Tulisan Ramadhan #5: Memaknai “Pengendalian Diri”

Tulisan ini adalah tulisan ke 5/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber: https://holisticelephants.files.wordpress.com/2015/06/police_dog_self_control.jpg

Sumber: https://holisticelephants.files.wordpress.com/2015/06/police_dog_self_control.jpg

Ada sebuah frasa menarik dalam ceramah Prof. Roem Rowi, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia – Jawa Timur saat tarawih di Masjid Al-Akbar hari ini, 10 Juni 2016. Frasa pengendalian diri. Ya, sekali lagi “Pengendalian Diri”. Ketika memaknai pengendalian diri lebih dalam, maka sesungguhnya maknanya sangat dahsyat.

Kembali berkaca ke sejarah tentang peristiwa-peristiwa besar di Bulan Ramadhan. Seperti perang badar, peristiwa peruntuhan Berhala Al-Uzza oleh Khalid bin Walid, Pembebasan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad, Perang Zallaqah di Portugal, Perisitiwa kalahnya Tentara Mongol oleh Dinasti Mamluk, dan berbagai peristiwa besar yang lain. Ya, sekali lagi semuanya adalah peperangan. Dalam kondisi puasa yang menahan lapar dan haus, tentara islam selalu memperoleh kemenangan.

Tentu saja bantuan Allah menyertai dalam setiap peperangan tersebut. Namun ada sebuah makna yang cukup mendalam jika dikaitkan dengan frasa “pengendalian diri”. Puasa pada hakikatnya adalah mengendalikan diri. Dari hawa nafsu, termasuk di siang hari pada hal-hal yang biasanya halal (seperti makan, minum, dan lainnya) menjadi haram dilakukan karena jelas akan membatalkan puasa.

“Pengendalian Diri” inilah sebuah kunci kemenangan islam. Di mana barangkali pada waktu itu musuh-musuh pasukan muslim tidak memilikinya. Berulang kali tentu kita membaca sejarah bahwa seorang pasukan muslim mampu menebas beberapa pasukan. Tidak hanya satu, bahkan sepuluh, berpuluh-puluh pasukan kafir tertebas oleh pedang muslim. Sebab barangkali itulah makna pengendalian diri. Seperti perang badar, dikisahkan dalam riwayat, dari 1000 melawan 313 pasukan islam, hanya sekitar 20 orang yang syahid di jalan Allah, sisanya masih selamat.

Pengendalian Diri. Membuat diri para tentara Allah berperang atas dasar Islam. Bukan atas dasar emosi. Bukan atas dasar kebencian. Sebab ketika emosi dan kebencian muncul, ia seakan membakar diri. Dan tentu terkalahkan oleh pasukan islam yang berperang atas dasar kecintaan. Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah.

Pengendalian Diri. Membuat perang yang tak dilakukan di Bulan Ramadhan pun berakhir untuk kemenangan islam. Sebab para tentara Allah telah dilatih saat Ramadhan. Hingga sejarah mencatat, sebuah perang maha dahsyat. Perang Mut’ah. Perang 3000 pasukan islam melawan 200.000 pasukan gabungan Romawi yang pada waktu itu terkenal maha dahsyat di dunia. Namun, berapakah jumlah korban yang syahid? Dituliskan dalam sejarah bahwa pasukan muslim hanya 12 orang yang meninggal ada yang menyebut 13 orang, ada bahkan riwayat yang menyatakan 8 orang. Sementara pasukan romawi, 20.000 lebih tewas dalam peperangan tersebut.

Pengendalian diri, membuat Khalid bin Walid mampu bertahan dalam ganasnya peperangan tersebut. Bahkan beliau berkata

“Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266)

Pengendalian Diri, mampu membuat umat islam berperang atas dasar kecintaan. Bukan atas dasar kebencian. Bukanpula atas dasar dendam. Hingga satu pedang pasukan muslim mampu menebas puluhan bahkan mungkin ratusan pasukan kafir. Sebab mereka benar-benar dalam “kendali diri”.

Pengendalian Diri, mampu membuat seorang yang Buta, yang semasa hidupnya memaki-maki Rasulullah kepada orang yang menyuapinya. Padahal yang menyuapi adalah Rasulullah sendiri. Hingga ketika Rasulullah meninggal dan orang tersebut mengetahui siapa yang menyuapi biasanya, maka masuklah ke dalam islam secara kaffah disertai linangan air mata.

Pengendalian Diri, mampu membuat hati seorang Umar bin Khattab, yang begitu kerasnya menentang islam, menjadi pembela terkuat panji-panji Islam saat itu. Setelah mendengar lantunan ayat Suci Al-Quran. Dan membuatnya ditakuti oleh Syaithan ketika melintas, disegani oleh lawan di siang hari. Namun di malam hari, pengendalian diri membuatnya selalu menangis. Dalam sujudnya. Dalam mihrabnya.

Lalu ibrah apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? Bahwa kemenangan, kesuksesan akan datang kepada mereka yang mampu mengendalikan diri. Pengusaha sukses karena dahulu mampu mengendalikan dirinya untuk berhemat di kala merintis usahanya. Mahasiswa sukses karena dahulu mampu mengendalikan dirinya untuk tidak tenggelam dalam kesenangan belaka.

Maka betapa dahsyatnya jika frasa “pengendalian diri” yang sedang “diujicobakan oleh Allah” di Bulan Ramadhan ini dapat kita maknai sedalam-dalamnya. Sebab pengendalian diri, kadangkala memang tidak nyaman, tidak pula nikmat, sebagaimana puasa saat siang hari. Dan saat waktu berbuka, kita pun maish dilatih untuk mengendalikan diri. Tidak makan banyak-banyak, karena ketika berlebih pun perut terasa tak nyaman.

Pengendalian diri, membuat sesuatu yang tak nikmat terasa semakin tak nikmat. Laksana puasa yang begitu tak nikmatnya menahan lapar, lalu kita mengendalikan diri untuk tidak menghabiskan diri dengan tidur, memilih mengerjakan aktivitas lainnya dengan sekuat tenaga. Pengendalian diri, membuat sesuatu yang nikmat pun berkurang kenikmatannya. Laksana buka puasa, dengan aneka macam pilihan makanan, dan kita memilih tak melahap semuanya, secukupnya saja.

Namun percayalah,sejarah telah mencatat tinta emas perjuangan pasukan islam. Pengendalian diri menjadi kunci kesuksesan dan kemenangan mereka. Maka, tidakkah kau ingin meraih kemenangan yang sama?

Asrama, setelah hampir seminggu ga mampir

Ceritanya udah kangen :”

23.43*

*Deadliner, mohon maaf kemalaman, seharian ini ada pekerjaan yang cukup menyi”TA”*

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *