Cerbung : Bumi yang (Tak Lagi) Merindukan Hujan (3-habis)

matahari dan bumi

Rindu kadang menjadi indah jika kau membayangkannya. Padahal jika kau menjalaninya, rindu begitu menyakitkan. Itulah yang dialami bumi yang sedang dirindu matahari. Sementara matahari pun demikian merindukan bumi. Bumi merasa gerah sebab terik matahari yang semakin menjadi. Sementara matahari semakin lelah bersinar terik tuk menyampaikan pesan rindunya pada bumi.

Hingga akhirnya mereka berdua membuka diri. Bumi menangis. Bukan karena memaafkan matahari. Namun karena ia begitu merindukan. Pun demikian dengan matahari. Ia menangis. Bukan karena lelahnya bersinar terik tanpa henti. Namun sebab ia melihat bumi yang disinarinya menjadi gersang dan kering kerontang. Tidakkah cukup jika itu menjadi bukti bahwa rindu itu menyakitkan? 

“Sesungguhnya aku cemburu padamu, wahai kekasihku. Engkau selalu hadirkan hujan untukku, sementara aku bersyukur sebab hujanmu membawa kesejukan padaku. Namun mengapa kau menyertakan pelangi bersamamu? Bukankah aku telah cukup dengan kesejukan airmu?”tanya Bumi,

Matahari terkejut. Tak pernah terbayang bumi berkata seperti itu. Sementara ia terdiam membisu. Ah, kadang cinta butuh saling memahami, dan tak selamanya memahami hanya dengan isyarat hati. Ia dapat terwujud pula melalui komunikasi. Kadang kau butuh usaha lebih untuk memahamkan dan memahami. Ah, betapa rumit seni mencintai, namun tidakkah indah jika kau mampu memainkannya dalam iringan melodi?

“Kau tahu, aku hanyalah segumpal bola api bumi. kamu melihatku hanya sebagai warna putih jika siang hari, atau kemerahan jika sore hari. Ada satu hal yang aku percaya, Bumi. Sebab ada orang bijak pernah berkata jika kau saling mencintai, maka tanpa sadar kan terlihat kesamaan demi kesamaan di sekitarmu, Bumi. Tidakkah kamu tahu bahwa aku berusaha membiaskan sinarku di pagi dan sore hari, sebab dengan siluet indah itulah aku kan menyapa dan mengucapkan perpisahan yang sementara kepdamu. Siang hari, aku begitu terik, sehingga kamu tak mampu melihatku. Maka aku turunkan hujan untuk menghadirkan pelangi untukmu Bumi. Sebab ia bisa hadir karena bias sinarku, dan dengan dia-lah warna warni sinarku terurai.

Satu hal lagi bumi. Kau tahu kenapa pelangi berbentuk setengah lingkaran?” tanya Matahari. Bumi hanya menggeleng. “Wahai Bumi kekasihku, aku tahu ketika manusia mencintai seseorang ia memberikan sebuah cincin yang begitu indah untuk pernikahannya. Aku pun menjadi ingin memberikanmu sesuatu. Ya! Pelangi ! Itulah pelangi. Kini apakah engkau paham maksudku? “tanya¬†Matahari. Bumi menggeleng. Ia benar-benar tidak mengerti.

Jika saja aku mampu, aku ingin membuatkan cincin untukmu. Kau lihat pelangi itu, hanyalah separuh cincin. aku tak mampu membuatnya lebih, bahkan lebih besar, ataupun bahkan untuk melingkarimu. Namun cukuplah pelangi itu menjadi separuh lingkaran sebagai perlambang sebuah cincin. Dan cukuplah separuh itu menjadi bukti keutuhan cintaku padamu. Dan bumi pun tersenyum bahagia.

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *