Nulis Bareng Ibu : Karenanya Aku Bisa Berjalan

10404323_10203752981364702_8797841446634575551_n

Aku berlari. Mengelilingi lapangan di dekat rumahku. Sore hari mentari yang bersinar cerah membuatku bersemangat mengelilingi lapangan. Aktivitas liburan membuatku banyak menghabiskan waktu dengan kegitan se-produktif makin. Hingga aku kelelahan sendiri. Seraya duduk. Kupandang kedua kakiku. Sambil mengingat kisah dan foto-foto yang ditunjukkan ibuku padaku kemarin. Tentang masa kecilku. Tentang keajaiban kasih sayang Allah. Tentang perjuangannya dulu membuatku menjadi seperti saat ini.

Tak bosan-bosannya ibuku sejak aku kecil dahulu hingga saat ini memintaku untuk mencabuti ubannya. Ya, sampai sekarang ketika kuliah pun dengan usiaku yang cukup dewasa untuk saat ini, setiap kali pulang kampung ke Malang, ibuku memintaku untuk mencabuti ubannya. Aku sendiri tidak mengerti, karena kata beliau uban di kepala membuat kepala terasa gatal. Namun, aku selalu menurutinya. Mencabut ubannya satu demi satu. Ya, sebab di situlah ibuku dan aku bisa saling bercerita, curhat, yang intinya aku semakin merasa dekat kepadanya. Sampai sekarang ada satu cerita yang tak pernah bosan diceritakannya kepadaku. 

A : Aku ; I : Ibu

I : Mestinya kamu bersyukur sayang. Aku setiap pulang atau kamu pas nggak ada (sedang kuliah di Surabaya), mesti yang tak ingat-ingat itu kakimu dulu.

A: Iya ma, Alhamdulillah. Coba dulu Papa sama Mama tidak mengusahakan mungkin sekarang aku jadi orang cacat peramanen ma. *berkaca-kaca*

I : Mungkin kamu sudah bosan kalau mama cerita tentang hal ini. Tapi, mengapa mama nggak pernah bosan? Ya! Supaya kamu belajar menyukuri hidup sayang.

A : *manggut-manggut*

I : Kamu tahu, 21 tahun yang lalu ketika kamu lahir semua senang atas kelahiranmu. Iya, terutama almarhum kakekmu dan almarhumah nenekmu. Jelas saja, karena papa dan mama dulu sama-sama anak pertama dari mereka. Maka kelahiranmu merupakan pemberian cucu pertama bagi mereka. Ya! Sudah 3 tahun kita semua waktu itu menunggu kehadiranmu. Papa sama Mama menikah tahun 1991, dan tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi kami semua menantikan kehadiranmu.

A : Trus, gimana ma dulu waktu mengandung aku?

I : Entah kenapa yang tak rasakan dulu kamu sama adikmu itu beda di dalam kandungan. Kamu aktif banget sayang, sampai seringkali tengah malam sepertinya kakimu menendang-nendang. Dulu mama seringkali tidak bisa tidur. Pokoknya kalau sudah begitu sering kamu dulu tak putarkan lagu-lagu shalawat nabi, tak bacakan terus shalawat Nabi. Papamu juga kadang-kadang menemani mama bangun, sambil dielus-elus perut mama, sambil dibacakan Shalawat Nabi yang buaaanyaaak pokoknya.

A : *berkaca-kaca*

I : Waktu kamu lahir, sekeluarga senengnya bukan main. Kebetulan kamu dulu lahir pas mama di rumah kakekmu. Sekitar habis maghrib, perut mama sudah kerasa sakit. Langsung dibawa ke Dukun Bayi, kalau orang desa menyebutnya langganan orang-orang di kampung. Sekitar jam 9 malam hari Senin Legi, kamu lahir. Waktu itu sekeluarga terkejut sayang. Soalnya kakimu bengkok dua-duanya.

A : Bengkoknya seperti apa ma ? Sampai sekarang aku masih bingung, nggak bisa membayangkan.

I : Seperti ini lho. (Beliau mencontohkan memiringkan kakinya dengan posisi telapak kaki di atas, dan punggung kaki menghadap ke bawah). Waktu mengandung kamu, mama memang pernah jatuh terpeleset di kamar mandi. Untung tidak apa-apa. Eh ternyata efeknya sampai ke kamu.

A : Terus, gimana ma reaksi orang-orang waktu melihat kondisiku seperti itu?

I : Semua awalnya kaget dan sempat terpukul sayang. Namun, semua sadar dan akhirnya berupaya menerima. Yang paling nggak percaya mungkin waktu itu almarhum kakekmu. Nah, kamu tahu sendiri kan, kalau Abah (panggilan kakek) itu saudagar yang kaya lah di kampungmu. Beliau juga dermawan sama orang-orang di kampung. Tapi ya itu ada aja orang yang nggak suka sama almarhum Abah. Waktu itu ya muncul isu aneh-aneh. Ada yang bilang kena kutukan, kena santet, bahkan sampai bilang kena azab. Bahkan ada yang mengungkit-ngungkit gara-gara mama menikah sama papamu.

A : Kok sampai mengungkit nikah sama papa maksudnya gimana ma?

I : Kamu tahu kan sayang, diantara adik-adik mama, cuman mama dulu yang memilih papa sebagai suami dengan latar belakang papamu itu dulu anak seorang petani miskin. Cuman mama dulu cinta aja sama papamu. Ya bayangkan di satu desa kan papamu itu sarjana pertama yang lulus dari Universitas di Malang. Waktu itu ya papamu masih melarat. Nggak punya apa-apa. Dulu papamu pernah ngajar Mama di pondok, karena selisih kita kan 6 tahun. Nah, waktu itu mama yakin ke depan sosok papamu itu yang bisa mengubah kehidupan di kampung ini yang masih meremehkan pentingnya pendidikan. Nah pas mama milih papa, dan papamu juga cinta sama mama, banyak orang-orang kampung yang mencibir. Masa’ anaknya saudagar nikah sama anaknya buruh tani. Tapi mama sama papa udah terlanjur cinta, dan abahmu juga merestui. Ya sudah jalan aja hehe.. *ibu cerita sambil senyum-senyum*

A : Waduh ma, kok romantis gitu ceritanya hehe. Terus gimana caranya kok sekarang kakiku bisa normal lagi?

I : Kamu harusnya berterima kasih sama Abahmu sayang. Makannya jangan lupa selalu bacakan Al-Fatihah buat arwahnya supaya tenang di akhirat sana. Dulu abah yang paling panik dan berusaha keras membawamu ke mana-mana. Awalanya di bawa ke surabaya, ke RS. Dr. Soetomo. Katanya harus dioperasi dikasih semacam pen *besi penyangga*. Abahmu takut, dan akhirnya di bawa dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. dan hasilnya sama aja.

A : Terus gimana ma keputusannya?

I : Waktu itu kami semua bingung sayang. Soalnya abahmu nggak tega sama kamu. Akhirnya diputuskan kamu di gips saja.

A : Di gips ? Memangnya waktu itu dapat ide dari mana ma ?

I : Waktu itu papa shalat istikharah dan entah kenapa tiba-tiba ya dapat petunjuk seperti itu. Kan kakimu juga masih kecil. Masih beberapa bulan umurmu. Jadi tulangmu masih muda, masih gampang kalau diluruskan Insya Allah. Bismillah, kareana waktu itu kita tidak punya uang, akhirnya kamu digips sendiri sama papa dan mama. Dulu abahmu itu yang sering menggendong kamu. Sampai bantu ganti popok kamu. Waktu kamu berak sampai membersihkan sisa-sisa berakmu di kasur. Waktu itu setiap 2 bulan sekali, gipsmu diganti sampai kakimu sembuh.

A : Emangnya berapa lama ma, dulu aku digips?

I : Sekitar 2 tahun lamanya. Baru setelah itu waktu kamu umur 2,5 tahun pertama kali kamu diajari jalan sama Papa. Alhamdulillah nggak berapa lama kemudian kamu bisa jalan. Waktu itu papamu menangis lihat kamu pertama kali bisa jalan, bahkan bisa lari-lari sama sepupu-sepupumu yang lain.

Kemarin papa cerita pas habis pulang dari luar kota beliau kan di terminal. Tiba-tiba ada pengemis meminta-minta. Pengemisnya merangkak karena kakinya cacat. Dan katanya persis banget cacatnya sama cacatmu dulu. Langsung beliau berkaca-kaca melihatnya nak. Dikasih duit seratus ribu. Membayangkan seandainya kamu dulu nggak bisa sembuh, jangan-jangan kamu saat ini berjalan sepertinya. Makannya bersyukurlah. Berterimakasihlah kamu sama papamu, terutama almarhum Abahmu. Jangan lupa terus bacakan dia doa.

A : *melihat kakiku, seraya memeluk ibu*

“Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di websitehttp://nulisbarengibu.com” 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *