#ProfkilGoesToThailand (5-Habis) : Bermimpilah Bersama Maka Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu Bersama-Sama

Taman Chulalongkorn University

Taman Chulalongkorn University

Bahagia 27 kali

Pulang. Pada akhirnya kami kembali. Kembali ke tanah air tercinta. Di pesawat aku menyalakan laptop, sembari menyeleseikan tulisan tentang perjalanan kami. Sesekali aku melihat ketiga kawanku yang tertidur. Ada raut kelelahan di wajah mereka, namun aku yakin kami memiliki perasaan yang sama. Lega sekaligus bahagia.

Rasanya masih belum percaya jika kami dapat berangkat bersama. Tanpa bermaksud apapun, sepertinya berprestasi seorang diri rasanya sudah biasa bagiku, namun kali ini kami melakukan bersama-sama. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita melakukannya dalam kebersamaan.

Bahagia 27 kali. Barangkali inilah yang kami rasakan. Analogi 27 kali aku mengingatnya dari sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendiri, dengan keutamaan sebesar 27 derajat.

Kami memang bukan melaksanakan shalat. Bukan beribadah barangkali. Tapi titik poinnya adalah kebersamaan. Ya, Allah SWT menekankan bahwa dengan kebersamaan semua akan terasa jauh lebih indah. Barangkali itulah hakikat mengapa Allah memerintahkan dalam beribadah pun ketika dilakukan dengan berjamaah, maka janjiNya adalah balasan 27 kali lipat. Barangkali itu juga menimpa perasaan bahagiaku dan mungkin rekan-rekan seperjuanganku pada hari itu. Bahagia dua puluh tujuh kali.

Refleksi Tahun 2014

Sejenak aku mengingat pertemuan dengan mereka bertiga. Pertemuan yang tak disangka-sangka. Kalau boleh jujur, Profkil adalah departemen pilihanku terakhir ketika memilih departemen saat screening Staff BPH HMTI ITS 13/14. Akhir tahun kedua aku memutuskan mencalonkan diri menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITS. Pada akhirnya aku menjadi juara 2 (LOL).

Selepas kekalahan itu, di tahun 2014 lalu,  aku sempat selama lima hari menjadi Sekertaris Umum. Sampai ketika suatu malam, aku bertemu dengan murobbiku, Mas Mukhlis. Dan terjadilah percakapan di antara kami: *percakapan seingat saya, tidak sama persis, tapi intinya sama*

M : Piye iz kabarmu? Wes lego kan ? (Bagaimana kabarmu Iz, sudah lega kan ?)

F : Alhamdulillah selow mas, legowo wae lah, wong podo angkatane dhewe hehe. (Alhamdulillah, slow mas, udah rela lah, kan sama-sama angkatannya sendiri)

M : Wes dadi opo awakmu saiki? (Jadi apa kamu sekarang)

F : Jadi Sekum I mas, urusan eksternal, UMTI, sama pengembangan organisasi

M : Owalah… mantap wes. Trus departemen liyane wes onok peneruse ? (owalah, mantap deh. Terus departemen yang lain udah ada penerusnya?)

F : Nah iku mas, durung. Onok Profkil karo KWU. Profkil iki masalahe wedok kabeh, trus peneruse iki sing arep nerusne sek mikir2, soale dheweke kan arek Suroboyo, pasti nek dadi fungsionaris yo kudu siap mulih esuk kan, masalah dheweke omahe adoh. Nek KWU ancen iki durung onok sing arep nerusne mas sing sakjane di plot pengen aktif ning njobo, soale kondisi organisasine iku sing ning jobo luwih butuh dheweke. (Nah itu mas, belum. Ada Profkil sama Kewirausahaan. Profkil ini masalahnya perempuan semua, dan calon kadep nya itu juga masih berpikir lagi. Karena dia kan anak Surabaya, nah kalau jadi fungsionaris kan harus siap pulang pagi kan. Nah dia cewek dan rumahnya jauh. Kalau kewirausahaan memang belum ada yang mau neruskan mas, karena yang di plot seharusnya itu dia pilih aktif di luar, di organisasi yang lebih butuh dia).

M : (mikir). Kenopo awakmu gak dadi Kadept Profkil wae ? Kan awakmu sek onok bakat nulis, wingi gawe PKM toh? Trus koyoke wajah-wajahmu iku wajah-wajah scientist haha -_-” (Kenapa ga kamu aja yang jadi Kadept. Profkil aja? Kan kamu ada bakat nulis, kemarin juga bikin PKM kan? Trus kayaknya wajah-wajahmu itu wajah-wajah ilmuwan, hahaha)

F : Mas -_______-“. Piye yoh mas… Mas, biyen iku profkil iku pilihanku terakhir, yo mosok aku dadi Kadept-e ..__.. (Mas -_-“, gimana ya mas. Dulu Profkil itu pilihanku terakhir ya masa’ aku jadi kadeptnya)

M : Yo gak masalah toh. Iz, saiki awakmu kudune siap ditempatne ning endi wae. Aku ndeloke awakmu Insya Allah iso lah penyesuaian cepet. Moso’ awakmu tego karo wedok2 ngono sing ngurus sak departemen thok? (Ya gak masalah kan iz.. Seharusnya kamu siap kan ditempatkan di manapun. Aku lihatnya kamu Insya Allah bisa lah menyesuaikan. Masa kamu tega sama cewek-cewek gitu ngurus satu departemen sendiri?)

F : Hmmmm piye yo mas, yo, tapi Sekum iku kan enak seh, ga patio abot sakjane hehe. Trus yo secara posisi tapi luwih duwur dadi wakil (Hmm, gimana ya mas, tapi kan Sekum kan enak mas. Nggak terlalu berat. Trus secara posisi kan lebih tinggi jadi wakil hehe… )

M : HE LURUSNE NIATMU!!! LAPO AWAKMU NGINCAR POSISI?! SING PENTING KONTRIBUSIMU LE. DELOKEN SAIKI AWAKMU LUWIH DIBUTUHNE NING ENDI [HE ! LURUSKAN NIATMU. KENAPA KAMU MALAH MENGINCAR POSISI? YANG PENTING KONTRIBUSIMU. LIHAT SEKARANG KAMU LEBIH DIBUTUHKAN DI MANA!!!]

F : (terdiam, beristighfar). Yo wes mas mengko tak pikir-pikir maneh mas. [Ya udah mas nanti aku pikirkan lagi mas)

M : Yowes, pikirno maneh. Sing penting awakmu iku kontribusi gawe HMTI le. (Ya udah, pikirkan lagi. Yang penting kamu bisa kontribusi buat HMTI)

F : Iyo mas tak pikir-pikir maneh. (Iya mas, tak pikir-pikir lagi)

Aku masih ingat malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Ada pikiran yang mengganjal. Ke manakah kontribusi ini nantinya. Setelah semalam berpikir, esoknya aku menemui Novangga, kahima terpilih. Pada akhirnya aku yang meminta kepadanya untuk dipindahkan ke Departemen Profkil. Ya, hari itu selepas menjadi Sekertaris Umum I selama “5 hari” pada akhirnya aku berpindah. Dan di situlah awal mula aku mengenal mereka, sebagai partner yang nantinya akan bekerja selama satu kepengurusan.

Entah mengapa selama satu kepengurusan di himpunan sejujurnya aku tidak bisa merasa sepenuhnya dekat dengan mereka. Apa karena mereka cewek semua sehingga aku merasa canggung ? Mungkin, karena belum pernah aku mengalami kondisi seperti ini. Belum juga karakter mereka yang berbeda-beda.

Problem lainnya adalah kesibukan diluar Profkil. Padahal semua amanah diluar Profkil telah kulepaskan, kecuali dunia kepemanduan. Ya, masih teringat pada waktu itu adalah masa-masa internalisasi di Rumah Kepemimpinan. Kegiatan kami yang begitu padat. Bahkan pernah suatu kali ketika proker Pemilihan Mawapres, aku di tengah proker izin karena di asrama ada kegiatan. Aku pun masih ingat kala lagi-lagi meninggalkan mereka di Bulan September 2014 untuk mengikuti perlombaan di Universitas Indonesia. Kemenangan pada waktu itu rasanya pahit karena muncul kasak kusuk agar aku segera pulang. “Iz, profkil jangan ditinggalin, iz kamu itu sibuk banget…” dan seterusnya.

Sampai di situ?! Ternyata tidak. Usai itu aku mencoba kembali berfokus ke Profkil. Namun apa daya, Akhir Januari Hingga minggu ketiga Februari lagi-lagi aku meninggalkan mereka. Pada waktu itu sekitar akhir januari sampai awal februari, 25 Januari 2015 hingga sekitar tanggal 3 Februari 2015 aku pergi mengikuti konferensi di Malaysia berlanjut ke Hong Kong. Plan awal tentu saja tak bertabrakan dengan agenda himpunan dan tanggal segitu masih libur. Namun ternyata setelah terlanjur mendaftar, membeli tiket dan sebagainya, pengangkatan Mahasiswa Baru Mundur satu bulan dikarenakan berbagai konstrain. Dan tanggalnya…. bertepatan dengan pengangkatan. Allahu akbar.. ujian macam apa lagi ini yang menimpaku. Singkat cerita aku kembali mencoba mengkomunikasikan hal ini ke Kahima dan rekan-rekan fungsionaris. Pun demikian dengan rekan-rekan kabinet. Hingga akhirnya alhamdulillah mereka masih memaklumi.

Usai masalah satu, ternyata masalah lain datang. Bukan masalah namun lagi-lagi masalah timing. Awal Januari 2015 aku bersama keluargaku sebenarnya telah merencanakan Umroh bersama. Sesuai kesepakatan kami di awal Insya Allah dilaksanakan saat Januari. Sehingga tidak mengganggu kuliah dan aktivitas organisasiku. Namun yang terjadi? Karena Januari puncak musim dingin di Arab, akhirnya ayah memutuskan untuk memundurkan menjadi Februari. Ya, sebab kami umroh bersama kakek dan nenek kami, yang beliau memang sudah sepuh (tua). Kami dijadwalkan berangkat hari Selasa, tanggal 10 Februari 2015. Namun apa daya, agen perjalanan kami mendapatkan email mendadak, bahwa jadwal tiket digeser secara sepihak oleh Saudi Arabia Airlines menjadi minggu depan. Otomatis ? Kegiatan perkuliahan dan kegiatanku di Profkil semakin kacau. Lagi-lagi aku harus meminta maaf kepada teman-teman seperjuanganku.

Pada waktu itu aku hanya tertunduk. Tak terasa air mata ini menetes. Seberapa banyakkah dosa hamba ini Ya Allah jika ini memang ujian untuk mensucikan diri hamba. Setelah dilakukan berbagai lobbying, akhirnya kami bisa berangkat minggu itu juga. Pada hari Kamis, 12 Februari 2015. Namun konsekuensinya adalah karena penerbangan hanya ada hari Selasa dan Kamis, maka kepulangan kami dimundurkan pada tanggal 24 Februari 2015. Entah saya merasa bahagia atau sedih. Bahagia karena mendapat kesempatan lebih lama mengunjungi Madinah dan Makkah. Namun di sisi lain sedih, lagi-lagi amanah yang ada harus saya tinggalkan.

Di tengah kegalauan itu, Ustadz Sobri selaku pembimbing kami pada waktu itu berkata, bahwasanya hakikat umroh maupun haji adalah panggilan Allah. Barangkali memang kami tak diizinkan berangkat Selasa itu karena panggilan Allah itu sendiri baru datang pada tanggal 14 Februari.  Dan Allah berkehendak melamakan kita di rumahNya, barangkali karena Allah rindu kepada kita semua. Lagi-lagi air mataku hanya menetes.

Singkat cerita, selama di Madinah aku mencoba fokus beribadah. Kata ayah, sudah seharusnya kamu meninggalkan pikiran duniawi. Namun semakin mencoba fokus entah mengapa wallahu a’lam apakah ini syetan  yang mencoba menggoda, ataukah memang bawaanku yang selalu kepikiran. Pada waktu itu yang terpikir di benakku masalah akademik dan masalah organisasi. Hingga akhirnya pasca dari madinah, kami menuju ke Makkah. Pikiranku semakin kalut. Dan pasca pelaksanaan umroh pertama, aku jatuh sakit. Malam itu badanku begitu panas. Akhirnya di Makkah justru aku melewatkan kesempatan menyentuh Hajar Aswad karena kondisi  badanku yang tak memungkinkan. Di tengah kalutnya pikiran itu, malam itu tiba-tiba seakan Allah mengingatkanku akan sebuah firmanNya di Al-Quran Surat Ali Imran ayat 92:

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Memang bukan harta, namun organisasi dan akademik. Keduanya adalah hal-hal duniawi. Seakan di tengah sakit demam tinggi tersebut aku mendapat tamparan keras. Bahwa selama Umroh seakan aku justru menduakan Allah SWT. Seakan selama ibadah itu aku tak sepenuhnya mempercayakan urusan duniawiku kepada Allah. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Astagfirullah, ampuni aku Ya Allah. Bukankah segala kekuatan itu bersumber kepadaMu? Bukankah ketakutan-ketakutanku akan kedua hal duniawi tersebut akan teratasi jika aku mendekat kepadaMu? Allah maafkanlah aku….

Singkat cerita aku pulang tanggal 24 Februari 2016. Hampir sebulan lebih aku meninggalkan mereka. Aku masih ingat sekalipun aku meninggalkan mereka, ada buku tulis yang selalu kubawa ketika di makkah maupun madinah. Ya, buku itu berisikan doa-doa titipan. Terkhusus untuk mereka, terkhusus untuk kawan-kawanku, dan terkhusus untuk keluarga, serta untuk “dia”.  Dan masalah di Profkil pun ternyata selama aku pergi, tak pernah satu pun rapat karena sedang sibuk di IE Fair. Sementara ada proker kami yang cukup berat menanti di Bulan April. Pada akhirnya proker tersebut dapat terlaksana dengan sukses walaupun dalam persiapannya kurang maksimal.

Satu kepengurusan selesai, dan pada akhirnya kami menyeleseikan kepengurusan di Profkil dengan pencapaian yang barangkali tidak bagus-bagus amat. Pada waktu itu entah saya juga merasa gagal, dan paling bersalah. Ah, coba aku dulu tetap di Sekum, coba aku dulu mungkin ga lanjut di HMTI, mungkin beda ceritanya. Mungkin Profkil bisa lebih baik lagi. Mungkin kekeluargaan di sini bisa lebih erat lagi. Begitulah pada waktu itu pikiran itu menghantuiku.

Melunasi Sebuah Janji LPJ di SUMTI

lpj-terakhir-1024x768

Ekspresi Bahagia Setelah LPJ. Sekitar setahun lebih 7 hari, 23 Mei 2015

Aku masih ingat ketika pada waktu SUMTI atau LPJ Profkil terakhir, Mas Ginna (kadept profkil sebelumnya) berkata ketika menantang aku untuk menjadi inspirator yang militan atau apapun itu untuk membangitkan atmosfir keilmiahan di TI dan bismillah, aku menyanggupinya. Hingga pasca itu aku berpikir bagaimana bisa melakukan sendirian, dan tentu tidak optimal, ditambah perkuliahanku semester itu aku mengambil 23 SKS.

Hingga suatu malam seperti yang saya ceritakan di sini, kami pun iseng-iseng mengikuti AASIC, sebuah perhelatan yang diselenggarakan PPI Thailand. Seolah selain ingin melunasi janji, ada “dosa” lain yang ingin saya tebus. Dosa pertama adalah ketika dulu memenangkan lomba Essay di UI. Ketika waktu itu, kasak-kusuk rekan-rekan BPH HMTI beberapa orang yang seolah menganggapku terlalu sibuk, hingga muncul kata-kata “Profkil jangan ditinggal terus”. Dosa kedua adalah ketika aku meninggalkan himpunan keluar negeri dalam waktu nyaris sebulan. Dosa pertama adalah ketika aku berprestasi sendirian, dosa kedua adalah ketika aku keluar negeri juga sendirian. Seolah waktu itu adalah kesempatan untuk “menebus dosa itu”. Berprestasi bersama dan Keluar Negeri Bersama.

Man Jadda Wa Jada. Siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Man Saaro ala Darbi Wasola. Siapa yang melangkah di jalannya, maka ia akan sampai pada tujuannya. Bismillah, dan akhirnya setelah melalui perjuangan panjang seperti terlukiskan di sini, di sini, dan di sini, pada akhirnya janji itu semoga terlunasi. Janji yang telah terucap setahun silam, dan butuh waktu hampir setahun untuk melunasinya. Semoga pencapaian kami ini dapat menjadi inspirasi bagi adik-adik kami, bagi warga TI, untuk dapat meningkatkan atmosfer keprofesian dan keilmiahan di TI. Lillah… Fillah…. Billah…

Bermimpilah Bersama, Maka Tuhan akan Memeluk Mimpi Kalian Bersama-Sama

Ketika kebersamaan adalah obat dari segala kerinduan....

Ketika kebersamaan adalah obat dari segala kerinduan….

Kita barangkali berawal tidak dengan sesuatu yang sama. Namun pada akhirnya dalam perjalanan kita berusaha menyamakan visi sekalipun perbedaan itu tetap ada. Kita mungkin bukan yang terbaik, tapi setidaknya kalian telah memberikan momen yang terbaik. Sebab tanpa kalian, barangkali hidup tak se-berwarna seperti dahulu.

Uswatun Maulidiyah, Diyah. Sekertaris Departemen. Aku masih ingat dulu barangkali paling sering bertengkar sama manusia satu ini. Pernah masalah LPJ yang aku dianggap nggak peka. Pernah masalah sama Dita dan Lintang yang dinilai nggak ndeketin staff, sampai aku pun kena semprot karena dianggap nggak bisa deket sama kabinet. Di antara ketiga kabinet Profkil, mungkin dia yang paling vokal dan frontal entah itu ke saya, entah itu ke staff-staff kami.

Lintang Delia Putri, Lintang. Kabiro Keprofesian. bawaannya kalem. Tapi soal kinerja jangan ditanya, dia yang paling konsisten. Semasa staff pernah menjadi staff terbaik di Profkil, dan kadang aku sendiri tidak bisa mengikuti ritmenya. Ya, kadang dia sendiri yang membimbing staff-staff kami, mendekati secara personal, meng sms satu persatu, dan entah saya sebagai kadept yang kurang follow up ke Lintang atau ke staff-nya.

Rahmadita Filaili, Dita. Kabiro Keilmiahan, tapi entah saya merasa sektor keilmiahan juga sering di backup sama Lintang *peace*. Dulu dia cenderung tertutup, tapi dibanding Lintang dan Diyah, barangkali saya paling mudah berkomunikasi dengan dia karena cenderung lebih nyaman jika diajak bicara. Seringkali juga menjadi penyampai aspirasi dari Diyah atau Lintang kepadaku ketika mereka ngerasa saya nggak peka. Dia juga mungkin yang paling gak baperan dibanding kedua kabinet yang lainnya.

Lalu teruntuk staff-staffku: Suhawi, Bima, Tareq, Diyah, Riris, Noga, Frida, dan si kecil Pinop, yang ga bisa aku deskripsiin satu per satu, terima kasih. Barangkali karena kalianlah kami berempat sebagai kabinet menjadi lebih dewasa. Karena kalianlah yang bermacam-macam karakternya, kami menjadi belajar memahami orang. Karena kalianlah yang membuat Profkil kepengurusan kalian semua staff-nya mau melanjutkan perjuangan. Karena kalianlah barangkali kami mampu menjejak langkah di sini, di negeri Gajah Putih.

Sebab itulah teruslah bermimpi, teruslah berjuang mewujudkan mimpi itu. Sebab kami berempat telah membuktikan sendiri, ketika mimpi itu telah kami impikan bersama, Maha Besar Allah, dan Allah pun memeluk mimpi-mimpi kami bersama, dengan izinNya pun mewujudkanNya bahkan barangkali melebih dari apa yang pernah dulu kami impikan.

Apa yang kau impikan hari ini, adalah kenyataan di masa depan – Hasan Al Banna

 

Tepat Setahun lebih Seminggu pasca Profkil Renaissance 14/15 menyeleseikan LPJ-nya tertanggal 23 Mei 2015

Maaf jika belum mampu menjadi sosok yang baik dahulu, sekarang, dan mungkin di masa depan

Catatan Penutup Kisah Perjalanan ke Thailand *edisi Baper*

Kamar Kos, 30 Mei 2016

21.00

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *