#TravellingToHongKong #Day4: Hello Stranger :)

image

Pukul 04.30 aku terbangun. Masih terlampau pagi untuk sebuah negara bernama Malaysia. Ya, sebab di sini Subuh baru sekitar pukul 06.15 pagi. Namun pagi itu pukul 05.30 aku harus segera berangkat menuju airport Sultan Abdul Halim. Ya, tepat pada pagi ini, aku melanjutkan perjalanan ke Hong Kong. Untuk mengikuti forum keduaku, yang kali ini skala asia. Make A Difference Forum 2015. Sebuah forum yang di mana kita akan membicarakan kehidupan para Villagers serta nantinya kita langsung di ajak untuk meng-eksplore kehidupan pedesaan di Hong Kong.

Usai melaksanakan qiyamu lail, aku berkemas. Memaksakan diri mandi di tengah dinginnya Malaysia. Pukul 05.15, saya dan Ainun (rekan satu perjalanan yang juga lolos ke Hong Kong) melakukan check out dari penginapan. Kami bergegas turun dan di situ Bis Universiti Utara Malaysia ternyata telah menunggu.

Di tempat itu ternyata cukup ramai. Beberapa teman kami pun juga pulang pagi itu menuju Alor Setar. Saya, Ainun, dan Mas Aga (delegasi dari ITS, red) berjalan bersama-sama ke bandara.

Sesampai di bandara sekitar pukul 06.30 lekas kami menuju surau untuk melaksanakan Shalat Subuh terakhir kami di Malaysia. Pada pukul 08.30, saya dan Ainun berlepaslandas menuju kuala lumpur. Dan di sinilah sebuah pertemuan itu terjadi. #apasih

Hello Stranger

cimg1933

Perempuan berjilbab tertutup itu duduk di dekatku. Aku penasaran. Seumur-umur baru pertama kali bersebelahan langsung dengan seorang perempuan yang begitu tertutup, bahkan bercadar. Warnanya serba hitam, dan ia memakai syal bermotifkan bendera palestina. Penasaran, kuberanikan diri menyapanya.

Sarah namanya. Secara usia, ia berarti masih di bawahku. 19 tahun. Ia berkuliah di Universiti Islam Malaysia dengan mengambil jurusan Syariah. Tujuannya ke Kuala Lumpur ternyata untuk berlibur kembali pulang ke rumah keluarganya. Ia tidak sendiri. Ia pulang bersama temannya yang mengambil jurusan akuntansi di univeristas yang sama.

Perjalanan satu jam terasa singkat manakala diskusi tentang keislaman di Malaysia dilangsungkan. Saya banyak mendapat informasi tentang keislaman di Malaysia. Dan itu menjawab keheranan saya, sebab selama berada di Kuala Lumpur, saya tak pernah satupun melihat perempuan dan laki-laki berjalan berduaan, terutama penduduk lokalnya. Bahkan orang-orang yang saya temui di jalanan, yang mereka berwajah melayu semua berhijab. Sarah mengatakan malah beberapa daerah malah terdapat petugas atau polisi khusus yang menegur warganya jika menemukan berduaan, bergandengan tangan atau apapun itu apalagi jika mereka belum menikah. Bahkan ada pula daerah atau negara bagian mereka yang menerapkan aturan jika ketahuan berduaan akan langsung dinikahkan. Saya hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala mendengarnya.

Perjalanan masih berlangsung panjang. Kami bercerita tentang bagaimana masalah toleransi islam di Indonesia yang begitu tinggi. Pun demikian Sarah rupanya tertarik dengan bagaimana umat islam di Indonesia bisa mewarnai kondisi Indonesia, sebab sebagian besar penduduknya beragama islam.

Yang membuat saya kagum dengannya, saya mengamati selama kami bicara pada awalnya ia tak mau menatap wajah kami. Menundukkan pandangan matanya. Mungkin karena sepertinya dia merasa tidak enak, akhirnya sempat bertatap mata walau sepertinya ia malu. Mencoba peka dengan hal tersebut saya mengatakan, “It’s no problem, if you don’t see me, i know there is are some  muslimah who still do that.” Ia pun mengangguk dan kelihatan merasa lega.

Perjalanan satu jam menjadi tak terasa. Rasanya masih kurang untuk berbicara banyak dengannya. Sebenarnya saya berupaya meminta kontaknya, sebab mungkin dia suatu saat bisa saya wawancarai untuk dijadikan bahan tulisan saya. Namun, saya sungkan dan sepertinya dia mungkin tak mau memberikannya. Saya sempat sampaikan hal tersebut ke Asma, temannya yang berkuliah di jurusan akuntansi bahwasanya hal tersebut berlaku di Malaysia khususnya untuk perempuan seperti Sarah,  tidak akan sembarangan memberikan kontaknya kepada orang yang baru dikenal.

Tak terasa jam  menunjukkan 09.40. Kami pun mendarat di Bandara Alor Setar, Sultan Abdul Halim Airport. Seusai turun, kami memberanikan diri untuk mengajaknya berfoto bersama. Untungnya dia mau dan tak masalah baginya. Dan Cheeessss, finally sebuah kenangan manis terukir di Kuala Lumpur. 🙂

Maybe it’s not the last, Insya Allah 🙂
image

Selepas mengambil bagasi, kebetulan kami satu pesawat dengan Alisha, teman kami yang berkewarganegaraan Malaysia, salah satu volunteer di conference AUYS 2015. Pesawat kami masih pukul 16.30 sore, itu artinya kami masih punya sekitar 7  jam untuk menunggu. Namun, kami tak mungkin keluar bandara, karena itu terlalu singkat. Jadilah Alisha mengatakan, sebaiknya kami menunggu di bandara, sebab jika mau berjalan-jalan ke KL Sentral, untuk perjalan ke sana paling cepat menggunakan LRT saja membutuhkan waktu 1.5 jam sekali pergi. Padahal untuk penerbangan Internasional kami harus sudah 2 jam berada di bandara untuk amannya. Akhirnya kami menghabiskan waktu di bandara dengan berkeliling, dan makan di McD. Saya pun memutuskan untuk menghabiskan dengan menuliskan catatan perjalanan saya ini. Singkat cerita, sekitar 16.30, pesawat Air Asia AK-130 yang saya tumpangi lepas landas ke Hong Kong.

Assalamu’alaikum Hong Kong !
image

Pukul 20.30. Selama di pesawat saya duduk bersebelahan dengan Kakek Hyun, beliau berasal dari Korea. Sempat kami bercakap-cakap sebentar, dan saya cukup kagum ternyata beliau memiliki bahasa inggris yang bagus. Beliau bercerita sedang berlibur berdua dengan istrinya ke Hong Kong. Oh maaan, alangkah romantisnya. Hahaha..

Kami sampai dan segera menuju ke imigrasi. Bandara Hong Kong International airport, yang terletak di Chep La Kok Island, adalah bandara terbesar ketiga di dunia, menjadikan saya sempat ngos-ngosan karena saking jauhnya berjalan dan panjangnya antrian imigrasi.

Hingga akhirnya kami bertemu dengan peserta lain MaD Forum 2015 yang sudah kami chat dan komunikasi lewat whatsapp sebelumnya. Kami pun berkenalan satu sama lain, mulai dari UGM, Politeknik Sriwijaya, serta universitas lainnya. Selanjutnya kami berpisah. Ada yang menginap di alumni-nya, madsol kebtulan dia alumni insan cendekia, ada yang menginap di kos TKI, di mansion. Sedangkan saya sendiri termasuk beruntung mendapatkan penginapan gratis di Kedutaan Besar Indonesia Hong Kong.
image

Pukul 00.30. Aku merenung. Masih panjang perjalanan ini. Pertemuan dengan Sarah di pesawat kemarin menyadarkanku bahwa masih banyak ternyata umat islam yang terus berjuang dalam eksistensi dakwahnya. Aku menjadi penasaran, lalu bagaimana dengan kondisi islam di Hong Kong, sebuah negara yang begitu tinggi sekulerismenya? Ah aku tak tahu, dan berharap nanti di forum MaD Asia bertemu dengan Sarah-sarah lainnya, atau kawan lain dari Asia yang semoga bisa di ajak bertukar informasi.

Malam itu mataku terpejam. Atas kuasaNya, atas izinNya, akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di negeri beton ini. 2005 dan 2007, ya dulu aku sempat menjejakkan kaki di sini untuk berdakwah di pengajian TKI. Dan semoga semangat militansi mereka tak kunjung padam.

Indonesian Embassy

Waktu Berkah Subuh

05.54

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *