Catatan #KPleri (3) : “Sudah ada Calon Iz?”

Kiri sendiri yang memegang Piala : Mas Bagus ketika kurus. Tengah pakai baju biru : Saya ketika masih imut

Kiri sendiri yang memegang Piala : Mas Bagus ketika kurus. Tengah pakai baju biru : Saya ketika masih imut

2 Agustus 2015. Berarti itu adalah weekend kedua yang saya jalani selama kerja praktik di Jakarta. Ya, weekend kali ini selain sehari sebelumnya saya mengunjungi teman-teman kontingen MTQ Mahasiswa Nasional ITS, saya juga berencana mengunjungi pernikahan senior saya di PPSDMS, ialah Mbak Uty dan Mas Denny. Akad nikah mereka dilangsungkan di sore hari, dilanjutkan dengan resepsi pernikahannya di malam hari.

Sekitar pukul 08.00 pagi saya tiba-tiba teringat akan salah seorang senior saya yang lain. Mas Bagus Surya Bahari namanya. Kami berkenelan dan pertemu kali pertama dalam sebuah event perlombaan Dai di Malang. Tepatnya pada tahun 2007 di dua event sekaligus. Yaitu di acara Dai Mboiz yang diselenggarakan IM3 dan Festival Da’i Pelajar yang diselenggarakan oleh Telkomsel. Lucunya di festival dai Mboiz ini kami sama-sama masuk final, namun tidak mendapatkan juara. Sedangkan di Festival Dai Pelajar, kami sama-sama mendapatkan juara I. Saya di kategori SMP/MTs sedangkan Mas Bagus di kategori SMA/MA. Itulah pertemuan pertama dan terakhir kami. Mas Bagus yang notabene berasal dari Bali ini jauh-jauh bersekolah di Malang, dan beberapa kali kami tetap menjalin silaturrahmi sekalipun hanya melalui SMS. Sempat putus dan tak pernah berkontak lagi *karena sepertinya kami sama-sama ganti nomor*, akhirnya sekitar September 2014 saya menemukan facebook dengan nama “Bagus Surya Bahari”. Lho kok sepertinya tidak asing, dan saya pun meng-add nya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, alhamdulillah silaturrahim itu terjalin kembali.

Percakapan di Wall FB. Setelah lama nggak kontak ._.V

Percakapan di Wall FB. Setelah lama nggak kontak ._.V

Hingga akhirnya ketika saya mendapatkan kesempatan sebulan kerja praktik di GMF AeroAsia, Tangerang. Sempat update di facebook, dan di comment oleh Mas Bagus. “Iz mampir yak kalau ada waktu, harus mampir pokoknya”. Akhirnya waktu itu tiba juga hehe ^^

Dari Universitas Indonesia, saya putuskan naik Go-Jek. Mumpung 10ribu ke semua tujuan. Hehehe ^_^”. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit, karena jalanan yang macet. Sekitar pukul 11.30, sampailah saya di sebuah rumah di daerah Cipedak. Kedatangan saya disambut istri beliau, Mbak Fay namanya *klo ga salah sebut namanya ._.V*. Ternyata Mas Bagus masih keluar sebentar. Saya pun menunggu sebentar.

Sekitar 10 menit kemudian datanglah beliau dan saya pun bersyukur. Alhamdulillah, ternyata bisa juga bersilaturrahim dengan kakak yang begitu inspiratif ini. Dan kami pun sama-sama pangling dengan kondisi “badan”. “Lho mas sampean saiki kok lueeemu ngono?” tanyaku. “Dek Faiz, saiki yo kok awakmu lemu pisan?”. Kami pun tertawa sembari bernostalgia pertemuan pertama 8 tahun yang lalu.

Mulai bertanya dari kondisi masing-masing, perjalanan hidup, sampai kesibukan masing-masing saat ini. Setelah itu saya lebih banyak mendengar petuah-petuah hidup dari Mas Bagus hehe.

“Gimana Iz, sudah ada calon?”tanya Mas Bagus. “Waduh, repot ini njawabnya hehehe,”jawabku. “Lho serius, antum kan udah tahun keempat, pasti udah ada lah minimal yang dibidik,”kata Mas Bagus. “Saya mau fokus dulu deh mas, nyeleseikan amanah dan kuliah. Kalau masalah calon mah, doain aja yang terbaik,”jawabku.

“Wah kamu ini, Mas dulu nikah muda lho sama istri. Dapatnya orang bandung sekalipun mas orang bali hehe. Saya dulu menikah kalau nggak salah sekitar 22 tahun 10 bulan. Jangan kamu kira pas saya nikah dulu kondisi udah mapan kayak gini. Ini rumah saja masih baru saya beli kok,”kata Mas Bagus. Saya pun manggut-manggut.

“Saya percaya bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Alhamdulillah, bahkan ini rumah saya beli bukan dari hasil kerja selama di Pertamina. Saya termasuk baru lho Iz masuk Pertamina itu. Rumah ini alhamdulillah dari kerja keras wirausaha, nggak ada sama sekali kaitannya dengan Pertamina. Alhamdulillah Allah berikan rezeki dari segala hal yang tidak pernah kita sangka,”katanya. Saya pun kembali lagi manggut-manggut.

“Kamu piye? Udah ada calon? Atau mau tak kenalin adik-adik kelasnya istriku di UNPAD sana? di SMAN 3 Bandung?” *yang di tanya malah ketawa sambil salah tingkah*. “Waduh mas, jangan ganggu fokus saya mas, hehee. Lulus dulu laaah wkwkwk ._.V,”jawabku.

Mas Bagus pun melanjutkan ceritanya. “Saya juga Alhamdulillah bisa diterima di PERTAMINA. Selepas dari ITB dulu saya lanjut S-2 langsung, dan habis lulus langsung ngelamar di sini. Alhamdulillah, diterima. Nah kalau kamu nanti pengen ke Pertamina, atau butuh magang, hubungi aku aja Iz, hehehe,”katanya menambahkan.

Beliau pun bercerita tentang proses seleksi dahulu di Pertamina. “Yang terpenting IP masih di atas 3, dan ada pengalaman organisasi. Bukan sekedar pengalaman saja, tapi juga apa dampak yang kamu lakukan di organisasi itu. Misal ketika jadi ketua himpunan, apa yang kamu ubah, apa yang kamu teruskan, bagaimana impactnya, dsb,”. Saya pun kembali manggut-manggut.

“Kemudian dulu ada satu pertanyaan yang mungkin udah mainstream, tapi dulu mas jawabnya anti mainstream,”kata Mas Bagus. “Apa mas?”tanyaku. “Waktu itu ditanya tentang visi hidup dan gimana skala prioritas kepada perusahaan. Kamu tahu mas jawab gimana?”tanyanya kepadaku. Aku hanya menggeleng.

“Waktu itu saya menjawab, menjadi imam yang adil. Saya ingin menjadi pemimpin yang adil, pemimpin rumah tangga dan juga di perusahaan mungkin nantinya. Ketika ditanya prioritas, mungkin kebanyakan orang akan menjawab perusahaan, tapi saya nggak dek. Saya menjawab keluarga. Keluarga adalah prioritas pertama saya. Pas itu akhirnya penguji menanyakan itu kembali, dan saya perjelas. Maksudnya adalah seandainya perusahaan mengalami kondisi genting sedangkan anak saya di rumah sakit, maka sudah pasti saya berada di rumah sakit menemani anak saya. Dalam artian tentu saja saya tidak mengutamakan kepentingan individu pada keluarga untuk senang-senang, tapi tentu saya mengutamakan perusahaan selama keluarga dalam kondisi yang baik-baik saja,”ujar Mas Bagus. Saya pun bergetar mendengarnya.

“Waktu itu aku juga menambahkan ke bapak interviewernya Iz, bagi saya seandainya saya nanti kehilangan pekerjaan itu tidak masalah. Sebab Allah membuka pintu rezeki dari mana saja, dan rezeki itu bisa dicari. Tapi seandainya saya kehilangan keluarga saya, atau rumah tangga itu hancur, saya tidak tahu harus mencarinya dari mana lagi,”. Lagi-lagi aku bergetar mendengarnya. “Dan Eh, Masya Allah, beberapa waktu kemudian pengumuman, ternyata saya diterima di Pertamina, nggak masuk akal kan sepertiya?” tanyanya kepadaku.

Pernyataan terakhir tersebut hingga sekarang pun terngiang-ngiang di benakku. Ya benar sekali, bahkan sangat benar. Bahwa keluarga memang bukan segalanya, tapi segalanya barangkali berawal dari keluarga. Mas Bagus juga menceritakan tentang temannya temannya *aduh gitu lah, maaf kalau mbulet* yang sukses menjadi seorang Vice President di sebuah perusahaan dalam usia yang masih sangat muda. Secara karir ia memang sukses, namun secara rumah tangga hancur. Sebab komitmen awal yang mereka bangun di pernikahan salah. Urusan anak dan segalanya biar istri yang mengurus. Sementara dia hanya urusan duit atau uang saja. Padahal membangun rumah tangga bukanlah soal kita berduit banyak, tapi ada keberkahan di dalam setiap keringat kita sekalipun uangnya tak seberapa.

Selepas sharing-sharing yang lumayan lama tersebut, saya beristirahat di kamar. Sembari menunggu waktu sore untuk berangkat ke pernikahan Mbak Uty. Di kamarnya saya melihat foto Mas Bagus bersama Mbak Fay mengenakan almamater ITB dan UNPAD, dengan foto memakai baju wisuda. Nah ini nih yang bikin nggak bisa tidur -_-“. Nanti aku pake almamater ITS dan….. *isi sendiri*.

Ya, hari ini banyak mendapat inspirasi. Tentang perjuangan seorang ayah muda yang berusaha menafkahi keluarganya. Sesekali saya melihat bagaimana Mas Bagus membangun ikatan emosi bersama Rasyad kecil *nama anak beliau* dengan mengajaknya bermain. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah, hingga bertemu kelak di surgaNya mas, Insya Allah :). Terima kasih atas inspirasinya mas. 😀

*Btw waktu itu lupa nggak foto ya ._.V*

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *