#LostAtMalaysia #Day1: Karena Dekat Bisa Saja Hanya Sebuah Kefanaan

cimg1869

25 November 2014

Suasana di asrama PPSDMS waktu itu masih lengang. Maklum saja pada waktu itu suasana masih liburan. Beberapa dari kami masih libur di daerah masing-masing. Namun tidak dengan beberapa anak di antara kami. Pagi itu sekitar jam 9, sampailah aku di asrama. Dengan membawa ransel dan beberapa barang bawaan lainnya. Rasanya masih tidak percaya jika malam nanti aku akan bertolak ke Negara tetangga. Ya, begitu besar nikmatNya, sehingga 9 di antara kami mendapatkan kesempatan mengikuti konferensi pemuda tingkat Asia Tenggara. ASEAN University Youth Summit 2015. Tepatnya di Universiti Utara Malaysia, Kedah.

Siang itu, mendadak suasana asrama yang sepi menjadi gaduh karena kedua rekan perjalananku, Galih dan Ainun ribut. Hal itu dikarenakan Galih, yang baru datang dari KKN-nya, baru saja membuka email e tiket yang sudah dibelinya sejak jauh jauh hari. Dan sesuai dengan julukan yang melekat kuat di asrama “Mr. Typo” dan malangnya kejadian typo pun menimpa dan kali ini di tiket pesawat yang ia beli. Penulisan nama Galih dan Ainun di tiketnya salah karena kurang hanya satu huruf. Galih Kurnia G. A . “Stanto” (huruf U) dan Muhammad Ainun “Tamiyah” (ini kurang huruf I dan parahnya tidak ada nama belakang Indra). Sontak saja kami bertiga yang masih polos untuk urusan keluar negeri ini khawatir. Ya, jelas saja khawatir karena ada kesalahan penulisan nama. Bayang-bayang tidak jadi berangkat pun membayangi dua orang temanku itu.

Hal itu semakin runyam manakala mereka berdua mencoba menghubungi Call Centre Air Asia. Katanya nama sudah tidak bias diubah dikarenakan minimal perubahan haruslah H-1 hari. Yang terjadi justru pihak call centre meminta kami berurusan dengan pihak bandara langsung.

Singkat cerita, penerbangan kami yang masih jam 20.30 malam, akhirnya kami harus terpaksa lebih awal menuju bandara untuk menghindari kemungkinan terburuk. Jam 16.15 kami sudah berangkat dari asrama. Sampai di bandara sekitar 17.15 dan ternyata setalah di crosscheck petugas hal itu tidak masalah. Oke masalah satu selesai.
image

 

Lautan Awan Cumulanimbus

Bayang-bayang kecelakaan air asia sekitar hampir sebulan yang lalu tentu masih saja membayang-bayangiku. Awalnya aku merasa tenang. Namun, selepas boarding pass, ketika pesawatku Air Asia AK-363 bersiap untuk take off di runaway, ia tidak segera take off. Aku melirik jam, dan sudah pukul 20.45. Artinya ia seharusnya telat 15 menit. Entah kenapa pesawat berhenti sejenak dan posisi dudukku yang berdekatan dengan jendela membuatku melihat jelas bahwa langit sedang mendung tebal. Dan tiba-tiba ada fenomena yang membuatku gugup. Terlihat kilat garpu membelah angkasa. Usai kilat itu datang, take off lah pesawat saya.

Tidak hanya sampai di situ saja. Ketika take off entah kenapa begitu lama. Saya memang belum berpengalaman ke Malaysia, namun pengalaman ke Hong Kong 7 tahun silam saat cuaca cerah menggunakan Garuda, take off tidak selama itu. Sampai 30 menit lebih pesawat saya masih gelap dan kondisi siaga sabuk pengaman masih dinyalakan. Sementara dari jendela saya, kilat awan komulanimbus terlihat di mana-mana. Beberapa kali pesawat mengalami getaran walaupun hanya sedikit. Namun itu sudah cukup membuat jantung saya berdegup kencang.

Sekitar 45 menit usai take off, barulah lampu indikator sabuk pengaman mati, dan lampu kembali menyala. Pesawat berada di ketinggian 38000 kaki. Yah, singkat cerita, Alhamdulillah happy ending. Pesawat saya dapat mendarat sekitar pukul 00.05 waktu Malaysia di KLIA2 dengan selamat sentausa. Oke, ujian kedua terlewati.

KLIA 2. Pertemuan.

            Di bandara ini, tanpa sengaja di sector imigrasi kami bertemu dengan teman kami satu asrama. Pak We dan Helmy. Keduanya memutuskan naik Lion dari Jakarta setelah sebelumnya menempuh perjalanan kereta dari Surabaya. Mereka beralasan masih takut naik air asia dari Surabaya. Kami berlima pun segera menyeleseikan urusan imigrasi dan mengambil bagasi. Karena 3 diantara kami belum shalat isya’ kami pun memutuskan untuk shalat isya. Saya dan Ainun menunggu di terminal bus.

Rencana awal kami malam itu langsung menuju Kuala Lumpur City Central untuk mengambil foto di depan Twin Tower Petronas. Namun itu berantakan. Ya, karena kelelahan perjalanan kereta, Pak We dan Helmy justru malah tidur-tiduran di Musholla. Alhasil ternyata kami baru mengetahui bahwa bus ke KLCC hanya ada sampai jam 2. Bus yang lainnya jam 5.15 baru ada. Sedangkan jika naik taksi biayanya luar biasa. Maksimal 1 mobil 4 orang dan biayanya 300 RM. Haloooww, satu juta lebih hanya untuk perjalanan sekali ke KLCC. Yah, belum takdirnya rupanya berfoto di depan Twin Tower dengan gemerlap lampunya. Akhirnya kami memutuskan membeli tiket bis jam 05.15 dan seraya menuju musholla bandara untuk tidur. Rupanya di situ pun banyak backpacker seperti kami yang tidur juga.

Pukul 04.30 aku terbangun. Subuh di Malaysia masih jam 06.00. Kemudian aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamu Lail sejenak. Sekitar 30 menit kemudian tepatnya jam 05.00 aku membangunkan kawan-kawanku. Bergegas menuju Bus. Kali ini kami berharap tidak ketinggalan.

And Twin Tower, Here we Go! 😀
image

Jam 06.27, sampailah kami di Pudu Raya Bus Station. Segera aku nyalakan GPS-ku mencari Masjid Jami’ terdekat. Sampailah kami sekitar pukul 06.42. Matahari masih belum jua terbit. Lokasi masjid tersebut berdekatan dengan LRT Station. Kami pun segera melaksanakan Shalat Subuh, dan inilah WBS kami berlima pertama di luar negeri. “Maka Nikmat Tuhan Manakah yang Engkau Dustakan?”
image

Selepas subuh, secara tidak sengaja kami melihat Kuala Lumpur Tower terlihat dari Masjid kami. Wah, kebetulan berarti lokasinya tidak jauh. Kami pun memutuskan untuk bergegas sarapan. Di sekitar masjid banyak penjual makanan. Kami pun membeli Nasi Ayam. Harganya 5 ringgit, menggunakan beras merah. Setelah dirasakan rasanya mirip ayam bumbu kacang, namun aroma khas Malaysianya begitu terasa.

Seharusnya ke KLCC bisa menggunakan LRT. Namun, gedung yang sepertinya terlihat dekat membuat kami berasumsi bahwa lokasi twin tower pun tak jauh dari tempat kami. Akhirnya kami berlima pun memutuskan berjalan untuk menghemat biaya. Namun, akhirnya kami nyasar dan 2 di antara kami sudah tumbang terlebih dahulu. Pak We dan Helmy memutuskan kembali ke pudu raya untuk menuju changloon, lokasi konferensi kami. Sementara aku, ainun dan Galih pantang menyerah menuju Twin Tower dengan berjalan kaki.

Hasilnya? Kami membutuhkan waktu 2.5 jam. Bayangkan kami belasan kilo meter berjalan dengan membawa beban berat barang bawaan kami. Sekitar jam 10 kami bertiga baru sampai di Twin Tower. Itu pun setelah bertanya ke sana kemari. Dengan bersimbah keringat kami beristirahat sejenak.
image

image

Puas berfoto-foto selama satu jam, sekitar pukul 11 kami memutuskan kembali dengan menggunakan LRT karena lelah berjalan. Setelah bertanya ke sana kemari kami menemukan stasiun Kuala Lumpur City Centre yang ternyata terletak di bawah menara Petronas. Masuk ke dalamnya dan kami membeli tiket LRT untuk kembali ke Stasiun Masjid Jami’. Dan ternyata ? Harganya hanya 8.4 RM untuk kami bertiga. Itu sekitar 30ribu rupiah. Di dalam kereta, kami tertawa bersama. Bayangkan saja, hanya 10ribu selama 30 menit dan nyaman pula. Sedikit kami tadi menyesali mengapa tidak naik kereta saja, sehingga dapat menjangkau spot-spot lain untuk berfoto. Namun nasi telah menjadi bubur. Kami harus segera ke puduraya bus station untuk menuju Changloon Bus Station untuk mengikuti acara kami.

Di Bus, kami bertiga tertidur pulas, mungkin kecuali yang sedang menulis ini ya, hehe. Tapi so pasti saya sudah tidur sekitar 2.5 jam. Sakitnya pundakku baru terasa. Ya, memang beban 11 kilogram di pundak saya, dengan badan yang kecil seperti ini harus menempuh belasan kilometer untuk berjalan kaki.

Pelajaran hari ini. Satu, tidak semua yang terlihat dekat itu dekat. Dua, seharunsnya kami lebih berani bertanya. Ya, awalnya kami enggan untuk bertanya dengan kesoktahuan kami bertiga menelusuri jalanan Malaysia. Ternyata gedung tersebut begitu jauh. Padahal di sana kami pun masih bisa menggunakan bahasa Indonesia, walaupun seringkali kami sok-sok menggunakan bahasa inggris. Ya, sekalian berlatih lah heehe.

Ya, inilah kisah perjalananku hari pertama. Masih 7 hari lagi, karena penulis tanggal 29 langsung melanjutkan perjalanan ke Hong Kong untuk mengikuti Make A Difference Forum. Perjalanan masih panjang, dan semoga penulis diberikan kekuatan dan kesehatan untuk Allah SWT di tengah padatnya agenda ini. Yang terpenting, semoga bisa tetap belajar dari kesalahan.

ASEAN University Youth Summit 2015, we are coming 🙂 !

Gurun, Malaysia Utara
16.40

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *