Ramadhan H-30 : Masihkah Kau Rindu Kepadanya?

H-30 Ramadhan - Masjid Hassanah Bolkiah - Brunei

Masjid Hassanah Bolkiah – Brunei Darussalam

Tulisan ini adalah tulisan ke 1/30 yang hadir untuk menyambut datangnya Ramadhan. Semoga selain menjadi countdown juga sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua.

Masih 30 hari lagi. Bagi kita barangkali 30 hari terasa biasa-biasa saja menuju ramadhan. Bagi mereka yang merindukannya 30 hari akan terasa lama. Namun bagi kamu yang tak peduli barangkali 30 hari atau 300 hari pun sama saja.

Bagi kita yang telah menantikannya, sejak sebulan yang lalu, atau H-60 Ramadhan telah membaca doa yang begitu terkenal. Doa tersebut berbunyi : “Allahumma Baariklanaa Fii Rajaba, Wa Sya’baana Wa Ballighna Ramadhaana”. Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab, Bulan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan di tahun depan. Begitulah doa tersebut seringkali dilantunkan imam masjid menjelang ramadhan saat dzikir sesudah shalat. Doa yang sederhana, namun memiliki kedalaman makna. Bahwasanya Ramadhan bukan sekedar bulan biasa. Bulan yang dirindukan dan dinanti ummat Muhammad.

Ramadhan, masihkah kau merindukannya? Jika memang kita merindukannya, lalu seperti apakah kita mempersiapkan tuk menyambutnya? Bagaimana mungkin kita tidak merindukannya, padahal Rasulullah bersabda

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil mem¬peroleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.” (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

Aku masih ingat cerita dari ayahku dulu ketika masa kecilnya. Beliau sempat menuntut ilmu di sebuah pondok di kampungnya. Setiap menjelang ramadhan, selalu diadakan syukuran besar-besaran dan pengajian untuk menyambut tamu yang begitu agung tersebut. Dan selama bulan ramadhan, diadakanlah berbagai kegiatan yang begitu padat. Di siang hari para aktivis sibuk beraktivitas dengan halaqahnya, dengan kegiatan sosialnya, serta urusan dunia lainnya. Sementara di malam hari mereka sibuk dengan air matanya, di tengah merdu tadarrus kepadaNya, terselip doa memohon ampun atas semua dosa-dosa yang diperbuat mereka.

Lalu di akhir ramadhan, ayahku menceritakan bahwa kyai beliau di pondok seringkali merenungi dan menangis dalam tiap i’tikafnya. Sebab Ramadhan akan segera meninggalkannya. Ah, bukankah itu yang disebut dengan kerinduan sesungguhnya.

Ramadhan, Masihkah kau rindu kepadanya. Sementara sekarang entah mengapa aku merasakan hal yang sebaliknya. Ramadhan cenderung disambut dengan biasa-biasa saja. Di awal ramadhan kau begitu bersemangat tuk mereguk ibadahNya. Kian hari kian berkurang jamaah tarawih, dan hari terakhir tak ubahnya seperti jamaah Subuh. Ketika kekasihmu akan meninggalkanmu, lalu mengapa kau justru memilih meninggalkannya pula? Bukankah seharusnya kau menghabiskan hari-hari terakhir bersamanya? Ketika dulu manusia mengadakan syukuran karena datangnya ramadhan, entah mengapa sekarang manusia justru mengadakan perayaan saat ramadhan akan pergi.

Ramadhan, masihkah kau rindu kepadanya. Barangkali ramadhan adalah momen membangun kebersamaan. Masih teringat ramadhan tahun lalu di mana aku dipertemukan teman-teman lamaku zaman SD dulu. Yang dua berkuliah di UGM Yogyakarta, yang satu di UB Malang, yang satu di Turki, yang satu di Jerman. Tiada keindahan selain pertemuan yang dilandasi ikatan ukhuwah, dilakukan dengan membangun kebersamaan dengan safari masjid di malam hari untuk mereguk nikmatnya iktikaf kepadaNya. Pun demikian acara buka bersama yang tiada henti-hentinya mengisi hari demi hariku selama Ramadhan, bahkan ada beberapa yang tak bisa dihadiri karena bersamaan. Ada kalanya aku juga memilih bersama keluarga sebab tiada momentum kebersamaan yang paling indah selain kebersamaan bersama keluarga.

Ramadhan, masihkah kau rindu kepadanya. Jika memang kau rindu sudah seyogianya kau mempersiapkannya. Lunasi hutang puasamu jika kau masih berhutang. Bersihkan hatimu dengan semakin mendekat kepadanya. Luruskan niatmu, kuatkan tekadmu untuk mereguk amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Kalau saja ramadhan tak pernah rindu lagi kepada kita, barangkali ia akan berdoa kepada TuhanNya, agar mengubah ruang waktu agar tak lagi melaluinya.

Ramadhan, masihkah kau rindu kepadanya?

19 Mei 2015

1 Sya’ban 1438 H

H-30 Ramadhan

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *