Jilbab Paruh Waktu

Jilbab-Sekarang-Aja-YUk...

Dear Muslimah 🙂

Entah mengapa beberapa hari terakhir ini saya ingin menuliskan ini. Tulisan ini lahir murni dari kerisauan dari dalam diri saya. Tentang fenomena yang seakan menjadi hal yang biasa terjadi di akhir zaman seperti saat ini. Awal bulan ini setidaknya sudah 3 buku saya khatamkan, Api Tauhid karya Habiburrahman El-Shirazy, Cinta di Ujung Sajadah Mbak Asma Nadia, dan Ketika Mas Gagah Pergi milik Bunda Helvy Tiana Rosa. Namun entah mengapa dari kesemuanya, ada satu sudut pandang yang ingin kutuliskan dari dua novel terakhir yang saya baca.

Barangkali tulisan ini lahir pun juga karena pengalaman pribadi saya.

“Di saat teman-temanmu berlomba menggunakan jilbab saat kelulusan SMA dulu, lalu mengapa kamu memilih untuk menanggalkannya?”

Kata-kata di atas adalah curhatan salah seorang teman saya sesama pengurus rohis dulu. Saya masih ingat bahwa ia bercerita kepada saya dan beberapa teman-teman pengurus rohis lainnya. Barangkali ia terpukul sebab kejadian itu menimpa sahabatnya sendiri. Sahabat dekatnya sejak di awal masuk SMA dulu. Barangkali kita terpukul sebab ia adalah salah satu teman kami, bahkan pengurus aktif di rohis kami. Masih teringat dalam memori kami saat kami bersama-sama mengurus aneka kegiatan keislaman di SMA kami, bagaimana perjuangan dakwah kami dalam merayu dari kelas antar kelas tuk meramaikan kegiatan Ramadhan yang diselenggarakan oleh ROHIS. Bagiamana pula kami mengajak bapak ibu guru untuk datang di acara kami. Semata-mata bukan kami minta dihargai, namun lebih bagaimana agar ramadhan kali ini gema kalam illahi bisa bergaung bersama-sama di sekolah kami. Barangkali yang paling terpukul adalah saya sendiri sebab, didapuk menjadi ketua umum rohis, justru saya tidak mampu menjaga tsaqafah dan jiddiyah pengurus saya sendiri, terlebih dia sempat menjadi pengurus inti.

Dear Muslimah 🙂

Aku jujur bahwa aku pasti tak pernah tahu mengenakan kain penutup mahkotamu itu. Panaskah ketika siang hari mengenakannya? Beratkah di kepalamu ketika sepanjang hari kau mengenakannya? Atau susahkah kamu bergaul dengan teman-temanmu? Atau kuno kah dianggap oleh kawan-kawanmu? Yang aku tahu pasti ada alasan kuat kau tetap menggunakannya. Bukankah Allah memerintahkan dalam QS Al-Ahzab ayat 59 bahwasanya kau diperintahkan untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhmu? Sebab itulah aku tahu barangkali tidak mudah untuk mempertahankan jilbabmu di tengah era globalisasi seperti ini. Namun jika mengingat surga dan nikmat akhirat yang dijanjikan olehNya, masihkah kau tak mau mempertahankannya?

Dear Muslimah 🙂

Beberapa bulan ini sedikit banyak kubaca bacaan tentang sejarah sekulerisme di sebuah negara islam, sebutlah negara itu di Turki. 3 Maret 1924 barangkali menjadi hari di mana ulama’-ulama’ islam menangis, di mana islam pun dibuat terluka. Pada hari itu secara resmi kekhilafahan Dinasti Turki Utsmani dibubarkan oleh rezim Mustafa Kemal Pasha, sosok yang oleh media begitu di agung-agungkan sebagai bapak pembaharu bagi turki, padahal ia adalah antek kuat zionisme. Hingga imbasnya seteah beliau dilantik, maka perlahan islam mulai dilucuti dari jiwa masyarakat Turki. Mulai dari pemisahan sektor politik dan agama, membatasi berdirinya lembaga-lembaga islam,hingga bahkan pelarangan mengenakan jilbab di lingkungan pemerintahan dan pendidikan. Bagi mereka jilbab adalah simbol agama yang hanya dipergunakan waktu shalat saja. Bahkan puncaknya adzan di Turki pun dikumandangkan bukan dengan bahasa arab, namun dengan bahasa turki.

Kembali ke masalah jilbab wahai Muslimah. Bahkan di sana banyak para muslimah yang rela dihujat dan dikucilkan demi mempertahankan jilbabnya. Tak jarang di antara mereka yang masih memegang teguh akidahnya memilih bersekolah di swasta atau bahkan di luar Turki karena pelarangan pemakaian jilbab tersebut. Bahkan para ulama’ di sana sampai berfatwa karena kondisi darurat, jilbab pun tak masalah ketika dilepas saat akan memasuki universitas. Namun ketika keluar dari gerbang, kembali harus digunakan. Lalu ketika di sana para muslimah begitu tangguh memperjuangkan jilbabnya, tidakkah kau merasa malu manakala kau melepasnya dengan sesuka dan memakainya kala kau membutuhkannya?

Dear Muslimah 🙂

Bukankah jilbab adalah simbol kemuliaan? Bukankah Jilbab adalah identitas utama seorang muslimah? Aku membayangkan orang-orang yang bertemu denganmu tentu akan selalu menyapamu dengan kebaikan. Dengan kata-kata “Assalamu’alaikum”, atatu mungkin meledekmu “Bu Haji”, namun itu bukankah sebuah doa yang mulia? Kau pun tak perlu menutup-nutupi bagian tubuhmu yang jika kau gunakan pakaian “you can see” akan terlihat, sebab pakaianmu telah menjadi pelindung jiwa dan ragamu. Pun demikian secara tak langsung kau telah melakukan seleksi kepada calon suamimu. Sebab lelaki yang tak memiliki dasar agama yang kuat takkan mungkin mau melamarmu bukan?

Dear Muslimah 🙂

Jika kamu masih ragu dalam berjilbab, hapuskanlah. Bukankah kenikmatan surga yang tiada tara telah dijanjikanNya dalam firmanNya? Jika kamu masih belajar dalam berjilbab, percepatlah. Lakukan akselerasi dalam kebaikanmu. Jika di dunia kau mungkin begitu bersemangat mengakselerasi akademikmu, lalu bagaimana jika kau semangat dalam mengakselerasi kebaikanmu? Jika jilbabmu masih belum sempurna, maka sempurnakanlah. Bukankah Allah memerintahkan untuk mengulurkan hingga ke seluruh tubuhmu? Jika kau masih berjilbab separuh waktu, maka sadarlah. Apakah nanti di akhirat kau ingin hanya menikmati surgaNya separuh waktu saja?

Dear Muslimah 🙂

Menjadi muslimah kaffah yang sempurna barangkali hanyalah sebuah mimpi. Namun menjadi muslimah yang berizzah tuk menyempurnakan diri tidaklah mustahil ketika kau mau mencapainya. Dengan jiddiyyah dan ikhtiar kepadaNya, kau pasti akan mudah mencapainya. Bukankah sebaik-baik jaminan adalah Surga dariNya?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *