Catatan 2016 (3) : Anak NU, Sekolah di Sistem Muhammadiyah, Kuliah “kecemplung” Tarbiyah [1]

003-1024x683

Barangkali saya harus beryukur karena diberikan kesempatan ini oleh Allah SWT. Nahdatul Ulama’, Muhammadiyah, dan terakhir bukanlah merupakan organisasi, namun sebuah sistem, yaitu Tarbiyah. Insya Allah ketiganya sudah pernah saya rasakan. Tidak ada yang sempurna dari sistem yang ada, dan tentu saja bukan waktunya untuk terus menerus mengkritisi. Namun tentu saja membuatnya saling melengkapi.

Kalau boleh dibilang, keluarga begitu kental darah Nahdatul Ulama’nya. Kata ayah, nenek dari ibu saya dulu sempat menjadi Sekertaris Ranting Muslimat NU Trowulan, Mojokerto. Sementara nenek dari ayah saya yang menjadi Ketua Ranting Muslimat NU Trowulan, Mojokerto. Jadilah ketua dan sekertarisnya berbesanan :p.

Maka tidak heran sejak kecil saya akrab sekali dengan Islam yang mengedapankan nilai-nilai tradisi dan nilai-nilai luhur para ulama’. Kebetulan di dekat musholla rumah almarhum kakek saya, ada musholla yang dibangun oleh Mbah Buyut saya. Sudah cukup tua usianya, puluhan tahun, mungkin kalau sekarang sudah sampai 50-an tahun lebih. Di sanalah almarhum kakek saya suka meminta Faiz kecil untuk mengumandangkan azan setiap kali shalat lima waktu. Tentu saja saat saya pulang kampung saja, sebab kan saya sudah berdomisili di Malang. Sampai-sampai warga satu kampung hafal dengan suara saya, juga dengan teman-teman saya dari desa. Begitu terdengar saya azan, malamnya atau sorenya teman-teman di kampung berkumpul di rumah kakek saya terus mengajak saya bermain. Itu tandanya Faiz lagi pulang kampung 😀

Budaya selametan, tahlilan, dan lainnya juga rutin kami lakukan, apalagi jika ada keluarga kami yang meninggal. Dari awal meninggalnya, 7 harian, 40 harian, 100 hari, hingga 1000 hari. Saya sih dulu ketika masih kecil mah senang-senang saja karena apa ? Banyak makanan ! Hehehe, apalagi kue kacang buatan nenek saya, aduh, sampai sekarang saya pun bisa menghabiskan satu toples besar sendiri.

Sholawatan pun menjadi aktivitas yang tak kalah mengasikkan ketika masa kecil saya dahulu. Menggunakan terbangan (rebana) saya pun pernah memainkannya sampai-sampai telapak tangan saya merah dan usai itu kami yang masih kecil waktu itu berebut ke tempat wudhu untuk membasahi tangan dengan air dingin, wkwkwk. Shalawat Nariyah, Shalawat Badar, dan aneka shalawat lainnya sampai hafal luar kepala.

Apalagi ketika peringatan hari-hari besar. Seperti muludan (maulid nabi), isra’ mi’raj, lebaran, tahun baru islam, idul adha, selalu diiringi dengan arak-arakan. Paginya biasanya ada selametan. Kami berkumpul di langgar (musholla) kemudian di situ banyak sekali tumpeng-tumpeng yang siap dibawa. Kemudian makanan tersebut di’slameti’ alias didoakan terlebih dahulu agar membawa keberkahan. Setelah itu? Hehehe… nyam nyam nyam.

Pun demikian di keluarga saya di Malang. Sekalipun tidak sekental di Mojokerto, namun kebetulan masjid dekat rumah saya menganut sistem Nahdatul Ulama’. Sehingga setiap malam jum’at kami selalu tahlilan. Mendoakan orang-orang yang sudah meninggal, termasuk keluarga dan para pendahulu saya.

Namun satu hal yang kadang saya masih inginkan hingga sekarang ini barangkali karena orang tua saya tidak pernah mengizinkan saya untuk di pondok. Ya, baik ayah dan ibu saya sama-sama alumni pondok. Ayah saya bahkan sempat menempuh PGA di Mojokerto sebelum akhirnya bertaruh ke Malang untuk mengadu nasib di dunia perkuliahan.

Ya, setiap kali saya memohon untuk dipondokkan, yang tidak tega biasanya ibu saya. Tidak ingin meninggalkan saya, begitu katanya. Bahkan ketika dulu saya sempat berkeinginan ke Gontor, ibu saya menyarankan agar saya tetap di Malang saja. Pun demikian ketika sudah di Malang dan saya bersekolah di MTsN I Malang, saya pun juga diminta untuk tetap fokus saja di rumah >_<.

Namun pada akhirnya kini saya mencoba mensyukuri. Apalagi ketika menghadapi realita lembaga dengan sistem Muhammadiyah hingga di kampus “kecemplung” di Tarbiyah. Ternyata banyak sekali sesungguhnya nilai-nilai ke-NU-an yang bisa saya bawa di kedua organisasi tersebut. Bagaimana prosesnya? Tunggu catatan selanjutnya 🙂

Akeh kang apal, Quran Hadise…Seneng ngafirke marang liyane. Kafire dhewe gak digatekke. Yen isih kotor ati akale – Gus Dur

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *