Tulisan Ramadhan #13: (meng)Ikhlas(kanmu)

Tulisan ini adalah tulisan ke 13/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab 4 hari terakhir situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber : http://wanitasalihah.com/wp-content/uploads/2015/01/ikhlas-menuntut-ilmu.jpg

Sumber : http://wanitasalihah.com/wp-content/uploads/2015/01/ikhlas-menuntut-ilmu.jpg

Ikhlas. Sebuah kata yang kita mengenalnya tercantum dalam Quran Surat 112, yaitu Al-Ikhlas. Maknanya juga hanya satu kata secara bahasa, yaitu “Murni”. Diceritakan dalam surat tersebut tentang kemurnian pengabdian seorang hamba kepada rabb-nya. Pengabdian kita sebagai ummat islam kepada Allah SWT. Memurnikan rasa, abdi, dan karya hanya kepadaNya dan untukNya.

Pemaknaan yang sederhana namun mendalam. Barangkali karena itulah ikhlas seringkali disebut sesuatu yang ringan di lisan namun berat di tindakan. Padahal ikhlas adalah buah intisari dari iman. Seseorang tak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-An’am ayat 162 :

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Pun demikian dengan firman Allah dalam Quran Surat Al-Bayyinah ayat 5 :

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Bahkan begitu tingginya kedudukan ikhlas, begitu besarnya keutamaan ikhlas, sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda,

“Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Begitulah ikhlas, bahkan Rasulullah menyabdakan, bahwa amal ibadah yang banyak pun tak ada gunanya jika kita tidak ikhlas.

Lalu seringkali muncul pertanyaan, bagiamana jika kita berbuat sesuatu namun berharap pamrih dari Allah? Semisal kita beribadah berharap masuk surga, berpuasa berharap diampuni dosa-dosa kita, serta lainnya. Apakah itu masuk kategori ikhlas?

Kembali lagi ke pemaknan ikhlas. Bahwa makna ikhlas, secara istilah berarti mengharap ridha Allah. Memurnikan berarti di sini kita meniatkan benar-benar bersih segala amal perbuatan kita karena Allah. Bukan karena manusia, bukan untuk yang lainnya. Bahasa aktivisnya adalah lillah (karena Allah), fillah (di jalan Allah), billah (bersama Allah). Begitulah sebaik-baik ikhlas seperti yang digariskan Allah dalam Al-Quran.

Menjadi ikhlas memang tidak mudah. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Setidak-tidaknya entah mengapa selalu ada yang mengganjal dihati sekalipun tak bermasalah di lisan. Apalagi jika kita hadapkan pada kepentingan dunia. Seringkali justru ikhlas terbentur pada hal-hal yang bersifat duniawi. Apalagi jika mencakup harta, tahta, dan wanita. 3 godaan terbesar manusia yang telah dihembuskan syetan sejak zaman dahulu.

Maka jika kamu belum ikhlas, minimal bersihkanlah dulu niatmu. Berharaplah hanya kepada Allah. Sebab barangkali ketidakmampuanmu untuk ikhlas karena banyak kotoran yang menutupi hatimu. Maka beristighfarlah, apalagi momentum sepuluh hari kedua ini adalah hari di mana pengampunan Allah di”obral”. Semoga ramadahan kali ini kita bisa belajar untuk mengikhlaskan.

Sembari berdoa agar bisa Mengikhlaskannya,
11.04

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *