Ramadhan H-26: Kemenangan yang Terawalkan

H-26 Ramadhan - Masjid Biru Kul Sharif - Rusia

Masjid Biru Kul Sharif – Rusia

Tulisan ini adalah tulisan ke 5/30 yang hadir untuk menyambut datangnya Ramadhan. Semoga selain menjadi countdown juga sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))

Hadis di atas merupakan hadis mengenai datangnya malam kemuliaan atau dikenal pula dengan lailatul qadar. Tentulah kita semua di sini mengetahui tentang keutamaan dan kemuliaan lailatul Qadar. Malam yang hanya dimiliki oleh kita semua sebagai ummat Muhammad. 

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)

Berarti jika kita beribadah di Malam Qadar, maka jelaslah nilainya lebih baik daripada kita beribadah selama 1000 bulan. Atau selama 83 tahun lebih. Sebab itulah momentum 10 hari ramadhan seharusnya dijadikan sebagai momentum kebangkitan dan penuh semangat dalam beribadah kepadaNya.

Barangkali yang kita rasakan justru sebaliknya. Di malam-malam terakhir ramadhan, justru shaf Shalat Tarawih yang membeludak laksana Shalat Jumat di awal ramadhan, malah tinggal beberapa shaf saja. Tentu sebuah tanda tanya besar, bagaimana ketika nikmat Allah dijanjikan kepada kita semua di 10 hari terakhirnya, dan ketika nikmat itu sudah di depan mata, kita memilih meninggalkannya.

Lalu ke mana para jamaah yang sebelumnya memenuhi? Inilah yang aku sebut dengan kemenangan yang terawalkan. Kemenangan yang seolah-olah telah dirasakan oleh umat islam, padahal sesungguhnya masih belum waktunya. Ibarat mendaki gunung, ketika puncak sudah terlihat, namun kita memilih untuk melewatkannya. Mereka memiliki cara tersendiri dalam mempersiapkan hari kemenangan. Padahal bukankah cara terbaik mempersiapkan meraih hari kemenangan adalah dengan semakin mendekat kepadaNya?

Ketika kita belajar dari Rasulullah SAW, setidaknya ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil dari beliau. Yang pertama di 10 hari terakhir, beliau lebih serius melakukan amal ibadah dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Keseriusan beliau tidak hanya dalam satu jenis ibadah saja. Namun hampir semua jenis ibadah.

Yang kedua bahwasanya beliau membangunkan istri-istri beliau agar mereka dapat melakukan ibadah bersama. Hal yang menjadi pelajaran adalah bahwa beliau tidak ingin meraih keutamaan 10 hari terakhir itu hanya sendirian. Namun beliau juga mengajak keluarganya agar turut menikmatinya. Beliau mengutamakan hakikat berjamaah dibandingkan dengan munfarid atau sendiri.

Yang ketiga adalah Rasulullah pada hari-hari terakhirnya memperbanyak i’tikaf. Hal itu sekaligus menjadi pertanda bahwa beliau berusaha memutus diri dari segala aktivitas keduniaan, agar lebih konsentrasi dalam beribadah dan merasakan lezatnya ibadah di hari-hari terakhir bulan ramadhan.

Begitulah Rasulullah mencontohkan. Kemenangan yang di depan mata tentu saja akan dapat mudah diraih ketika kita memilih fokus dalam menjalani aktivitas ibadah kita. Ibarat peperangan, tinggal satu kali memukul mundur musuh, maka kemenangangan akan diraih. Fenomena yang terjadi sekarang barangkali dianggap seperti Perang Uhud dahulu. Di mana pada waktu itu, pasukan muslim sudah merasa menang, dan memilih turun bukit untuk mengambil harta rampasan perang yang merupakan kenikmatan sesaat.  Namun yang terjadi? Malah pasukan muslim mengalami kekalahan telak. Ah, barangkali itulah hakekat Kemeangan yang Terawalkan.

Kemenangan yang terawalkan setiap ramadahan selalu terulang. Memang tak sampai menyebabkan terluka , kalah, atau bermasalah seperti dahulu manakala kaum muslim berda di peperangan Uhud. Namun relakah ketika dari tahun ke tahun hanyalah kesia-siaan yang kita dapatkan?

23 Mei 2015

5 Sha’ban 1436 H

H-26 Ramadhan

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *