Tulisan Ramadhan #12: Teruntuk Para Aktivis Dakwah

Tulisan ini adalah tulisan ke 12/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab 4 hari terakhir situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-0WV5mEx2kKo/Tu4ewex77RI/AAAAAAAAAD4/ClLrhsvQkMo/s1600/lelah.jpg

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-0WV5mEx2kKo/Tu4ewex77RI/AAAAAAAAAD4/ClLrhsvQkMo/s1600/lelah.jpg

Kalimat judul di atas adalah peringatan para aktivis. Teruntuk para aktivis, berberhati-hatilah. Sebab seringkali aktivitas dakwah yang kita lakukan di bulan ramadhan justru membuat kita melupakan tentang esensi ramadhan yang sebenarnya. Justru membuat kita lupa akan makna ramadhan sebenarnya. Bahkan membuat kita lupa akan ibadah-ibadah yang keutamaannya telah dijanjikan oleh Allah dan Rasulnya melalui ayat-ayat kauniyah serta hadis-hadis.

Sebut saja fenomena dunia aktivis saat ini. Terlalu banyaknya kegiatan-kegiatan ramadhan, di sebuah organisasi atau di sebuah lembaga dakwah kampus justru berpotensi melalaikan kita pada hal-hal sederhana. Semisal syuro, mengurus ini itu, hingga esensi Ramadhan sebenarnya seringkali justru terlewatkan. Hingga muncul pertanyaan, Berapakah tadarrus kita dalam sehari? Berapakah jumlah shalat kita berjamaah di awal waktu dalam sehari? Masihkah malam-malam itu kita isi dengan begadang untuk memohon ampunan kepadaNya, atau jangan-jangan kita sudah lelah dalam aktivitas yang telah kita lakukan seharian?

Pertanyaan tersebut hendaknya kita ulang-ulang terus dan semoga menjadi pelecut bagi kita semua. Saya pun pernah merasakannya dahulu saat terlalu disibukkan dengan aktivitas ramadhan yang tentunya mendatangkan pahala Insya Allah, namun justru esensi ramadhan yang merupakan bulan turunnya Al-Quran pun justru terlupakan. Bahkan sampai tidak mampu mengkhatamkan Al-Quran sesuai target yang ditetapkan. Atau tidak sempat minimal mempelajari tafsirnya atau mentadabburinya. Atau juga amal ibadah lainnya yang akhirnya entah mengapa justru malah tidak menyempatkan di dalamnya.

Pun demikian dengan malam-malam yang seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk berlelah-lelah dan berlama-lama dalam bersujud di mihrabNya. Justru seringkali terlewat, bahkan kadang sahur yang sunnah sekalipun terlewatkan karena kita tidur terlalu pagi. Masih untung jika subuh masih di masjid. Bagaimana jika tidak? Wallahu a’lam. Semoga kita bukan termasuk orang-orang sepertinya.

Yang harus diperhatikan di sini adalah konsepsi tentang para aktivis sebagai pelayan keummatan. Tentu saja hal itu tidak salah. Namun sebagai pelayan ummat yang pada hakikatnya, kita bagi para ummat dianggap sebagai kepanjangan tangan Tuhan yang memberikan pertolongan. Barangkali kita pun dianggap sebagai pemimpin mereka. Jika demikian, apakah kita tidak malu ketika kita begitu dinanti oleh masyarakat untuk berbuat kebaikan dan menebar pertolongan namun kualitas ibadah kita masih jauh dibawah mereka?

Maka dari itulah sudah seyogianya tetap kita sibukkan diri di Bulan Ramadhan dengan aktivitas dakwah kita. Namun yang terpenting jangan sekali-kali melupakan esensi ramadhan tentang bulan turunnya Al-Quran. Jangan sekali-sekali melupakan ibadah-ibadah yang dianjurkan di Bulan Ramadhan. Apalagi jika kamu mampu mendapatkan malam kemuliaan, ibadahmu jauh lebih baik dibandingkan beribadah selama delapan puluh tiga tahun secara terus-terusan.

Semoga dengan membaca tulisan ini menjadi warning atau peringatan bagi diri penulis sendiri termasuk diri antum semua dalam menjalani ibadah nantinya di bulan ramadhan. Mungkin kita perlu belajar dari Khalifah terdahulu. Ketika di siang hari mereka disibukkan dengan urusan keummatan. Tengah malam pun mereka blusukan demi rakyat yang dicintainya. Namun di akhir malam mereka tetap berada di atas sajadah. Untuk memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Untuk bermunajat kepada Allah SWT. Jika para sahabat yang masih dijamin masuk surga oleh Allah saja masih melakukan demikian, bagaimana dengan kita semua? Semoga senantiasa menjadi renungan bagi kita semua.

Setelah 4 hari tanpa tulisan, karena situs dibobol dan tak bisa login T_T
Berusaha menyeleseikan apa yang telah dikomitmenkan
Kamar Asrama

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *