Tulisan Ramadhan #9 : Merencanakan Kematian (1)

Tulisan ini adalah tulisan ke 9/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

mati-medis

Sumber: http://www.skanaa.com/assets/images/news/20150801/55bc51caa81bb7cb5c8b4567.jpg

Akhir-akhir ini entah mengapa beberapa kali menerima broadcast tentang rekan seperjuangan yang harus berpulang ke rahmatullah. Entah itu teman se angkatan, ayah atau ibunda teman, saudara jauh, atau orang lain. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang karena memang sudah tua, ada yang sakit, ada yang kecelakaan, atau penyebab lain. Seolah ini menjadi reminder dari Allah bahwa kematian bisa datang kapanpun, kepada siapapun, di mana pun, dan dalam kondisi apapun.

“Kullu nafsin dzaaiqotul mauut”, setiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Begitulah firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 185. Tak hanya manusia. Hewan, tumbuhan, dan makhluk Allah lainnya pada hakikatnya akan merasakan apa yang dinamakan kematian. Begitulah sunnatullah. Ketetapan Allah. Ada panas dingin, lapar kenyang, besar kecil, panjang pendek, pun demikian dengan hidup mati. Al Khayyu – Al Qayyum, yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Itulah salah satu asma Allah yang tercantum dalam Asma’ul Husna.

Zikrul Maut, Mengingat Kematian

“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia.” (HR. Ibnu Abid-dunya).

” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian).” (HR. at-Tirmidzi).

Begitulah Rasulullah SAW menasehatkan kepada kita semua. Bahwa dengan mengingat kematian, semoga bisa membuat kita sadar, dan menjadi takut akan setiap kali jika berniat berbuat dosa. Bukankah telah banyak kisah-kisah terdahulu akan nikmat dan siksa kubur? Bukankah pula tak kalah banyak tentang kisah akan siksa kubur? Demikian pula laksana kematian yang bisa datang kapanpun, mengingat kematian bisa dilakukan kapanpun dan dimana pun. Ada baiknya dalam sehari, sisakan waktu 10 hingga 15 menit untuk mengingat sejenak. Akan persiapan kita. Akan amal kebaikan dan dosa kita. Refleksi akan ibadah kita hari itu. Sudahkah menunjukkan kesiapan akan kematian yang datangnya sewaktu-waktu?

Ada sebuah kisah yang semoga dengan ini kita mampu mengingat kematian. Kisah yang barangkali kita sudah sering mendengarnya. Sebuah kisah dari Kitab Ushfuriyah yang ditulis oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury.

Diceritakan oleh Syeikh Hasan Basri tentang apa yang beliau saksikan di sebuah pemakaman. Ada seorang gadis yang ditinggal mati ayahnya, menangis sejadi-jadinya sambil merangkul pusara ayahnya yang baru saja meninggal. Si gadis tersebut menempelkan pipinya di tanah pekuburan ayahnya sambil mendekatkan telinga, seolah ingin mendengar jawaban sang ayah dari dalam kubur.
Si gadis berkata,
“Ayah, Bagaimana rasanya tinggal di dalam kuburan yang gelap gulita tanpa penerangan ini?
Jika kemarin aku yang menyalakan penerangan untukmu, namun kini siapa yang menyalakan penerangan untukmu wahai ayah?
Jika kemarin aku yang memijitimu jika lelah, siapa yang akan memijitimu jika lelah?
Jika kemarin aku yang membuat minuman untuk ayah, siapakah yang akan menyajikan minuman untuk ayah?
Kala ayah sakit anakmu ini yang menyuapimu. Kini siapa yang akan menyuapimu wahai ayah?
Jika ayah lapar aku yang menyiapkan makananmu wahai ayah, kini siapa yang akan menyiapkan makananmu?
Jika kemarin aku yang menyelimutimu jika ayah kedinginan, sekarang siapa yang akan menyelimutimu, ayah?
Mendengar pertanyaan pertanyaan gadis itu, Syeikh Hasan Basri ikut menangis meneteskan airmata. Sambil mendekati si gadis, Syeikh Hasan Basri menasehati gadis itu.
“Wahai gadis kecil, jangan berkata kata seperti itu, berkatalah seperti ini:
Wahai ayah, kuhadapkan wajahmu ke kiblat dan semoga engkau menghadap ke kiblat, atau engkau  telah berpaling dari kiblat.
Wahai ayahanda, telah kupakaikan kafan yang terbaik apakah telah kau lepaskan.
Wahai ayah tercinta, ayah kuletakkan dikubur ini dalam keadaan jasad yang suci, masihkan ayah tetap seperti semula atau ayah telah dimakan cacing?
Wahai ayah, para Ulama berkata, yang mati akan mempertanggungjawabkan imannya dihadapan malaikat, apakah engkau ayah sudah menjawabnya dengan benar atau ayah malah tak mampu menjawabnya?
Ayah, para Ulama mengatakan, kubur kadang kadang sempit dan seram, kadang kadang lapang dan menyenangkan untuk penghuninya, ayah kebagian yang sempit atau yang lapang?
Wahai ayah, para Ulama mengatakan semua yang mati akan diganti kafannya denga kafan dari neraka atau kafan dari surga? Ayah mendapat kapan yang mana?
Wahai ayah, banyak Ulama mengatakan kubur adalah sebagai taman surga dan jurang neraka. Ayah kini berada di taman surga atau jurang neraka?
Ayah, kubur memiliki dua sifat yaitu seperti seorang ibu yang merindukan kedatangan anaknya. Untuk itu kubur menyayangi dan memanjakannya. Tapi kubur juga bersifat membenci seperti kedatangan musuhnya, jika yang datang musuhnya maka kubur menghimpit dan mengahancurkannya. Ayah bagaimana?
Ayah semoga kita bertemu bukan di neraka, tetapi dalam syafaat Allah pada hari kiamat. Aku selalu berdoa padamu ayah, mudah-mudahan engkau terhindar dari siksa kubur.

Demikianlah sebuah kisah, yang semoga selain mengingatkan kita akan kematian ada ibrah lain yang bisa kita ambil. Adalah doa anak yang shaleh dan shalihat yang nantinya akan menjadi amal yang terus mengalir sekalipun kita telah tiada. Sebab itulah, barangkali kita saat ini, marilah kita biasakan untuk mendoakan kedua orang tua kita, termasuk para pendahulu kita, kakek, nenek, buyut, canggah, dan semua keluarga kita. Agar kelak anak cucu kita pun melakukan hal yang sama.

Lalu bagaimana kematian yang datangnya tiba-tiba justru malah kita rencanakan? Apakah itu berarti kita justru beraharap datangnya kematian?

Lanjutannya besok ya, sudah mau buka puasa 😀
Kamar Kos
Sembari mentadabburi yang datangnya bisa tiba-tiba
17.17

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *