Kartini Dirayakan, Kartini Dipertanyakan

thumb_320_509e2665a9203_509e2665a99da

Hari Kartini. Nama itu mulai diperkenalkan kepada saya manakala duduk manis dan sedang mengalami fase “lucu-lucunya” tingkah laku di bangku Taman Kanak-Kanak dulu. Apalagi melalui lagu anak-anak popular yang diciptakan oleh WR. Supratman, seolah menunjukkan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah sosok yang tanpa cela serta begitu sempurna sebagai panutan wanita Indonesia pada masa itu bahkan hingga saat ini. Berkat segala jasanya itulah, pemerintah Indonesia pada tahun 1964 melalui Kepres No. 108/1964(1) yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno menetapkan sosok RA Kartini sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Pertanyaannya, sehebat apakah RA Kartini sehingga namanya layak disejajarkan dengan pahlawan-pahlawan nasional lainnya?

Momentum perubahan sudut pandang dan pola pikir saya terhadap sosok RA. Kartini mulai berubah kala kurang lebih setahun yang lalu saya mengikuti National Leadership Camp 2014 PPSDMS Nurul Fikri di Jakarta. Pada pelatihan skala nasional tersebut, saya mendapatkan banyak materi. Salah satu materi adalah tentang Konsep Kepemimpinan Global yang pada waktu itu disampaikan oleh Dr. Arief Munandar. Dalam salah satu cuplikan materinya, beliau mempertanyakan mengapa Kartini ditetapkan sebagai pahlawan Nasional. Menurut beliau sosok Kartini hanyalah sosok gadis melankolis yang takut untuk bergerak secara nyata, dan hanya bisa menangis melalui tulisan surat-suratnya kepada Belanda. Beliau menambahkan mengapa yang diperingati justru RA. Kartini, bukan sosok wanita tangguh seperti Cut Nyak Dhien (Pahlawan Aceh yang berani menghunuskan rencongnya kepada Belanda), atau Dewi Sartika (Pendiri sekolah wanita pertama, Kautamaan Istri), atau Laksamana Malahayati (Panglima Perang Perempuan Angkatan Laut Aceh), atau sosok lainnya yang jauh lebih berani memberikan aksi nyata.

Tentunya, timbul pertanyaaan dalam diri kita, lalu mengapa harus Kartini. Atau barangkali timbul rasa berontak dari para pembaca sekalian, sebab mungkin teman-teman pembaca termasuk yang pro dengan kartini. Sekali lagi, tulisan saya di blog ini hanyalah gagasan saya. Saya tidak berada di pihak yang pro atau pun kontra dengan penetapan RA Kartini sebagai hari nasional. Namun, sudilah kiranya kita sebagai mahasiswa mengkaji hal-hal kecil di sekitar kita. Tentulah kita sebagai mahasiswa tak ada salahnya dalam memainkan daya nalar kritis kita, bukankah kita tahu bahwa telah terjadi banyak rekayasa sejarah?

Dalam artikel ini, saya tidak meragukan kapabilitas seorang RA Kartini. Sebagaimana yang kita tahu, bahwasanya Kartini lahir di tengah keluarga Ningrat Jawa. Ayahnya merupakan seorang Bupati. Bahkan ia pun ketika dewasa pun beristrikan Bupati Rembang. Ia juga menempuh pendidikan dan termasuk kalangan elit, dan secara kecerdasan ia pun cerdas karena mampu berbahasa belanda, yang pada waktu itu tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengakses pendidikan. Yang saya pertanyakan dan saya ragukan, mengapa justru kartini yang ditetapkan sebagai hari nasional. Adakah agenda terselubung yang terkandung di dalam penetapan ini?

 Memaknai kata “Pahlawan Nasional”

Secara resmi, Kartini tercatat sebagai Pahlawan Nasional nomor 23, ia bukanlah pahlawan nasional yang pertama. Posisinya dalam daftar urut pahlawan nasional berada di bawah Cut Nyak Dhien dan Cut Meuthia, dua pejuang Aceh yang angkat senjata melawan pendudukan Belanda. Sebelumnya sudah ada 20 pahlawan Nasional yang pada waktu itu kesemuanya laki-laki. Maka karena itulah pada waktu itu Soekarno dikritik sekaligus di desak untuk sesegera mungkin mengangkat perempuan sebagai pahlawan nasional.

Di sinilah yang patutnya dipertanyakan. Menurut saya, definisi nasional sudah jelas berarti dampak semangat perjuangannya dahulu dapat dirasakan secara nasional. Namun kebanyakan dari para pahlawan ditetapkan sebab prosesnya justru seringkali dimulai dari perayaan regionalisme, etnisitas, provinsialisme. Sehingga menurut saya, karena kartini seorang yang berasal dari Jawa, dan melihat semangat perjuangannya dahulu, kepahlawanannya bisa disebut dengan Jawanisasi.

Semakin runyam manakala hari kelahiran Kartini dirayakan sebagai hari nasional sebagai hari khusus. Menurut saya masih banyak tokoh lain yang seharusnya mendapatkan penghargaan seperti ini. Semangat perjuangan Kartini yang hanya terkungkung dalam coretan suratnya, serta terbatas di daerah jawa saja, namun harus dirayakan se-Indonesia, yang barangkali pada waktu itu daerah seperti Maluku dan Papua tidak merasakan dampak dari perjuangannya. Lalu mengapa tidak ditetapkan Hari Soekarno ? Hari Hatta ? Yang secara nyata perjuangan mereka berdua telah mencapai ke pelosok nusantara?

Sosok Populis yang Perlu Dipertanyakan

Sekitar tahun 2009 yang lalu, Jurnal Islamia (INSIST Republika) mengeluarkan edisi terbarunya. Dalam jurnal tersebut, sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar menuliskan gagasannya yang berjudul, “Mengapa Harus Kartini?”. Pada decade 1970-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya Bachtiar menggugat penetapan Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.vDalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut, tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Sebelum mengkaji lebih jauh, tentunya harus ditelusuri dulu tentang kepopuleran Kartini, asal muasalnya bagaimana. Kepopuleran sosok Kartini tidak lepas dari surat-surat yang ditulisnya kepada para sahabatnya di Eropa. Hingga akhirnya surat-surat tersebut dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Menurut Belanda, pada waktu itu Kartini adalah sosok yang berpikiran maju pada zamannya. Isi surat tersebut sebenarnya hanyalah gagasan-gagasan tentang “ketidakberdayaan” Kartini untuk bersekolah lebih tinggi, sebab pada zamannya peran wanita jauh di bawah pria, serta derajat seorang wanita pada zaman belanda saat itu harus dibawah laki-laki. “Curhatan” itulah yang mengantarkan sosok Kartini menjadi pahlawan Nasional bahkan kelahirannya diperingati setiap tahunnya. Sampai di sini tentu timbul pertanyaan, apakah hanya karena gagasan yang belum terwujudkan, Kartini bisa menjadi sosok yang begitu inspiratif dan di boomingkan namanya?

Konspirasi Belanda : Sosok yang “Aman” untuk di booming-kan 

Penetapan Kartini sebagai pahlawan Nasional tentu tidak lepas dari “jasa” Pemerintahan Hindia Belanda melalui Departemen Pendidikan, Seni, dan Kerajinan. Lahirnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang sesungguhnya bukan disusun oleh orang Indonesia, namun oleh Tuan Abendon, yang istrinya merupakan sahabat Kartini yang sering dikirimi surat di Belanda. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa Kartini dianggap sosok pembaharu, karena belanda menganggap belum pernah ada sebelumnya yang menuliskan gagasan-gagasan seperti itu, terutama terkait dengan emansipasi wanita. Ada satu hal yang menggelitik tentunya, bahwa Nyonya Abendon sendiri berada di Belanda, tentu tidak mengetahui pergerakan wanita lainnya di Indonesia, serta sejarah pergerakan kaum wanita di masa lampau di Indonesia, lalu melalu Departemen Pendidikan, Seni, dan Kerajinan berani mengeluarkan statement bahwa Kartini disebut-sebut sebagai wanita pertama yang melakukan hal tersebut. Sesungguhnya hal tersebut merupakan politik etis belaka, sebab kalau kita lihat, Kartini sesungguhnya tidak pernah menentang Belanda. Apalagi ia lahir di keluarga ningrat yang menjabat sebagai bupati yang sudah tentu pro dengan belanda. Bahkan ketika ia mendapatkan beasiswa dari Belanda, dia pun gagal berangkat karena hanya “pasrah” dinikahkan dengan Bupati Klaten sebagai istri ke-empat.

Oleh karena itulah, kartini sebagai sosok yang aman untuk diboomingkan ke permukaan dunia. Ia merupakan sosok yang tidak pernah menentang Belanda. Ia tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana untuk menentang belanda di sekolah yang ia dirikan di area Kabupatan Rembang. Ia hanya mengajarkan bagaimana menjadi anak yang baik. Pun demikian dengan surat-suratnya yang ditulis kepada kawan-kawannya di Belanda, tidak ada yang berisi penentangan kepada Belanda, terlepas kita tidak tahu apakah surat yang dibukukan tersebut merupakan otentik atau telah diubah karena yang membukukannya pun orang Belanda sendiri, bukan rakyat Indonesia.

Pasca wafatnya Kartini, pada tahun 1911 sebagaimana kita ketahui pertama kalinya buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda.

Menurut Profesor Harsja Bachtriar (1970), dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa  Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka. Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut : Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.

Komparasi Perjuangan Kartini dengan Tokoh Lainnya

Mari kembali membuka sejarah Indonesia di masa kerajaan. Terdapat sosok Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Kemudian di masa yang sama, ada sosok Dewi Sartika (Bandung) dan Rohana Kudus (Padang). Yang mereka lakukan menurut saya lebih dari Kartini, sebab mereka tidak hanya sekedar berwacana melalui tulisan belaka. Namun juga melalui aksi nyata.

Dewi Sartika (1884-1947) bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Setelah membaca pemaparan di atas, tentu masih timbul pertanyaan, masih layakkah jika Kartini tetap dirayakan sebagai hari nasional?

Penutup

Sampai sekarang pun penetapan Kartini sebagai pahlawan nasional dan hari nasional barangkali masih mengundang tanda tanya. Benarkah? Atau layakkah? Terlepas dari status kontroversi tersebut penulis tetap pada keputusan, bahwasanya semangat emansipasi wanita bukan hanya terlahir dalam sosok Kartini. Sejak zaman dahulu telah banyak dalam sejarah-sejarah kita mengenal sosok wanita-wanita tangguh. Sebutlah pada zaman Nabi Sulaiman ada sosok Ratu Balqis yang menjadi pemimpin di negaranya, ada pula Asiah yang merupakan istri Raja Fir’aun yang dengan keberaniannya mengakui keesaan Allah sekalipun bejana panas mengancam nyawanya. Pun demikian dengan sosok Khadijah, istri sekaligus ummul mukminin yang mengorbankan hartanya untuk perjuangan islam.

Terlepas dari pro dan kontra penetapan Kartini, sudah seyogianya para perempuan Indonesia tetap berkarya dan bersinergi bersama kaum pria untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik. Namun yang perlu ditekankan di sini agar seorang wanita takkan melupakan kodratnya sebagai sosok yang menjadi guru dari madrasah peradaban rumah tangga yang dibangunnya nanti. Sebab dalam islam, kewajiban perempuan ada tiga hal, yakni marátus shalihah (wanita shalihah), zaujatu muthiáh (istri yang taat) dan ummul madrasah (bunda peradaban). Pada prakteknya, peran tersebut diselaraskan dalam rangka bertawazun dalam 3 aspek kehidupan, yaitu ruhiyah, jasadiyah dan fikriyah. Sehingga emansipasi bukan berarti sekedar kesetaraan dalam segala aspek. Sebab ada aspek-aspek tertentu yang lebih layak disandang oleh kaum hawa, pun demikian ada aspek yang jauh lebih layak disandang oleh kaum adam.

Menjadikan Kartini sebagai symbol perjuangan tidaklah salah. Namun alangkah baiknya ketika kita membaca sejarah lain. Sebab masih banyak menurut saya sosok yang jauh lebih inspiratif dan terasa pergerakannya sebagai seorang wanita dibandingkan sosok RA Kartini.

 Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Mahasiswa Teknik Industri ITS Angkatan 2012

2512100037 

Referensi :

  1. http://www.komunitashistoria.com/article/2014/04/23/lebih-dari-kartini-sebuah-renungan/
  2. http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/23/mitos-kartini-dan-manipulasi-sejarah-kenapa-harus-kartini-359069.html
  3. http://www.komunitashistoria.com/article/2014/04/23/lebih-dari-kartini-sebuah-renungan/
  4. http://dipanugraha.org/2014/10/14/narasi-kartini/
  5. http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/23/mitos-kartini-dan-manipulasi-sejarah-kenapa-harus-kartini-359069.html

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *