Cerbung: Bumi yang (Tak Lagi) Merindukan Hujan (1)

matahari dan bumi

 

Aku cemburu. Hadirku sepanjang waktu tak membuatnya tergugu. Sementara aku dia yang hadir sementara waktu membuat jiwanya beradu. Wahai Tuhan, di manakah letak keadilanMu?

Bumi dan Matahari. Sepasang kekasih sejak semesta lahir. Kata orang mereka lahir dari asal yang sama. Sebuah ledakan yang maha dahsyat. Jika mereka manusia, barangkali cinta mereka adalah cinta terlarang. Namun mereka tak pernah tahu akan hal itu. Sebab itulah bumi begitu menanti matahari di kala malam tiba. Dan kembali bermesra kala hari tiba.

Hujan. Ia adalah teman bumi pada awalnya. Sebab hadirnya pun karena matahari. Di kala bumi merasa gersang terbakar, ia sering meminta matahari untuk menghadirkan awan agar mampu hadirkan hujan. Dan matahari pun selalu menghadirkannya. Begitu cinta ia kepada bumi kadang ia menghadirkan terlalu banyak awan hingga dirinya pun tak mampu melihat bumi. Namun tak apalah, sebab cinta sejati terkadang butuh pengorbanan.

Bahkan kadang awan terlalu banyak menjadi air. Menjadikan bumi banjir, longsor, dan bencana lainnya. Seringkali matahari meminta maaf kepada bumi. Namun bumi tak pernah bosan memberikan maaf. Ia sadar bahwa matahari bukanlah kekasih yang sempurna. Pun demikian matahari ia nyaris tak pernah meminta apapun dari bumi. Sebab hanya cinta sempurnalah yang mampu menjaga ikatan mereka.

Lalu tentang hujan. Pada awalnya, bumi berteman erat. Hingga suatu hari ia sadar. Bahwa hujan selalu membawa pelangi. Menjadikan matahari pun seringkali mengacuhkan bumi manakala pelangi hadir. Ah, barangkali pelangi memang jauh lebih cantik. Sementara bumi hanyalah gumpalan tanah yang dipenuhi butiran debu. Hingga bumi cemburu. Bagaimana bisa ia yang hadir sepanjang waktu untuk matahari tak lagi mendapatkan perhatian. Sementara pelangi yang hadir sementara waktu mendapatkan penantian dari matahari.

Hingga ia tak lagi ingin bertemu matahari. Ia pun tak ingin bertemu hujan. Jadilah bumi pun senantiasa diselimuti kegelapan dan kekeringan. Menjadikan manusia di dalamnya merana, meratapi fenomena yang aneh ini. Flora pun mati perlahan-lahan, diikuti oleh para fauna yang tak lagi mendapat makanan.

Aduhai bumi, tidakkah kau memahami maksud tersembunyi matahari?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *