Ramadhan H-29: Konspirasi Semesta

H-29 Ramadhan - Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin - Brunei

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin – Brunei Darussalam

Tulisan ini adalah tulisan ke 2/30 yang hadir untuk menyambut datangnya Ramadhan. Semoga selain menjadi countdown juga sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

QS Al-Israa’ [17]:44

Begitulah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Bahwasanya alam semesta senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Ketika malam tiba, lihatlah langit. Berjuta bintang menghiasi malam. Bintang-bintang itu senantiasa berputar pada porosnya. Pun demikian planet, matahari, dan benda alam semesta lainnya. Bulan mengitari bumi, Bumi mengitari Matahari, Matahari mengitari pusat galaksi. Seakan mereka semua patuh kepada hukum Allah. Barangkali itulah hakekat Thowaf yang kira lakukan di Masjidil Haram. Di sana selama 24 jam secara terus menerus manusia berthawaf berkeliling ka’bah. Begiutulah sebagian tanda-tanda dari kekuasaan Allah.

Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya beredar dalam garis edarnya

QS Al-Anbiya [21] : 33

Maka begitulah semesta tunduk kepadaNya. Pun demikian manakala ramadhan yang akan datang, maka semesta pun berkonspirasi menyambutnya. Tiada malam-malam yang penuh suara tadarrus Quran selain malam-malam di Bulan Ramadhan. Seluruh manusia seakan menjadi berlimpah rezeki saat ramadhan. Dalam satu bulan arus pusaran ekonomi ramadhan mengalir begitu deras. Mendadak ladang mencari rezeki bertebaran di mana-mana. Sebutlah jalan-jalan dipenuhi penjual takjil, anak-anak yatim dan para fakir miskin menerima banyak sedekah, masjid-masjid pun menjadi hidup baik siang maupun malam.

Pun demikian alam semesta. Dalam sejuknya ramadhan, kita mengenal malam yang begitu diagungkan dan begitu diburu oleh ummat manusia. Malam itu adalah Lailatutul Qadar. Malam kemuliaan. Malam yang dijanjikan oleh Allah dalam firmanNya jika kita beribadah di dalamnya dan ibadah tersebut diterima, maka hal itu lebih baik dibandingkan 1000 bulan beribadah.

Maka semesta pun tak ketinggalan menyambutnya. Rasulullah bersabda, ”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.

Bahkan pagi pun menyambut semarak lailatul Qadar dengan tenang. Hal itu sesuai dengan hadis Rasulullah yang berasal dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

Bulan pun tak ketinggalan dalam menyambut Ramadhan. Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim).

Pun demikian dengan benda-benda langit lainnya. Dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan).

Begitulah semesta berkonspirasi menyambut datangnya ramadhan. Jika teman-teman pernah merasakan, tentu tak ada kenikmatan yang lebih nikmat yang mampu mengalahkan nikmatnya beribadah di malam-malam bulan Ramadhan. Penulis pun merasakan sendiri udara dan malam yang berbeda setiapkali pulang dari masjid menjelang sahur. Entah mengapa terasa aman dan tak takut adanya gangguan sedikit pun baik dari manusia atau pun dari makhluk Allah yang lainnya.

Penulis pun masih ingat manakala ramadhan tahun lalu selepas menghabiskan semalam suntuk untuk iktikaf di Masjid Jami’ Kota Malang bersama rekan-rekan rohis semasa SMA dahulu, pada waktu sahur kami melakukan ritual yang sedang nge-“trend” saat itu, Sahur on The Road. Ada rasa kebahagiaan manakala pukul 02.00 dini hari kami menuju ke lorong-lorong sempit, emperan pertokoan untuk membangunkan para pengemis yang terlelap untuk sahur bersama kami dengan makanan yang kami bawa.

Ah begitulah indahnya konspirasi semesta menyambut datangnya Ramadhan. Jika semesta berkonspirasi menyambut bulannya yang mulia, tidakkah kau merasa malu kala tak melakukan apa-apa?

20 Mei 2015

2 Sya’ban 1438 H

H-29 Ramadhan

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *