Tulisan Ramadhan #3: Badar, Saksi Bisu Puncak Puasa Para Mujahid

Tulisan ini adalah tulisan ke 3/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-l5UBVEOG4AE/VM7gtbKrB4I/AAAAAAAACXc/HMEOyWte-is/s1600/shalat%2Btarawih%2Bbersama%2Bimam.png

Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-l5UBVEOG4AE/VM7gtbKrB4I/AAAAAAAACXc/HMEOyWte-is/s1600/shalat%2Btarawih%2Bbersama%2Bimam.png

Beratus tahun yang lalu di sebuah tempat nan tandus di muka bumi ini. Ada banjir darah yang sedang terjadi. Ada pekikan takbir yang menggema. Ada jerit tangis dari janda-janda yang kehilangan suami tercintanya. Ada air mata sahabat-sahabat Rasulullah yang menggenang. Sebab ramadhan, Allah jadikan bulan perjuangan. Sebagaimana tertulis dengan tinta emas sejarah, tak hanya sekali. Bahkan berkali-kali Allah jadikan Ramadhan sebagai medan perjuangan yang sebenarnya. Kalau kita sekarang barangkali hanya hawa nafsu belaka, maka ummat terdahulu melawan tirani musuh yang sebenarnya.

Di sebuah cekungan antara Makkkah dan madinah, tersebutlah sebuah lembah. Lembah Badar. Tempat terjadinya perang yang bersejarah. Perang yang mempertemukan 313 pasukan muslim melawan 1000 pasukan kafir Quraisy. Dalam kondisi yang panas, tandus, di tengah gurun yang membara, pasukan muslim nan sedikit, ditambah puasa ramadhan, akal sehat mana yang mengatakan pasukan muslim akan menang?

Namun Allah betapa Maha Kuasa. Di tengah perang yang berkecamuk maha dahsyat, turunlah pasukan Allah dari langit. Haizum, nama Kuda dari Malaikat Jibril As, dengan gagahnya mendetakkan kakinya hingga debu gurun pun beterbangan. Ibnu Ishak meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

“Bergembiralah wahai Abu Bakar, pertolongan Allah telah datang. Ini adalah Jibril yang sedang memegang kendali tunggangannya di atas gulungan-gulungan debu.” 

Adapun Abu Zumail meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas berkata

“Salah seorang lelaki Muslim yang sedang menghadapi seorang musyrik di depannya menerangkan kepada kita bahawa tiba-tiba dia mendengar suara pukulan cemeti di atasnya dan suara seorang pahlawan yang mengatakan ‘Hadapilah Haizum (nama kuda tunggangan malaikat Jibril as). Lalu ia melihat lelaki musyrik itu menggeletak. Dia melanjutkan, ‘Lelaki Muslim itu mengamatinya, ternyata kepalanya telah remuk dan wajahnya terkoyak seperti (bekas) lecutan cemeti. Lalu ia menghadirkan sekelompok kaumnya. Kemudian orang Anshar itu datang dan menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Baginda bersabda, ‘Engkau benar bahawa itu bantuan langit yang ketiga. Pada hari itu mereka membunuh tujuh puluh orang (musuh) dan menawan tujuh puluh orang lainnya.”

Begitulah, barangkali itulah puncak dari ujian kesabaran umat muslim. Hingga Allah janjikan kemenangan yang mutlak, kemenangan untuk umat islam. Kemenangan yang membangkitkan semangat juang kaum muslim. Sekaligus menjadikan bukti bahwa islam adalah agama samawi, agama yang sebenar-benar agama. Agama yang berasal dari Allah SWT.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Al-Imran:123)

Adapun sebagaimana layaknya kemenangan, tentu ada pula pengorbananan. Ada beberapa pasukan muslim yang gugur syahid menemui rabb-nya. Sebutlah salah satunya Umair bin Abi Waqqash. Bocah yang baru menginjak usia remaja yang secara sembunyi-sembunyi masuk ke pasukan islam. Ia takut terketahui keberadaannya oleh Rasulullah. Sebab usianya, masih terlalu kecil. Masih terlalu belia. Pada akhirnya kakaknya, Saad bin Abi Waqqash mengetahui dan menegurnya. Hingga kemudian atas izin Allah, Rasulullah pun mengetahuinya dan melarangnya. Subhanallah, yang terjadi sosok Umair justru menangis. Ia ingin syahid di jalan Allah. Ia tetap merayu dan memohon-mohon pada Rasulullah agar turut diberangkatkan.

Pada akhirnya, Allah SWT mengabulkan keiginannya. Qadarullah, bocah kecil ini syahid menemui cinta terbesarnya, Allah SWT. Di usianya yang masih belia, di usia yang masih muda, ia telah memiliki cita-cita terbesar yang barangkali jarang dimiliki pemuda saat kini. Adalah syahid di jalan Allah. Dan ia menukar masa – masa bermain saat usia belianya dengan kemuliaan surga.

Begitulah Puasanya para Mujahid. Puasa yang menjadi energi tersendiri bagi kaum muslim. Puasa yang menjadi kekuatan spiritual bagi kaum muslim. Sebab janji Allah selalu akan datang kepada hamba-hambaNya yang tulus mencintaiNya.

 

Maka begitulah puasanya para Mujahid Dakwah. Sudah seyogianya itu menjadi refleksi diri kita. Jika kita masih malas-malasan saat berpuasa, ingatlah kisah tentang para mujahid. Mujahid yang dalam laparnya masih berjuang dengan pedangnya. Mujahid yang dalam hausnya masih berteriak takbir dengan kerasnya. Mujahid yang dalam lelahnya masih menahan berbuka. Mujahid yang merindukan berbuka di surgaNya.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *