Catatan 2016 (9) : Post Power Syndrome

bzl7gvmcuaenils-jpg-medium

“Rasanya bingung mau ngapain ya?”. Kalimat ini biasanya keluar begitu saja bagi para aktivis yang sudah menyeleseikan amanahnya. Ya, kesibukan mereka tak jauh-jauh setiap harinya dari Kura-Kura (Kuliah Rapat – Kuliah Rapat) atau Kuro-Kuro (Kuliah Syuro – Kuliah Syuro) hehe. Tak jarang para aktivis organisasi di kampus mengalami hal ini. Mereka yang dulunya mungkin punya kekuasaan, kesibukan, dan aktivitas lainnya seakan setelah sertijab selesai, semua hilang begitu saja.

Bahkan mungkin ada yang merasa tersisihkan dari pergaulan. Ketika dulu semasa ia menjabat, hampir setiap hari ia berinteraksi dengan pengurus hariannya, dengan adik-adik staff-nya, dengan stakeholder organisasinya, atau dengan ¬†orang-orang lain di tataran kampusnya. Ada pula yang merasa “akhirnya gue bebas juga”, lantas kerjaannya setiap hari nonton film, tidur, main, dan aktivitas-aktivitas yang justru membuatnya tidak produktif. Nah, kalau begini ini apakah bisa dikategorikn post power syndrome ?

Penyakit ini pun juga terkadang menimpa para aktivis kampus. Apalagi ketika mereka harus menghadapi kenyataan bernama “Tugas Akhir”. Eaaa Curhat. Yang dulunya bertemu banyak orang, sekarang harus sering menyendiri. Yang dulunya ke mana-mana, sekarang hanya terpaut di perpustakaan atau ruang baca. Dampak buruknya bisa saja stress dan justru membunuh naluri aktivis semasa ia menjabat dulu.

Barangkali saya pun juga sempat merasakannya. Semasa kuliah ini, ketika coba mengingat-ingat saya mungkin termasuk aktif. Tahun pertama menjadi panitia ITS Expo dan G-MAIL Lembaga Dakwah Kampus, tahun kedua bergabung di Himpunan, BEM Institut, Lembaga Dakwah Jurusan, dan Kepemanduan. Tahun ketiga di Himpunan, serta tahun ke empat di Lembaga Dakwah Kampus. Hari ini terhitung sekitar sebulan setelah saya lengser dari Lembaga Dakwah Kampus. Lantas saya ngapain aja ya waktu itu?

Ada banyak cara tentunya. Bisa kembali ke hobby lama yaitu lebih aktif menulis seperti sekarang ini, ikut lomba-lomba, sempat jalan-jalan ke Thailand, dan tentunya? Tugas Akhir hehe. Intinya kita harus paham bahwa setiap pemimpin memiliki masanya. Setiap manusia juga ada masa-masanya berjuang, ada masa-masanya menyendiri. Hujan aja memiliki siklus di dunia ini, pun demikian juga dengan hidup dan aktivitas seseorang.

Di sinilah pentingnya yang namanya lifeplanning atau perencanaan hidup. Semasa kuliah dulu di awal alhamdulillah saya sudah diajarkan membuat perencanaan hidup. Menuliskan 100 target selama perkuliahan. Sembari mencoret satu per satu entah itu jika gagal atau jika berhasil. Sehingga ga ada lagi pertanyaan, “habis ini mau ngapain?”.

Kedua tentu mencari kesibukan. Bukan sok sibuk, atau sok nggak mau nganggur. Tapi teringat perkataan murabbi saya, bahwa dunia itu perjuangan, istirahatnya cukup di surga aja. Kesibukan juga tidak harus banyak. Bisa sedikit asal istiqomah. Bisa saja satu tapi fokus *baca tugas akhir* – curhat lagi – . Atau bisa banyak tapi dengan resiko membutuhkan waktu yang cukup menyita.

Yah, pada akhirnya semua kembali kepada diri masing-masing. Selepas dari organisasi masih banyak lahan kontribusi dan lahan amal lainnya. Yang jelas, post power syndrome bukanlah sebuah pilihan. Tapi itu adalah kenyataan. Kenyataan yang harus dihindari dan dilawan dengan segala aktivitas bermanfaat lainnya.

Lab

Disela Tugas Akhir

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *