yang berlebihan tersebut jelas, ketika dewasa hal itu terbawa. Kaum muda justru cenderung menjadi lumpuh dalam mengambil keputusan. Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa banyak kaum muda yang selepas dari universitas yang ia jalani dengan susah payah dan biaya yang tidak murah justru bingung mau ke mana di dunia pasca kampus?

Pendaftar SNMPTN berdasarkan data dari Depdiknas dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Dalam tempo 4 tahun sejak tahun 2008 jumlah peminatnya naik hampir mencapai 3x lipat. Apakah hal tersebut meruapakan kabar gembira? Sementara dari 7.7 juta penduduk Indonesia yang menganggur hampir 500.000 orang di antaranya adalah sarjana.

Dalam dunia riil tidak dibutuhkan seorang pegawai atau pekerja yang bertipe “pemegang ijazah”. Namun yang dibutuhkan adalah manusia yang memiliki keterampilan memindahkan pikiran ke dalam tindakan nyata. Tindakan hanya bisa didapat melalui latihan dan disimpan dalam muscle memory (myelin). Sedangkan pengetahuan di simpan dalam brain memory. Brain akan berkembang jika manusia mampu melatih myelin-nya. Celakanya di bangku kuliah pelatihan semacam itu tidak didapatkan. Sehingga sarjana yang lulus hanya memiliki kompetensi dan pengetahuan saja, namun tidak tahu bagaimana cara menerapkannya.

Maka tidak heran, perusahaan-perusahaan di Indonesia selepas menerima sarjana harus melatih ulang mereka. Entah itu disebut dengan management trainee atau yang lainnya. Jika kondisinya demikian, mengapa tidak dilakukan reform ulang sistem pendidikan dan kurikulum sekolah-sekolah di Indonesia?

Pada hakikatnya menjadi passengers tidaklah masalah. Asal menjadi passengers yang baik. From bad passengers transform to be good passengers. Sebelum bertransformasi lebih jauh menjadi good driver, hendaknya ia bisa mengikuti sistem yang ada dengan baik. Sistem perkuliahan, sistem organisasi yang diikutinya atau yang lain. Setelah ia menjadi good passengers, ia akan lebih mudah diarahkan menjadi seorang good drivers.

Bad drivers bisa juga disebut dengan sopir ugal-ugalan. Mereka adlaah sekumpulan oran gyang sakit hati, agresif, mudah tersulut kebentcian, lebih mencari pembenaran ketimbang kebenaran. Sehingga ujung–ujungnya reputasi orang tersebut makin hancur dan semakin tidak terpercaya. Efeknya? Luar biasa. Mereka bisa membuat good passengers menjadi buruk.

Sedangkan good drivers, banyak sebutan yang layak disematkan kepada meraka. Mereka bisa saja seroang enterepreneur, profesional, CEO, dan sebagainya. Yang membedakan adalah mereka selalu keluar dari zona nyamannya. Sebut saja Soekarno, Hatta, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya mereka adalah contoh dari good drivers. Mereka merupakan inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.

Karakteristik lain dari good drivers adalah mereka memiliki pola pikir “out of the box”. Pola pikir iniah yang di tahun 1960-an banyak ditekankanoleh para ahli untuk melatih para eksekutif menemukan cara-cara baru. Karakter ini pada dasarnya merupakan langkah awal seorang passenger untuk menjadi seoran driver. Ingat bahwa driver adalah seorang pengemudi yang harus tahu jalan mana saja yang akan ia lalui. Ia tahu segala resikonya, konsekuensi, dan segala hal yang harus ditanggung bila ia mengambil keputusan tersebut.

Self driving memiliki tujuan besar menjadi pendobrak diri dalam beraksi. Sehingga mereka lebih waspada, insiatif tinggi, berani mengambil langkah, lebih fleksibel namun tetap kritis. Seorang good drivers dan good passengers pada hakikatnya merupakan seorang winner. Ia mampu mengambil segala kesempatan dan memaksimalkan potensi dirinya. Sebaliknya, seorang bad drivers dan bad passengers merupakan seorang loser. Ia selalu mencari alasan ketika akan bertindak atau berbuat.

Buku ini merupakan buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir dan ringan, mudah dipahami oleh kawula muda khususnya. Sekali lagi, Rhenald Kasali menunjukkan karakteristiknya dalam kepenulisan buku-bukunya. Ia menulis berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang di lapangan yang pernah dialaminya sendiri, atau dari sumber terkait lainnya. Fakta tersebut diperkuat oleh tinjauannya secara ilmiah dan gagasan-gagasan yang semakin menguatkannya.

Khsusunya bagi anda kawula muda, semoga bisa tersadarkan. Bahwasanya IP tinggi tak menjamin kita mampu survive dalam kehidupan ini. Rhenald Kasali telah membuktikan melalui riset dan penelitiannya. Juga melalui pengalamannya dalam berkelana ke berbagai negara. Mengubah mental memang tidak semudah membalikkan mata uang. Apalagi mengubah sistem pendidikan negara kita ini menjadi sistem pendidikan yang mencetak driver. Namun jika kita tidak mampu mengubah diri kita sendiri, lalu bagaimana kita mampu mengubah negeri ini?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *