(Masih) Memimpikan Kampus Madani, Akankah Terwujud?

Source: ridwansyahyusufachmad.wordpress.com

Sempat beberapa tahun yang lalu saya menjalani aktivitas dakwah di Lembaga Dakwah Jurusan, dan sekarang saya kembali tergabung di Lembaga Dakwah Kampus. Visi dan misi besar kedua organisasi ini jika saya amati dari tahun ke tahun, sesungguhnya tidak jauh beda. Jika Lembaga Dakwah Jurusan berkeinginan mewujudkan jurusan yang madani, maka Lembaga Dakwah Kampus memiliki mimpi besar mewujudkan kampus madani. Namun, masih realistis kah mimpi tersebut jika melihat effort atau usaha para aktivis dakwah saat ini?

Konsepsi kampus madani sendiri barangkali tak jauh dari konsep bagaimana Rasulullah SAW membangun Madinah. Ketika itu islam mampu menguasai segala aspek dari politik, sosial, ekonomi, pertahanan, dan lainnya. Islam juga mampu diterima oleh semua golongan bahkan termasuk oleh mereka yang beragama selain islam seperti Yahudi, Nasrani, dan lainnya. Demikian pula pasca penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. Pasca penaklukkan tersebut, Muhammad Al-Fatih tidak memaksa penduduknya untuk masuk islam. Ia justru menjadikan konstantinopel jauh lebih indah, jauh lebih maju dan berkembang pesat perekonomiannya, bahkan memberikan kebebasan masyarakatnya untuk beragama. Hal itu merupakan wujud pengamalan nyata firman Allah SWT dalam Quran Surat Al-Anbiya’ ayat 109 bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam adalah rahmat seluruh alam. Begitulah dua tokoh besar masa lampau membawa islam hingga bisa diterima oleh seluruh ummat. Pertanyaannya, sudahkah konsepsi tersebut dilaksanakan secara benar oleh para Aktivis Dakwah Kampus saat ini?

Kampus Madani bukan hanya sekedar di mana semua muslim menjalankan ibadah dengan baik, namun jauh lebih dalam daripada itu. Sebuah keadaan di mana Islam telah diterima oleh semua civitas akademika baik yang muslim maupun non-muslim. Islam bukan hanya menjadi simbol dan sarana ibadah saja untuk kampus. Namun lebih dari itu, konsepsi islam bisa menjadi tempat bernaung para civitas akademikanya dengan berbagai agama, keyakinan, mulai dari jabatan rektor hingga karyawan, mulai dari dosen hingga mahasiswa.

Saya membayangkan ketika konsepsi kampus madani terwujud, maka bayangkan kampus telah menjadi sarana diskusi yang nyaman bagi mahasiswa lintas agama. Diskusi keagamaan bukanlagi antar umat islam saja, namun diskusi bahkan bisa berjalan dengan damai dan tertib antar agama, antar pemikiran, dan menghasilkan tsaqafah baru bagi peradaban. Lalu siapa fasilitator diskusi tersebut? Tentu saja kita sebagai umat islam. Generasi yang dikatakan dengan lantang dalam Al-Quran sebagai generasi terbaik sepanjang masa. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Quran Surat Ali Imron ayat 110 bahwa generasi muslim saat ini adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. Jika hal di atas terjadi, maka konsepsi islam rahmatan lil alamin bukan hanya wacana belaka, namun telah benar-benar terlaksana.

Kampus madani juga bukan mendoktrin islam secara paksa. Sebagaimana kita tahu, tentu dalam dunia kampus banyak sekali pemikiran yang mengalir. Mulai dari yang ekstrim kanan sampai ekstrim kiri. Dengan kondisi seperti itu, islam seharusnya bukan menjadi penentang, namun islam seharusnya diposisikan sebagai jembatan. Bukan jembatan antar pemikiran yang lantas dalam konteks pelaksanaanya menghubung-hubungkan antar pemikiran. Lebih dari itu seharusnya menjadi jembatan yang mampu mencari titik temu di antara pemikiran tersebut. Sebab pada hakikatnya se-menyimpang-nyimpangnya segala pemikiran, saya yakin selalu ada titik temu. Dan dari titik temu situlah islam menjadi jembatan ke arah islam yang kaffah, islam yang sempurna. Islam juga harus menjadi gerbang yang nyaman bagi mereka yang ingin memulai belajar. Islam juga harus menunjukkan eksistensinya sebagai agama yang syumul atau menyeluruh. Mampu menjawab segala aspek dan permasalahan dalam kehidupan. Ketika konsepsi kampus madani berhasil dilaksanakan, maka para aktivis tidak lagi pusing mencari peserta kajian, peserta mentoring, atau menjadi agenda kebutuhan. Sebab para objek dakwah telah menjadikan islam bukan hanya sekedar ritual, namun sebagai kebutuhan dan keinginan para civitas akademika untuk mengenal islam dengan kesadaran diri. Tentu tak lupa pula berkat hidayah dan pertolongan dari Allah SWT.

Begitulah sedikit gambaran tentang kampus madani. Jika dituliskan konsepsi kampus madani barangkali berpuluh-puluh lembar pun tak cukup, sebab kampus madani bagi saya adalah sebuah titik yang mendekati kesempurnaan (sebab tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah). Pertanyaannya akankah konsepsi tersebut terwujud suatu saat?

Mari kita berkaca kepada sejarah. Dimulai dari zaman Rasulullah SAW di mana dalam waktu hampir 23 tahun, beliau sukses melahirkan peradaban islam di bumi jazirah arab. Hal itu dilakukan dengan ghirah yang tinggi, niat yang lurus karena Allah. Sebagaimana jargon atau yel-yel yang sering dijunjung para aktivis dakwah kampus, “Allahu Ghayatuna, Ar-Rasul Qudwatuna, Al-Quran Dusturuna, Al-Jihadu Sabiluna, Al-Mautu fi Sabilillah, Asma Amanina”. Bahwa Allah adalah tujuan kami, Rasulullah tauladan kami, Al-Quran panduan kami, jihad jalan kami, wafat di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi. Pertanyaannya sekarang sudahkah slogan tersebut menancap dalam relung sanubari kita?

Semangat seperti itu pula yang barangkali belum menghujam kuat kepada diri kita, para aktivis dakwah. Barangkali kita belum merasakan bagaimana diboikot hingga kelaparan berbulan-bulan, bagaimana lemparan batu menghujam hingga membuat darah ini terkucur, bagaimana gusi ini hancur terkena panah dalam perang, bagaimana saat diludahi dan dimaki orang-orang kafir, sebagaimana cobaan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah. Namun dari situlah sebuah peradaban lahir, peradaban islam di tanah jazirah arab. Bayangkan di sebuah tanah yang dulunya penuh dengan kejahiliahan, kemaksiatan, lalu tanah itu berubah hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 2 hari menjadi sebuah tanah haram, tanah yang dirahmati oleh Allah SWT, bahkan ada bagian dari tanah tersebut nantinya dijanjikan terangkat menjadi salah satu bagian dari surgaNya kelak di hari kiamat.

Hal itu pun juga terjadi dengan para sahabat yang dalam hal ini bisa dikatakan sebagai supporting system pada gerakan dakwah yang dinahkodai oleh Rasulullah. Jangan ragukan kedermawanan para sahabat dalam menyumbangkan hartanya, tenaga, dan pikirannya. Abu Bakar pernah menginfaqkan seluruh hartanya hingga meninggalkan Allah dan RasulNya untuk keluarganya. Ada pula Thalhah bin Ubaidillah yang bahkan para sahabat pun tak percaya sosok yang telah dihujam lebih dari tujuh puluh luka di sekujur tubuhnya pada perang Uhud itu masih hidup, hingga ia mendapat julukan Syuhada’ yang berjalan di muka bumi. Ada pula Salman Al-Farisi dengan pemikiran dan kecerdikannya mampu membuat parit yang membuat pasukan kafir Quraisy terperangah dalam perang khandaq.

Pun demikian Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel. Butuh waktu 8 abad, serta berabagai percobaan serangan setelah bisyarah tersebut disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa konstantinopel akan takluk di tangan Muslim. Sementara itu sosok Muhammad Al-Fatih itu sendiri adalah sosok yang bahkan selama usia ballighnya tidak pernah melalaikan shalat malam. Sedangkan pasukannya sebesar sekitara 250.000 orang tak pernah melalaikan shalat fardhu sedikit pun. Maka dengan kekuatan seperti itu, tidak mustahil konstantinopel yang telah berabad-abad gagal ditaklukkan jatuh di tangan pemuda yang baru berusia 21 tahun.

Lalu sekarang mari kita tarik kembali pada konsepsi perwujudan kampus madani. Bahwasanya konsep tersebut tidaklah mustahil ketika sumber dayanya mumpuni. Dibutuhkan totalitas dalam berdakwah oleh para aktivis yang tergabung di dalamnya. Dan yang terpenting menjaga ghirah itu agar tidak pupus, justru menjadi semakin baik pada generasi penerus kita. Jika kampus madani adalah sebuah impian, barangkali kita harus tetap menjaga impian itu. Mengutip pernyataan Imam Syahid Hasan Al-Banna bahwa apa yang kita impikan hari ini, adalah kenyataan di masa depan. Tinggal sekarang, mampukah kita memiliki ghirah laksana para pendahulu kita?

 

Bersambung –

*Inspirasi dari Buku Menuju Kampus Madani, Ridwansyah Yusuf Ahmad*

22 Ramadhan 1436 H,

16.07

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *