Tulisan #7 : Menangislah !

Tulisan ini adalah tulisan ke 7/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

kabarmakkah-comSebutlah Umar bin Khottob. Sosok yang bahkan syetan pun takut saat melihatnya berjalan melintas. Sosok yang beberapa setelah menyatakan keislamannya, menjadi pertanda dakwah jahr (dakwah islam secara terang-terangan). Sosok yang begitu gagah ketika di peperangan. Sosok yang masa lalunya dikenal sebagai pegulat kafir, namun menjadi garda terdepan dalam pembela islam.

Namun semua berubah kala Al-Quran menerpanya. Adalah Surat Thaha yang mampu melembutkan hatinya. Sebab Umar adalah sosok yang paham akan sastra. Dan setiap mendengar bacaan Al-Quran beliau menangis. Pernah bahkan dalam sebuah jamaah shalat, tangisannya terdengar hingga shaf ketiga.

Shalahudin Al-Ayyubi, sang panglima perang penakluk, sekaligus Khalifah Dinasti Ayyubiyah, sang Pembebas Masjidil Aqsha pun menangis dalam setiap Tahajjudnya.

Menurut Imam Al Qurthubi, “Menangis bisa menjadi tanda bagi ketakutan atau kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Hamba menangis karena takut Allah, ketika Dia menunjukkan keagungan-Nya. Hamba menangis karena rindu, apabila ia mendengar keindahan sifat Allah.“ Menangis bisa juga digunakan oleh seseorang untuk menutupi kesalahannya. Tangis dengan motivasi seperti ini pernah dilakukan oleh putra Nabi Ya’kub

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis“ (Yunus 16). Malik bin Dinar berkata, “Menangis karena menyesali kesalahan mengeringkan kesalahan itu, sebagaimana angin mengeringkan daun basah.“

Sebab seberapa gagahnya para sahabat rasulullah, seberapa berkharismanya Rasulullah, sebagaimanapun kuatnya para generasi terdahulu, namun hati mereka lembut. Sebab mereka adalah gemar menangis. Menangis karena Allah. Menangis saat mengingat Allah.

Allah SWT menggambarkan sifat kekasih-kekasihNya yang shalih:

“Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’” (QS Al Israa’ : 109)

Begitulah hakikat menangis. Menangis untuk melembutkan hati. Bukan untuk menunjukkan lemahnya hati. Ada yang bilang menangis itu lemah, padahal para generasi terdahulu menjadikan tangis sebagai sumber kekuatan sekaligus kelembutan.

Kekuatan mereka adalah kala berperang. Karena tangis mereka di setiap malam lah, mereka menjadi merindukan surga. Sehingga dalam setiap tebasan pedangnya, dalam setiap derap langkah kuda-nya, selalu surga yang menjadi tujuan utamanya. Karena tangis mereka setiap malam lah, kalimat-kalimat Allah mengalir merdu di setiap siangnya. Dan karena tangis mereka lah, islam bisa ditegakkan dengan kaffah.

Menangislah selagi mampu menangis. Bahkan jika tidak mampu menangis, maka paksalah untuk menangis. Sebab lembutnya hati akan lahir dari setiap air matamu. Tiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya suatu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat yang menangis niscaya mereka akan dirahmati. Tiada suatu amal pun kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air mata. Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.

Air mata itu bukti kasih sayang yang ditanamkan oleh Allah di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang“ (HR.Bukhari dan Muslim ).

Abu Hazim berkata, “Jibril AS turun kepada Nabi saw yang disisinya ada seorang lelaki yang sedang menangis. Jibril bertanya kepada Nabi saw ‘Siapa ini?’ Nabi saw menjawab, ‘Ia adalah si Fulan.‘ Kemudian Jibril as berkata, “Sesungguhnya kami menimbang amal-amal anak Adam semuanya kecuali tangisan. Sesungguhnya Allah memadamkan lautan api neraka jahanam dengan setetes air mata.‘

Lalu bagaimana dengan kita? Barangkali kita masih gengsi. Barangkali kita masih malu jika menangis. Padahal menangis mampu melembutkan hati. Sementara tertawa mengeraskan hati. Barangkali kita selama ini seringkali justru tertawa. Rasulullah saw bersabda, “Banyak tertawa itu mematikan hati,” (HR. Ahmad).

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk memperbanyak air mata. Air mata yang semoga nanti akan menghantarkan kita ke surgaNya. Air mata cinta, Cinta kepadaNya, cinta kepada RasulNya, cinta kepada KitabNya, dan cinta kepada segala hal ketetapanNya.

Asrama

Usai Rapat Kealumnian

Kali ini telat sekian menit

00.24

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *