Catatan 2016 (8): Allah, Masih Layakkah Aku Mengharap Surga?

Sumber: setyantocahyo.files.wordpress.com

Sumber: setyantocahyo.files.wordpress.com

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah : 214)

Setelah sekian lama tak menulis entah mengapa saya ingin mengawali 2 bulan terakhir kevakuman saya akan hal ini. Entah mengapa ada sebuah ayat yang akhir-akhir ini menjadi perenungan saya. Ya, Quran Surat Al-Baqarah ayat 214. Rasanya ingin menangis ketika mencoba meresapi ayat tersebut sembari membayangkan pedihnya neraka sedang surga saja sepertinya tak layak kita untuk memasukinya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)……

Ya, belum datang berbagai cobaan berat layaknya Rasulullah dan para sahabatnya dahulu kepada kita. Barangkali ujian keimanan kita sekarang hanyalah kehdupan malam, diskotik, handphone, internet, dan lainnya. Ujian kita hanyalah tekanan dari lingkungan. Ujian kita hanyalah lingkungan yang tak islami yang jauh dari tuntunanNya. Ujian kita barangkali hanyalah harta, tahta, dan wanita yang barangkali tak seberapa.

Teringat kembali akan makna sebuah hadis yang berbunyi demikian,

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta pertolongan buat kami, mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada seseorang dari mereka yang diletakkan pada ubun-ubunnya sebuah gergaji, lalu ia, dibelah dengan gergaji itu sampai kepada kedua telapak kakinya, tetapi hal itu tidak: memalingkannya dari agamanya.Ada pula yang antara daging dan tulangnya disisir dengan sisir besi, tetapi hal tersebut tidak menggoyahkan imannya dari agamanya.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Demi Allah, sesungguhnya Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari San’a ke Hadramaut tanpa merasa takut kecuali kepada Allah dan serigala yang mengancam ternak kambingnya, tetapi kalian ini adalah kaum yang tergesa-gesa.

Lihat, bahkan kita tak pernah mengalami apa yang dinamakan digergaji, apa yang dinamakan dikuliti, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin sekedar kelaparan berhari-hari pun tak pernah. Namun ketika para sahabat Rasulullah berkata kepada Rasulullah tentang keluhan mereka, bahkan Rasulullah pun masih menjawab “kalian ini adalah kaum yang tergesa-gesa”. Lalu bagaimana dengan kita?

Seringkali kita barangkali meyakini tentang keberadaan Allah namun seolah ketika cobaan datang kita justru berperilaku laksana meniadakan keberadaan Allah. Contohnya kita mengeluh, marah-marah tak jelas, semprot sana sini. Astaghfirullah marilah kita beristighfar sobat, mungkin kita sedang futur. Begitulah ketika zaman dahulu pun para sahabat Nabi pun mencurhatkan bahwa keimanan mereka pun naik turun. Itu pun dengan kondisi Rasulullah masih hidup dan mereka mendapatkan kesempatan untuk bertatap muka bersama beliau. Bagaimana dengan kita yang mengaku Ummat Muhammad di zaman sekarang?

Allah, masih layakkah aku mengharap Surga?. Sebuah pertanyaan pendek yang jawabannya tak mudah. Ketika kita merefleksikan diri terhadap ghirah para pejuang islam di masa lalu, barangkali tak ada apa-apanya. Ketika kita merefleksikan diri terhadap ilmu para alim ulama’, para asatidz,, barangkali kita laksana butiran debu. Ketika kita berkaca pada ibadahNya para pecinta sejati akan keesaaNya, bangun subuh pun masih susah. Ketika kita berkaca pada para pecinta sedekah, seribu pun masih susah. Ketika kita berkaca pada para penghafal Quran, hafalan kita pun tak bertambah-tambah.

Allah, masih layakkah ku mengharap surga?

Di tengah penatnya Tugas Akhir

Kampus TI ITS

6 April 2016, 16.46

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *