Tulisan Ramadhan #2 : Mereguk Romantisme Tuhan

Tulisan ini adalah tulisan ke 2/30 pada¬†Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ūüôā¬†

Sumber: https://cdn.nahimunkar.com/wp-content/uploads/2013/07/cinta-allah.jpg

Sumber: https://cdn.nahimunkar.com/wp-content/uploads/2013/07/cinta-allah.jpg

Kalau kata orang syawal adalah bulan yang romantis. Sebab bulan ini adalah bulan di mana Rasulullah SAW menikahi Aisyah. Beliau juga mulai membangun rumah tangganya dengan Aisyah ra. di Bulan Syawal. Pun demikian Rasulullah pada zaman itu juga suka menikahkan para wanita di Bulan Syawal. Namun entah menurutku barangkali ramadhan menyajikan romantisme Tuhan yang tak kalah dengan Syawal.

Adalah bulan di mana ketika dini hari kamu akan menjumpai sekelompok pemuda. Berjalan tertatih-tatih membawa bungkusan besar. Lalu ia hampiri bapak-bapak tua, ibu-ibu tua di jalanan yang tertidur. Memberinya sebungukus nasi untuk sahur. Bahkan suatu hari seorang pemuda memberi seorang kakek tua yang tertidur. Dibagunkannya dengan perlahan layaknya seorang anak kepada bapaknya. Kakek itu terbangun, lalu dengan jujurnya berkata, “Nak, saya tidak puasa,”. Namun pemuda itu tetap memberinya seraya berkata, “Semoga keberkahan Ramadhan menaungi bagi mereka yang masih berpuasa dan¬†yang tidak berpuasa.” Dan kakek itu hanya berlinang air mata.

Adalah bulan di mana pagi hari kamu akan menyaksikan manusia berbondong-bondong menuju masjid. Menjemput panggilan illahi rabbi. Yang biasanya nyaman tertidur pulas seolah ikut terkondisikan, entah merasa malu dengan sekitarnya, entah ingin benar-benar berhijrah walau sejenak, sekalipun semoga berhijrah selamanya.

Adalah bulan di mana manusia tak lagi canggung membawa Quran kemana-mana. Sembari membuka selembar dua lembar, seolah mereka berloma secepat mungkin menyeleseikannya. Adapula yang mentadabburinya sembari meneteskan air mata. Barangkali Quran pun berbahagia, sebab jika diluar ramadhan hanya debu dan rak buku yang menemani, kini ia basah. Basah oleh air mata para perindu kemuliaan ramadahan.

Adalah bulan di mana perisitiwa besar terjadi Sejarah banyak sekali perisitiwa besar terjadi di Bulan Ramadahan. Dimulai dengan turunnya Al-Quran, Perang Badar, Turunnya islam ke Yaman, hingga pembebasan Andalusia. Dan peristiwa besar Fathul Makkah adalah ujian kesabaran. Di mana pasukan muslim dengan jumlah sekitar 10.000 orang memasuki Makkah. Dari utara, timur, selatan, barat. Andai umat muslim waktu itu tidak sabar, pasti telah porak-porandalah Makkah dan Kaum Kafir Quraisy. Namun barangkali itulah keistimewaan puasa yang ingin mereka tunjukkan. Sebab pahala puasa besar tanpa batas. Sebab puasa setidaknya ada tiga kesabaran. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan oleh Allah, serta sabar dari takdir Allah yang mengharuskan kita lapar, haus, dan lemahnya badan serta jiwa.

Maka pasukan muslim, seakan telah tertular dan terhipnotis oleh keromantisan Allah. Dan terjadilah peristiwa penaklukkan Makkah di Bulan Ramadhan silam tanpa pertumpahan darah.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan mamuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr [110]: 1-3)

Hingga di akhir penaklukkan Rasulullah bersabda,

‚ÄúWahai kaum Quraisy! Menurut¬†pendapat kalian, tindakan apapkah yang hendak kuambil terhadap kalian?‚Ä̬†Mereka menjawab, ‚ÄúTentu yang baik-baik! Hai saudara yang mulai dan putra¬†yang mulia.‚ÄĚ Nabi SAW lalu bersabda, ‚ÄúPergilah kalian semua. Kalian¬†semua bebas.‚ÄĚ

Allahu akbar. Di tempat yang sama, 8 tahun silam, Rasulullah masih diburu untuk dibunuh dan dibantai oleh Kaum Kafir Quraisy. Lalu pasca hijrah, beliau kembali bukan untuk memburu, namun membebaskan. Adakah romantisme yang lebih baik dibandikan yang dicontohkan oleh Rasulullah?

Maka Allah, dengan penuh keromantisannya, ¬†berfirman melalui sebuah hadis Qudsi “Asshiyamulii, wa ana ajzii¬†bihii.”. Bahwa puasa itu hanyalah untukku (kata Allah), maka aku-lah yang akan membalasnya. Ibnu Hajar berkata, bahwa yang dimaksud “aku akan membalasnya” adalah keistimewaan sendiri bagi ibadah puasa. Ibadah lain seperti shalat berjamaah, kita mengetahui keutamannya sebanyak 27 derajat, tilawah sebanyak 10 kebaikan setiap hurufnya, amal jariyah dilipatgandakan sebanyak 700 kali lipat, sementara puasa? Allah merahasiakannya. Bahkan disebutkan bahwasanya Allah pun membalasnya dengan balasan yang tak terbatas.

Adapun menurut Ibnu Abdul Bar, ulama’ bergelar Hafiz Al-Maghrib yang berasal dari Andalusia berkata, bahwa makna “Puasa untuk-Ku” cukup menunjukkan keutamaannya dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Maknannya bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah dan paling mulia di sisi Allah.

Sofyan bin Uyainah, seorang Ulama’ Ahli Hadits asal Makkah¬†berkata, “Kelak ketika hari kiamat, Allah akan menghisab hamba-Nya. Dan mengembalikan tanggungan kezaliman dari seluruh amalnya hingga seluruh amal ibadah hamba tersebut habis. Kemudian tersisalah¬†hanya puasa saja. Maka Allah-lah yang akan menanggung seluruh sisa kezaliman yang ada, dan dimasukkanlah hamba itu ke dalam surgaNya.

Sekarang mari kita bayangkan. Jika kita melaksanakan puasa ramadahan selama sebulan penuh, sementara puasa adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah, bukankah kita telah mereguk romantisme-Nya? Benarlah jika nanti Allah di hari kiamat akan menanggung seluruh sisa kezaliman. Sebab Allah tak menyebutkan kuantitas balasannya. Betapa Romantisnya Allah, andai seorang hambaNya nanti di hari kiamat telah habis seluruh amal ibadahnya oleh segala kezaliman yang ia lakukan selama hidup. Barangkali nanti hamba tersebut akan takut, takut akan siksaNya, takut akan azabNya di neraka. Lalu di saat terakhir, kala menyisakan ibadah puasanya, lalu Allah ampuni dan Allah masukkan ke surgaNya.

Dan jika kita mengejar keromantisan dunia, maka tiada yang lebih baik selain keromantisan Allah kepada hamba-hambaNya. Allah, sudikah Engkau menerima puasa hamba?

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *