Catatan 2016 (5) : Anak NU, Sekolah di Sistem Muhammadiyah, Kuliah “kecemplung” Tarbiyah [3]

005-1024x576

Tepat hari ini adalah 15 hari saya tidak mengupdate blog saya. Haha, bukan sengaja lho ya, tapi memang karena ada beberapa kesibukan yang menyebabkan web ini sedikit berdebu. *alasan aja, ente aja yang gak nyempatin iz iz*.  Alhamdulillah, sore ini masih diberikan kesempatan untuk menuliskan catatan yang belum kunjung usai. Catatan ke-5 sepanjang tahun 2016 ini. Masih bicara tentang kehidupan saya, kali ini seperti yang saya janjikan pada post saya sebelumnya di sini, saya akan menceritakan bagaimana ketika kuliah saya justru malah “kecemplung”nya di tarbiyah.

Perkenalan saya dengan dunia ini adalah berawal dari adanya mentoring wajib yang diselenggarakan BPM JMMI. Alhamdulillah, semester satu saya mendapat mentor yang ajiib, luar biasa. Mas Bagus, mantan Ketua OSIS SMA 5 Surabaya, yang sudah cukup tahu seluk beluk aktivis itu seperti apa. Di tengah padatnya dunia kaderisasi di Teknik Industri, seakan mentoring menjadi sebuah nutrisi tersendiri bagi saya dan teman-teman waktu itu.

Perkenalan saya di dunia tarbiyah berlanjut ketika di semester dua saya mencoba aktif di JMMI sebagai OC G-MAIL dan staff magang di Departemen Syiar *walaupun saya menghilang pada waktu itu karena sibuk dengan kaderisasi di jurusan T_T*.

Di tahun kedua, keputusan saya berpindah dengan memilih aktif di Lembaga Dakwah Jurusan sembari di BEM dan Himpunan. Di sinilah persinggungan saya dengan dunia tarbiyah makin terasa. Bagi saya, tarbiyah ini menarik, ada sistem kaderisasi yang luar biasa sesungguhnya terutama terletak di mentoringnya. Mente itu punya mentor, dan mentor itu juga harus dimentori. Begitu seterusnya sampai-sampai dipermasalahkan jika ada mata rantai yang terputus. Katanya sistem seperti ini diadopsi dari pemikir modern, Imam Hasan Al Banna. Hmm, saya pun akhirnya tertarik membaca bukunya, yaitu Risalah Pergerakan. Yang ternyata menjadi buku wajib bacaan kader dakwah di JMMI ITS.

Pada tahun kedua inilah ketika banyak bersentuhan dengan rekan-rekan tarbiyah, saya mulai mengenal konsepsi dakwah siyasi, daawi, dan ilmi. Tiga lini yang mewarnai kampus. Politik, dakwah, dan ilmu. What’s a perfect combination! Ketika lini-lini itu berhasil dikuasai, maka lahirlah sebuah peradaban kampus yang madani. Begitu kata senior-senior saya yang berkecimpung lebih dahulu. Hingga akhirnya pada waktu itu saya memutuskan diri untuk berjuang di ranah siyasi. Ranah yang sejujurnya masih baru bagi saya. Sebab manakala di MI, MTs, dan SMAN 3 dulu perjuangan saya di ranah daawi. Ternyata memang tidak mudah perjuangan saya, dan harus pada akhirnya ketika pencalonan KAHIMA di HMTI saya mengalami kekalahan. Kecewa? Tentu tidak, banyak sekali pembelajaran yang dapat saya ambil dari masa-masa menegangkan tersebut. Terutama adalah how to influence people, bagaimana cara memberikan pengaruh kepada orang lain, dan rekan baik saya, Novangga, telah mengajarkannya kepada saya. Thanks bro. You’re really good friends for me. 

Kekalahan itulah yang membawa saya pada dunia baru. Ya, pada waktu itu, dengan adanya kekosongan posisi cowok pada salah satu departemen, yaitu Departemen Keprofesian dan Keilmiahan, pada akhirnya saya ditempatkan di departemen tersebut. Keilmiahan. Satu kata yang baru bagi saya. Namun pada waktu itu saya mau, sebab niat saya satu, untuk mengabdi pada HMTI. Disamping juga bagi saya pembelajaran bisa didapatkan dari manapun saya berada.

Ternyata Allah memiliki rencananya tersendiri. Dari departemen inilah saya mengenal dan lebih mendalami bagaimana sektor lini dakwah ilmi. Bagaimana cara menempatkan wajihah wajihah prestatif dalam tataran kampus, dan mengkadernya. Ya, ternyata bagi saya ini jauh lebih menantang. Sebab, rata-rata mahasiswa ITS sudah pasti lebih aware dengan sektor siyasi, sementara sektor ilmi yang sesungguhnya merupakan core atau inti dari perguruan tinggi itu sendiri justru malah sering dinomorduakan.

Lalu bagaimana tahun keempat? Entah mengapa selepas dari himpunan, saya sesungguhnya merasa jenuh dengan dunia kampus. Saya ingin berkontribusi keluar. Entah bergabung dengan komunitas, atau mendirikan komunitas sesuai dengan passion saya. Tentunya komunitas itu adalah komunitas yang bersifat daawi. Ya, tidak bisa dipungkiri saya semacam homesick dengan asal usul saya yang besar di sektor dakwah. Dari saat dulu menjadi Dai Cilik, hingga menjadi aktivis dakwah sekolah di SKI SMANTI.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang (?). Entah mengapa amanah di JMMI datang begitu saja menghampiri saya. Dan dari hasil istikharah, perenungan, serta diskusi dengan ayah saya, akhirnya saya memilih JMMI. Bismillah. Saya datang sebagai orang luar yang bahkan mungkin nggak tahu apa-apa dibandingkan dengan rekan-rekan yang telah lama berkecimpung di JMMI. Bahkan rekan2 saya di himpunan pun banyak yang kaget ketika saya memutuskan ke JMMI, manakala saya sempat diisukan akan masuk ke BEM. Tapi saya menanggapinya santai. Karena setiap orang memiliki pilihan masing-masing dan inilah pilihan saya.

Di sinilah ternyata hikmahnya. Saya bisa mengenal lebih dalam tentang tarbiyah. Mulai dari sistemnya, mungkin sampai ke akar-akarnya. Ya, ada ketenangan sekaligus tantangan di JMMI ini. Apalagi ketika saya masuk dan dibenturkan dengan nilai-nilai professionalitas dan Tiga respect yang pernah saya dapatkan selama di himpunan. Rasa-rasanya sempat kagok juga di awal. Namun ya, lagi lagi saya mendapat pembelajaran, bahwa organisasi itu juga butuh proses. Dan saya pun memiliih melakukannya pelan-pelan hingga saat ini.

Posisi saya di JMMI di Departemen Keilmuan pada akhirnya menjadi kombinasi tersendiri akan dunia yang saya geluti. Dunia daawi dan ilmi. Sebuah pengalaman baru lagi-lagi yang saya rasakan. Tentunya masih banyak PR bagaimana agar dapat mencetak mahasiswa muslim yang prestatif dan tentunya memiliki pemahaman agama yang baik.

Ah, pada akhirnya lengkaplah sudah jelajah tarbiyah yang saya lakukan di perkuliahan ini. Berawal dari siyasi, lalu ilmi, dan terakhir di daawi. Apakah berhenti di sini saja? Tentu semoga tidak. Masih banyak pembelajaran di tempat lain yang saya rasa suatu saat saya harus mencobanya. Lalu sekarang barangkali muncul pertanyaan. Setelah NU, Muhammadiyah, dan Sistem Tarbiyah dirasakan, bagaimana saya harus bersikap? Lagi-lagi, tunggu catatan saya berikutnya :D.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *